Suplai Air Bersih di 27 Kelurahan di Jakarta Barat Kembali Normal

Suplai Air Bersih di 27 Kelurahan di Jakarta Barat Kembali Normal
A
A
A
JAKARTA - Suplai air terhadap 27 Kelurahan di Jakarta Barat kembali normal. Perbaikan pipa berdiamter 500 milimeter di kawasan Jalan Lapangan Bola, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sudah selesai. Air bersih pun sudah dapat dinikmati kembali oleh masyarakat.
Corporate Communications & Social Responsibilities Division Head PALYJA, Lydia Astriningworo, mengatakan, sejak pagi tadi kebocoran pipa sudah ditangani pihaknya. “Sudah ditangani, sudah kembali normal,” kata Lydia, Rabu (7/11/2018).
Sebelumnya, 27 kelurahan di 5 kecamatan di Jakarta Barat terganggu setelah pipa di kawasan Jalan Lapangan Bola, Kebon Jeruk, Jakarta Barat retak beberapa hari lalu. Untuk memaksimalkan pengerjaan, Palyja sempat memutuskan sementara suplai air, sehingga berdampak terhadap suplai air di sejumlah kawasan. (Baca juga: Pipa Air Bocor, 28 Kelurahan di Jakarta Barat Krisis Air Bersih)
Terhadap kejadian ini, Playja sendiri meminta maaf sebesar besarnya kepada pelanggan yang sempat terganggu akibat perbaikan, terutama mereka yang tidak dapat menikmati air bersih karena suplai terganggu. (Baca: Pipa PAM Bocor, Ruas Jalan Lapangan Bola Jakbar Tergenang)
Sembari menunggu pasokan air kembali normal, Palyja mengaku sudah melakukan distribusi air terhadap sejumlah tempat ibadah, sekolah, dan rumah sakit menggunakan truk tangki air. Suplai dilakukan agar tak mengganggu pasokan air. “Sejak kemarin kami melakukannya,” sebut Lydia.
Terpisah, Akmal (28), warga Rawa Buaya, Cengkareng, mengatakan sejak pukul 09.00 WIB tadi Air PAM miliknya sudah mulai mengalir. Meski demikian, dibandingkan sebelum pipa bocor, debit air yang dihasilkan belum begitu banyak. Karena itu, ia terpaksa membeli air melalui gerobak-gerobak air yang dijual berkeliling di wilayahnya.
Kondisi berbeda justru terjadi di kawasan Komplek Badan Pemeriksa Keungan (BPK), Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sejumlah warga mengakui perbaikan pipa di Kebon Jeruk tak berpengaruh dengan suplai di wilayah. Para warga mengaku sudah sepekan suplai air bersih mati di wilayah setempat. “Sebelum bocor juga sudah mati,” kata Tito (29), salahs seorang warga kepada wartawan.
Komplek BPK berada di Jalan Raya Kebon Jeruk atau sekitar 500 meter dari lokasi bocornya pipa. Mereka mengaku kecewa dengan penanganan Palyja, sebab sebagai warga mereka terbilang taat membayar tagihan dan tak menunggak.
Demi membantu suplai air bersih, Tito dan sejumlah warga lain menggunakan air tanah. Proses penyulingan dilakukan dengan membuat beberapa filterisasi air dengan menempatkan di galon besar atas rumah.
Terhadap kondisi ini, Tito mengharapkan Palyja turun tangan dan membenahi kondisi air yang terjadi di wilayahnya. Sebab, apabila dibandingkan air tanah, air melalui Palyja jauh lebih baik. Selain jernih dan tak bau, air itu sangat nyaman untuk mandi karena tak membuat badan mudah lengket.
Corporate Communications & Social Responsibilities Division Head PALYJA, Lydia Astriningworo, mengatakan, sejak pagi tadi kebocoran pipa sudah ditangani pihaknya. “Sudah ditangani, sudah kembali normal,” kata Lydia, Rabu (7/11/2018).
Sebelumnya, 27 kelurahan di 5 kecamatan di Jakarta Barat terganggu setelah pipa di kawasan Jalan Lapangan Bola, Kebon Jeruk, Jakarta Barat retak beberapa hari lalu. Untuk memaksimalkan pengerjaan, Palyja sempat memutuskan sementara suplai air, sehingga berdampak terhadap suplai air di sejumlah kawasan. (Baca juga: Pipa Air Bocor, 28 Kelurahan di Jakarta Barat Krisis Air Bersih)
Terhadap kejadian ini, Playja sendiri meminta maaf sebesar besarnya kepada pelanggan yang sempat terganggu akibat perbaikan, terutama mereka yang tidak dapat menikmati air bersih karena suplai terganggu. (Baca: Pipa PAM Bocor, Ruas Jalan Lapangan Bola Jakbar Tergenang)
Sembari menunggu pasokan air kembali normal, Palyja mengaku sudah melakukan distribusi air terhadap sejumlah tempat ibadah, sekolah, dan rumah sakit menggunakan truk tangki air. Suplai dilakukan agar tak mengganggu pasokan air. “Sejak kemarin kami melakukannya,” sebut Lydia.
Terpisah, Akmal (28), warga Rawa Buaya, Cengkareng, mengatakan sejak pukul 09.00 WIB tadi Air PAM miliknya sudah mulai mengalir. Meski demikian, dibandingkan sebelum pipa bocor, debit air yang dihasilkan belum begitu banyak. Karena itu, ia terpaksa membeli air melalui gerobak-gerobak air yang dijual berkeliling di wilayahnya.
Kondisi berbeda justru terjadi di kawasan Komplek Badan Pemeriksa Keungan (BPK), Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sejumlah warga mengakui perbaikan pipa di Kebon Jeruk tak berpengaruh dengan suplai di wilayah. Para warga mengaku sudah sepekan suplai air bersih mati di wilayah setempat. “Sebelum bocor juga sudah mati,” kata Tito (29), salahs seorang warga kepada wartawan.
Komplek BPK berada di Jalan Raya Kebon Jeruk atau sekitar 500 meter dari lokasi bocornya pipa. Mereka mengaku kecewa dengan penanganan Palyja, sebab sebagai warga mereka terbilang taat membayar tagihan dan tak menunggak.
Demi membantu suplai air bersih, Tito dan sejumlah warga lain menggunakan air tanah. Proses penyulingan dilakukan dengan membuat beberapa filterisasi air dengan menempatkan di galon besar atas rumah.
Terhadap kondisi ini, Tito mengharapkan Palyja turun tangan dan membenahi kondisi air yang terjadi di wilayahnya. Sebab, apabila dibandingkan air tanah, air melalui Palyja jauh lebih baik. Selain jernih dan tak bau, air itu sangat nyaman untuk mandi karena tak membuat badan mudah lengket.
(thm)