Indonesia Belum Punya Alat Deteksi Tsunami Akibat Longsoran Bawah Laut

Minggu, 23 Desember 2018 - 20:27 WIB
Indonesia Belum Punya...
Indonesia Belum Punya Alat Deteksi Tsunami Akibat Longsoran Bawah Laut
A A A
YOGYAKARTA - Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut, Indonesia belum memilik alat deteksi tsunami yang diakibatkan oleh longsoran bawah laut dan aktivitas vulkanik gunung berapi. Alat deteksi tsunami yang dimiliki BMKG saat ini adalah alat deteksi tsunami yang diakibatkan gempa bumi.

“Memang alat peringatan dini tsunami yang dibangkitkan oleh longsoran dan erupsi gunung belum ada,” terang Sutopo Purwo Nugroho saat menggelar jumpa pers di kantor BPBD DIY Jalan Kenari Kenari 14 A Semaki, Yogyakarta, Minggu (23/12/2018) siang.

Sutopo menjelaskan, untuk tsunami yang disebabkan oleh gempa, BMKG dengan cepat di bawah lima menit bisa langsung mengeluarkan peringatan dini. BMKG sudah memiliki alat untuk mendeteksi tsunami yang diakibatkan gempa.
“Ini seperti yang terjadi kemarin (tsunami selat Sunda). Kejadiannya tiba-tiba tanpa ada peringatan dini dan tanda-tanda. Memang sistem peringatan dini yang diakibatkan longsoran bawah laut belum ada,” tegas Sutopo.

Sutopo menyebut belum semua daerah yang rawan bencana ada sensornya. Sutopo memperkirakan saat ini baru ada sekitar 300-400 alat sensor perngiatan dini bencana dari ratusan ribu sensor yang dibutuhkan,. “Dari ratusan ribu yang dibutuhkan baru ada sekitar 300-400. Termasuk deteksi banjir. Belum semua sungi memiliki alat deteksi dini banjir,” terang Sutopo.

Sutopo menyebut dalam peristiwa bencana yang menimpa Kabupaten Pandeglang, Serang dan Lampung Selatan ini gelombang tsunami datang secara tiba-tiba dengan ketinggian antara 2 meter hingga 3 meter. Awalnya BMKG awalnya menyampaikan peristiwa yang terjadi pada Sabtu (22/12/2018) pukul 21.27 itu adalah akibat gelombang pasang karena bersama dengan bulan purnama.
“Hasil sementara gelombang sunami ini dipicu oleh adanya longsoran bawah laut akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang bersamaan dengan gelombang pasang. Ada dua kombinasi faktor alam,” tegasnya.

Dua kombinasi faktor alam inilah yang diduga sebagai pemicu tsunami. Aktivitas Gunung Anak Krakatau selama ini juga stabil dan tidak membahayakan asal di luar zona 2 kilometer yang ditetapkan. “Setiap tahun Gunung Anak Krakatau ini juga mengalami penambahan tinggi antara 4-6 meter. Ini aman asal di luar jarak 2 Km,” terangnya.
(wib)
Berita Terkait
Gunung Anak Krakatau...
Gunung Anak Krakatau Erupsi Letusannya Terdengar Keras hingga ke Pesisir Banten, Warga Cemas Ada Tsunami
Gunung Anak Krakatau...
Gunung Anak Krakatau Picu Tsunami 2018 hingga Tewaskan 400 Orang, Ini Penyebabnya
Jumat Legi Gunung Anak...
Jumat Legi Gunung Anak Krakatau Kembali Meletus, Warga Pesisir Cemas Ada Tsunami
Ahli Ingatkan Potensi...
Ahli Ingatkan Potensi Tsunami Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau Seperti 2018
Aktivitas Gunung Api...
Aktivitas Gunung Api Meningkat, Waspadai Letusan Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau...
Gunung Anak Krakatau Erupsi Muntahkan Material Vulkanik Setinggi 3 Km
Berita Terkini
Dinkes Apresiasi Operasi...
Dinkes Apresiasi Operasi Bibir Sumbing Gratis MNC Peduli dan RS Azra Bogor
37 menit yang lalu
MNC Peduli dan Yayasan...
MNC Peduli dan Yayasan Jalinan Kasih Sudah Operasi Lebih dari 5.000 Pasien Bibir Sumbing Sejak 2004
2 jam yang lalu
Gelar Operasi Sumbing...
Gelar Operasi Sumbing Gratis, MNC Peduli dan Smiletrain Indonesia Gandeng RS Azra Bogor
2 jam yang lalu
Energy Executive Award...
Energy Executive Award 2026 Tegaskan Pentingnya Kepemimpinan Wujudkan Ketahanan Energi
2 jam yang lalu
Pembangunan Jalan Tol...
Pembangunan Jalan Tol Akses Pelabuhan Patimban Capai 68%
4 jam yang lalu
Pemberdayaan Masyarakat...
Pemberdayaan Masyarakat Unusa, Tingkatkan Kesadaran tentang Penyakit Kulit
5 jam yang lalu
Infografis
Gunung Berapi Bawah...
Gunung Berapi Bawah Laut Jadi Ancaman AS setelah Kebakaran Hutan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved