Monumen Brayut Saksi Bisu Perlawanan Warga Sleman Terhadap Belanda

Sabtu, 03 November 2018 - 05:00 WIB
Monumen Brayut Saksi...
Monumen Brayut Saksi Bisu Perlawanan Warga Sleman Terhadap Belanda
A A A
Brayut, Pandawoharjo, Sleman bukan hanya dikenal sebagai desa wisata berbasis budaya dan kearifan lokal di Sleman. Namun di tempat ini juga menjadi saksi bisu perlawanan rakyat Sleman dan Brayut khususnya dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari usaha Belanda yang ingin mengusai lagi Indonesia pada
tahun 1949.

Dimana di tempat itu terjadi pertempuran antara rakyat Sleman dengan pasukan Belanda. Terjadinya pertempuran ini untuk melindungi pejuang dan tentara pelajar dari kejaran pasukan Belanda, setelah terdesak dalam pertempuran di Rejodani, Sardonoharjo, Ngaglik atau timur Brayut. Karena terdesak itulah pejuang dan tentara pelajar lari ke barat arah Brayut.

Mendengar berita itu, rakyat Brayut kemudian memberikan bukan hanya memberikan perlindungan namun juga ikut berperang melawan Belanda. Sehingga pertempuran pun tidak dapat dielakkan.

Kejadian itu terjadi, 6 Mei 1949. Dalam pertempuran itu, kedua belah pihak banyak yang korban. Untuk rakyat Brayut sendiri, tercatat ada 14 yang gugur.

Mereka adalah Sarjiman, Budiwiyono, Darmo Suprapto, Prawirodimejo, Kromo, Suridikromo, Cokrowiharjo. Jono, Kusen, Haryono, Suprapto, Supraptoharjo, Wongso Paijo dan Dalijo.

Sekretaris Desa Budaya Brayut, Pandowoharjo, Sleman, Aditya Noor mengatakan pertempuran di Brayut melawan Belanda tersebut merupakan rangkaian perlawanan para pejuang dari kejaran Belanda yang diawali dari Plataran Kledokan, Selomartani, Kalasan dari arah timur.

Rejodani hingga Turi. Ini lantaran para pejuang yang terdesak dari Kledokan lari ke barat sampai di Rejodani, disini ketemu dengan pasukan Belanda yang datang dari arah selatan.

“Sama halnya dengan kejadian di Kledokan di Rejodani pejuang dan tentara pelajar juga terdesak dan menuju ke barat sampai Brayut ini,” kata Aditya Noor.

Menurut Aditya Noor selain untuk melindungi pejuang, sebelum pertempuran terjadi pejuang Soeparjo yang ada di Brayut, pada pukul 05.00 WIB telah mendapat kabar dari polisi pager praja Supeni kalau dari arah selatan datang pasukan Belanda menuju ke Turi mencari para pejuang. Berita itu lalu disampaikan kepada komandan penyerangan penjuang Bakir.

Bakir kemudian menghubungi pejuang lainnya untuk menghadang Belanda. Jumlah pejuang yang ada di Brayut sebenarnya ada 35 orang. Namun karena sudah ada yang beraktivitas dan tidak tahu kemana perginya, di tempat itu tinggal sembilan pejuang. Atas kondisi ini, para pejuang memutuskan meninggalkan Brayut sebab tidak mungkin melawan Belanda dengan
kekuatan yang ada. Mereka pun memutuskan mundur ke utara.

Tetapi pasukan Belanda ternyata tidak hanya datang dari arah selatan, namun juga dari arah timur dan utara. Sehingga untuk perlawanan sendiri bukan hanya sampai di Brayut, namun juga sampai ke utara yaitu sampai di Turi. Sama halnya di Brayut perlawanan rakyat melawan Belanda tersebut, selain melindungi pejuang juga untuk mempertahankan
kedaulatan NKRI dari tangan Belanda yang ingin berkuasa lagi di Indonesia.

Sebagai bentuk penghargaan kepada pejuang Brayut melawan Belanda tersebut, Pemkab Sleman membangun monumen Brayut tempat terjadinya pertempuran. Yaitu di timur SMAN Pandowoharjo (sekarang SMAN 2 Sleman).

“Monumen ini bukan hanya sekedar tetengger, namun yang lebih penting lagi yaitu jiwa nasionalisme para pejuang dan rakyat yang bisa dipelajari bagi generasi muda,” paparnya.

Untuk itu, monumen tersebut, juga akan dijadikan paket wisata budaya kepada para wisatawan yang datang ke desa wisata Brayut. Karena itu, perlu adanya kepedulian terhadap keberadaan monumen tersebut. yaitu dengan tetap menjaga dan merawat. Termasuk mensosialiasikan kepada generasi muda. Sebab tidak semua tahu tentang keberadaan monumen ini.

“Secara pasti saya tidak mengetahui, setahu saya itu hanya monumen tetapi apa latar belakangnya tidak tahu,” aku warga setempat yang melintas di depan monumen itu," kata Catur.
(sms)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Kapal Basarnas Terbakar...
Kapal Basarnas Terbakar di Muara Baru, 14 Unit dan 70 Personel Damkar Dikerahkan
4 jam yang lalu
Refly Harun Dampingi...
Refly Harun Dampingi Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus di PN Jakpus
5 jam yang lalu
BNPP Dorong Percepatan...
BNPP Dorong Percepatan PLBN Seimanggaris, Perkuat Gerbang Negara yang Terhubung ke Koridor Ekonomi BIMP-EAGA
6 jam yang lalu
Ruko di Pasar Ciputat...
Ruko di Pasar Ciputat Tangsel Terbakar, Api Masih Berkobar
6 jam yang lalu
Jadi Kawasan Wisata,...
Jadi Kawasan Wisata, Bali Kian Dilirik Perusahaan Asuransi
6 jam yang lalu
Riau Bhayangkara Run...
Riau Bhayangkara Run 2026 Ciptakan Efek Ekonomi Rp58,9 Miliar
6 jam yang lalu
Infografis
Zion Suzuki, Tembok...
Zion Suzuki, Tembok Samurai Biru yang Bikin Belanda Frustrasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved