Harus Diputus Pola Rekrutmen Anak di Lingkaran Terorisme

Kamis, 17 Mei 2018 - 16:35 WIB
Harus Diputus Pola Rekrutmen...
Harus Diputus Pola Rekrutmen Anak di Lingkaran Terorisme
A A A
SURABAYA - Pascabom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo menyisahkan banyak kepedihan. Salah satunya pelibatan anak di lingkaran aksi terorisme. Anak-anak yang menjadi korban itu harus diselamatkan sejak dini. Caranya dengan memutus pola rekrutmen para jihadis terhadap anak.
Ketua Komisi Perlindungan Anak dan Ibu (KPAI) Susanto menuturkan, butuh kerja sama dari berbagai pihak untuk dapat memutus pola rekrutmen pada anak itu.

Makanya, kata dia, sejak dini semua pihak lebih mewaspadai pola rekrutmen pelaku teror setelah tragedi bom Surabaya dan Sidoarjo.
“Kalau dilihat memang terjadi pergeseran pola rekrutmen pelaku teror dari orang dewasa ke perempuan dan anak-anak, “ ujar Susanto, Kamis (17/5/2018).

Pola rekruitmen pelaku teror jika diikuti setiap tahunnya selalu berubah. Nah, pelibatan perempuan dan anak-anak dalam aksi bom bunuh diri adalah pola terbaru.Semua itu dilakukan agar tak terdeteksi oleh aparat dan orang sekitarnya.

Di sisi lain, peran guru di sekolah sangat penting dan strategis untuk melakukan pencegahan sejak dini. Mereka bisa melakukan deteksi awal dengan pendekatan persuasif.“Jadi pastikan bahwa anak mendapatkan guru yang tepat, berpikir luas dan memiliki pemahaman keagamaan yang tepat,” bebernya.

Susanto juga membeberkan, pola-pola baru yang digunakan oleh jaringan pelaku teror dalam mentoring dan rekrutmen anggota adalah masuk pada wilayah-wilayah yang dipandang vital secara sosial.

Sehingga dalam banyak kasus jaringan teror mengincar guru sebagai mentor. Setelah itu, orang tua agar menjadi mentor bagi anaknya, sebagaimana kasus terbaru teror bom di Surabaya. “Karena orangtua merupakan sendi vital dan kehidupan bermasyarakat,” ucapnya.

Susanto pun mengingatkan tidak ada ajaran agama manapun juga yang mengajarkan terorisme. Semua agama mengajarkan kebaikan dan cinta kasih. Terorisme sendiri melanggar ajaran agama dan prinsip-prinsip nilai bernegara dan berkebangsaan.

Sosiolog Anak Universitas Airlangga Surabaya Bagong Suyanto mengatakan, anak-anak yang dilibatkan dalam aksi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo, sejatinya mereka adalah korban. Mereka tidak paham tentang aksi kedua orang tuanya. Kesadaran mereka pun dibentuk oleh kedua orang tuanya sejak lama.

Pada fase anak, mereka harusnya bisa bermain dan bergembira. Ada teman sepermainan serta mampu membingkai cita-citanya di masa depan
(vhs)
Berita Terkait
Momen Haru Anak Polisi...
Momen Haru Anak Polisi Korban Bom Surabaya Lolos Jadi Polwan
Ledakan Keras di Mako...
Ledakan Keras di Mako Brimob Polda Jatim, Tak Ada Korban Jiwa
Sempat Heboh Mengaku...
Sempat Heboh Mengaku Bawa Bom, Pria di Bank Majalengka Ternyata Simpan Kabel Mainan
Bagaimana Perangkat...
Bagaimana Perangkat Elektronik Jadul Jadi Senjata Mematikan: Pelajaran dari Kasus Hizbullah
Teror Bom Molotov di...
Teror Bom Molotov di Aceh Barat
100 Sekolah Ditutup...
100 Sekolah Ditutup dan Ribuan Siswa Sudah Dievakuasi, Ternyata Ancaman Bomnya Palsu
Berita Terkini
Korban Terakhir Ledakan...
Korban Terakhir Ledakan Gas di Rumah Mewah di Medan Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Ditutup
3 jam yang lalu
Punya KTP DKI dan Beli...
Punya KTP DKI dan Beli Rumah Pertama? Ini Syarat Dapat Diskon BPHTB 50 Persen
3 jam yang lalu
Polda Metro Jaya Bakal...
Polda Metro Jaya Bakal Panggil Hotman Paris Usai Dilaporkan PWI
4 jam yang lalu
APDSI dan PPPK Aksi...
APDSI dan PPPK Aksi Damai, Tuntut Pemenuhan Hak serta Gaji ke-13
5 jam yang lalu
Ketahanan Pangan Nasional,...
Ketahanan Pangan Nasional, Nestl Salurkan 90 Sapi Perah Impor di Jatim
5 jam yang lalu
PASTI Indonesia Desak...
PASTI Indonesia Desak Polda Kalsel Hentikan Kasus Babe Aldo dan Ditangani Bareskrim
6 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved