Warga di Desa Ini Tetap Tegar Hadapi Intimidasi Politisi

Jum'at, 30 November 2018 - 09:58 WIB
Warga di Desa Ini Tetap...
Warga di Desa Ini Tetap Tegar Hadapi Intimidasi Politisi
A A A
CIAMIS - Hujan deras sejak lepas subuh membuat jalanan di Desa Muktisari, Cipaku, Kabupaten Ciamis, berlumpur dan penuh genangan. Air hujan masih jatuh dari langit meski sudah menjelang tengah hari.

Kotoran ayam yang bercampur dengan air hujan menimbulkan bau tak sedap. Desa di perbukitan ini, terkenal sebagai tempat peternakan ayam petelur. Meskipun demikian, kondisinya dan desa-desa sekitarnya jauh dari modern.

Padahal, jaraknya tak sampai 15 kilometer dari pusat kota. Sinyal seluler pun timbul tenggelam, bahkan untuk menikmati siaran televisi, harus melalui layanan televisi kabel berlangganan.

"Kalo listrik tidak ada masalah, tapi untuk sinyal handphone susah, jadi warga di sini tidak bisa tahu informasi dari facebook," ujar Mukhlisin (55), petani yang juga Ketua RT di Dusun Panyingkiran, Muktisari bercerita kepada SINDOnews, akhir pekan lalu.

Suasana di desa ini cukup tenang, udaranya pun sejuk. Meskipun akses untuk menuju kawasan ini cukup mudah, namun kondisi jalannya jauh dari kata layak. Jawa Barat diperkirakan sebagai 'medan tempur' paling panas pada pemilu legislatif dan pemilihan presiden (pilpres) tahun depan. Namun, atmosfer di desa itu jauh dari hiruk pikuk perseteruan antarpendukung calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) seperti yang terjadi di kota.

"Baru ramai kalau ada pemilihan kepala desa. Kadang ditakut-takuti kalau tidak memilih nanti jalan desa tidak diperbaiki," ujarnya.

Mukhlisin mengatakan, dari beberapa kali pemilihan desa, pendukung calon yang kalah selalu diabaikan. Dia memberi contoh, jalan di desanya yang tak pernah diperbaiki karena warga desa sebagian besar tidak menggunakan hak suaranya dalam pemilihan kepala desa.

Sudah 14 tahun jalan di desa itu tak pernah mulus. Alhasil, warga terpaksa melakukan perbaikan jalan secara swadaya. Itu pun dilakukan di jalan yang kondisi kerusakannya sangat parah. "Tapi baru enam bulan rusak lagi," katanya.

Intimidasi kepada masyarakat juga masih terjadi di desa-desa lain. Meskipun, intimidasi dilakukan sebatas verbal, setidaknya itu yang dialami Arief (43), warga Babakan, Baregbeg Kabupaten Ciamis. Desa ini berdekatan dengan Muktisari, namun beda kecamatan.

"Waktu pemilihan Bupati beberapa bulan lalu warga ada yang mendapat teror, diarahkan untuk memilih calon yang didukung oleh oknum petinggi desa, karena satu partai," katanya.

Padahal, ada larangan bagi aparatur desa untuk terjun dalam politik praktis, apalagi sebagai anggota partai politik. Arief mengungkapkan, warga sempat ketakutan saat oknum petinggi desa melakukan ancaman serius. "Pernah diancam kalo macam-macam dan tidak nurut sama dia. Dicontohkan, dia kalau menyakiti orang bisa lewat tangan orang lain. Misalnya ditabrak di jalan seperti kecelakaan," katanya.

Meskipun ancaman itu sudah dilaporkan kepada pihak berwenang, termasuk pelanggaran kampanye saat pemilihan bupati beberapa waktu lalu, namun hingga saat ini laporan itu tidak ada tindak lanjutnya. Warga merasa tak berdaya dan berpikir panjang untuk terus mempermasalahkan intimidasi itu.

"Malahan yang melaporkan sekarang di teror terus. Pernah masalah ini di liput wartawan, tapi ya tetap saja tidak ada pengaruhnya,’’ tuturnya.

Arief menceritakan, meskipun warga tetap tegar menghadapi intimidasi, namun yang dikhawatirkan, warga akan dipersulit saat mengurus dokumen-dokumen. Seperti surat keterangan miskin maupun untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah yang harus melalui rekomendasi desa.

Maklum saja, kondisi warga di desa itu sebagian besar dari kalangan miskin. Sehingga yang paling penting bagi mereka adalah bisa bekerja dengan tenang.

Kini, menjelang pemilu, banyak politisi berkunjung ke desa itu. Tak hanya orangnya, gambar wajah sang politisi berukuran besar pun juga terpampang di banyak sudut desa. Ada yang sudah menebar janji-janji seperti yang dilakukan pada 2014 silam.

"Pemilu yang lalu warga sangat gembira karena ada politisi yang siap memperbaiki jalan, menyediakan air bersih dan memperbaiki masjid di pondok pesantren di desa kami," kata Mukhlisin.

Sayangnya, hingga sekarang, janji itu tak pernah terealisasi. Bahkan, politisi itu kini datang lagi untuk meminta dukungan warga.
(rhs)
Berita Terkait
Pemecah Batu dan Pemulung...
Pemecah Batu dan Pemulung di Pangkep Butuh Bantuan Sosial
Data Penerima Bantuan...
Data Penerima Bantuan Sosial di Bulukumba Amburadul, Bupati Desak Pembenahan
10 Negara Termiskin...
10 Negara Termiskin di Dunia, Anehnya Mayoritas Justru Kaya Tambang Minyak dan Emas
Presiden Pertama India...
Presiden Pertama India dari Suku Terpinggirkan: Orang Miskin Bisa Bermimpi
Pasangan Lansia Miskin...
Pasangan Lansia Miskin di Pekalongan Tidur Bareng Ayam Peliharaan
Bedah Rumah Warga Miskin...
Bedah Rumah Warga Miskin Ekstrem di Pemalang
Berita Terkini
Ketua HMI Merauke: PSN...
Ketua HMI Merauke: PSN Harus Tingkatkan Pendidikan dan Kesejahteraan Orang Asli Papua
15 menit yang lalu
Polisi Sudah Periksa...
Polisi Sudah Periksa 10 Saksi di Kasus Dugaan Penghinaan Profesi Wartawan oleh Hotman Paris
21 menit yang lalu
118 Mangrove Rusak di...
118 Mangrove Rusak di Riau, Kapolda: Tidak Ada Ruang bagi Pelaku
1 jam yang lalu
Penahanan Babe Aldo...
Penahanan Babe Aldo di Polda Kalsel, Pengacara Mencium Dugaan Ada Pesanan
1 jam yang lalu
Perkuat Desa Bugisan...
Perkuat Desa Bugisan Klaten, Pendapatan UMKM di Wisata Candi Plaosan Meningkat
1 jam yang lalu
Gempa Magnitudo 5,5...
Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Sarmi Papua Sore Ini
2 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved