Pedagang Tradisional di Gunung Kidul Bidik Pasar Kuliner Ramadhan

Sabtu, 19 Mei 2018 - 17:31 WIB
Pedagang Tradisional...
Pedagang Tradisional di Gunung Kidul Bidik Pasar Kuliner Ramadhan
A A A
GUNUNG KIDUL - Pedagang di sejumlah desa di Gunungkidul mulai berani melakukan inovasi untuk menjaring konsumen dan meningkatkan kesejahteraan. Salah satunya adalah dengan mengembangkan konsep pasar kuliner Ramadhan.

Setiap sore, tercatat ada tiga lokasi yang sebelumnya dibuka untuk pasar kuliner minggu pagi, mulai membidik konsumen dengan menyediakan aneka makanan di sore hari atau menjelang buka puasa. Tiga lokasi tersebut adalah di kawasan lembah Karst Ngingrong Mulo, Pasar Argo Wijil Desa Gari, serta Pasar tradisional Sompil Desa Logandeng.

Di objek Wisata Ngingrong misalnya. Lokasi yang sudah terkenal sebagai lokasi nongkrong yang saat ini makin asyik ini disulap menjado arena ngabuburit. Banyaknya pedagang makanan yang menjajakan aneka makanan tradisional seperti layaknya pasar minggu pagi menjadikan lokasi inji semakin ramai di sore hingga petang hari.

Salah seorang pedagang kuliner di lembah Ngingrong, Imah menerangkan, pasar Kuliner Ngingrong pada hari biasa buka pada hari Sabtu dan Minggu saja. Namun bersamaan dengan bulan puasa ini, kelompok pedagang sepakat untuk buka setiap hari. "Kami buka di sini dari pukul 15.00-18.00 WIB. Semua menu buka puasa kita jual di sini," kata Imah.

Meski baru pertama buka dan menjajal kuliner sore Ramadhan, namun pada hari pertama ini masyarakat sudah banyak yang datang untuk berburu kuliner. Dia berharap, pasar kuliner ini akan ramai setiap harinya. "Kami didukung lokasi yang asyik untuk ngabuburit," imbuhnya.

Hal yang sama juga bisa dinikmati di pasar kuliner Argowijil, Desa Gari, Kecamatan Wonosari. Di tempat tersebut berbagai makanan tradisional dan unik dapat dijumpai. Berbagai makanan dijajakan, seperti nasi jagung, botok manding, gatot, tiwul, bothok tawon (lebah), semur bonggol pisang, gelinding burung dara dan berbagai makanan lainnya.

Pasar Argowijil sendiri memiliki arti bahwa Argo dalam bahasa Jawa adalah Gunung/ Gunungan, sedangkan wijil adalah nama kawasan tersebut. Argowijil mengangkat konsep kuliner tradisional yang berbeda dari tahun sebelumnya. Saat ini ada beberapa makanan berat, tidak hanya makanan ringan. “Kami utamakan masyarakat sekitar untuk berdagang, ada sekitar 90 orang,” ucapnya.

Dia berharap dengan membuka pasar kuliner ramadhan mampu mendongkrak ekonomi warga. Sebagian besar makanan yang disajikan memang tradisional dan unik.
(wib)
Berita Terkait
Mencoba Peruntungan...
Mencoba Peruntungan Baru, Alya Nurshabrina Luncurkan Fall Into Place
Hasil CPNS 2018 Bermasalah,...
Hasil CPNS 2018 Bermasalah, Puluhan Pencari Kerja Geruduk Pemkab Raja Ampat
Jalani 12 Adegan Rekonstruksi,...
Jalani 12 Adegan Rekonstruksi, Begini Kesadisan Geng Akatsuki 2018
Pemprov Revisi RPMJD...
Pemprov Revisi RPMJD Sulsel Tahun 2018-2023
Bareskrim Tetapkan Tersangka...
Bareskrim Tetapkan Tersangka Proyek Venue Asian Games 2018
Simak! Upaya Penyelamatan...
Simak! Upaya Penyelamatan Jiwasraya Sejak 2018 hingga Direstrukturisasi
Berita Terkini
KH Hasanuddin Kriyani...
KH Hasanuddin Kriyani Resmi Menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren
2 jam yang lalu
Perindo Apresiasi Inisiatif...
Perindo Apresiasi Inisiatif Danantara Bangun Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik di Denpasar Raya
3 jam yang lalu
Peningkatan Kualitas...
Peningkatan Kualitas SDM Jadi Syarat Pembangunan Jakarta Menuju Kota Global
5 jam yang lalu
Terowongan Arah Utara...
Terowongan Arah Utara MRT Jakarta Bundaran HI-Kota Rampung Digali, Tembus hingga Kedalaman 28 Meter
5 jam yang lalu
Jampidsus Febrie Adriansyah...
Jampidsus Febrie Adriansyah Mundur, Rumahnya di Jaksel Tak Lagi Dijaga Khusus TNI
6 jam yang lalu
Pemberdayaan UMKM Sawit,...
Pemberdayaan UMKM Sawit, BPDP Raih Penghargaan Medbun Awards
9 jam yang lalu
Infografis
10 Pemain Bola dengan...
10 Pemain Bola dengan Nilai Pasar Tertinggi di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved