Kisah Pengemis Tuna Netra yang Melahirkan Bayi di Kontrakan Tanpa Bantuan Tenaga Kesehatan

Sabtu, 14 April 2018 - 17:06 WIB
Kisah Pengemis Tuna...
Kisah Pengemis Tuna Netra yang Melahirkan Bayi di Kontrakan Tanpa Bantuan Tenaga Kesehatan
A A A
BUKITTINGGI - Pasangan pengemis tuna netra Asaik dan Istrinya Jaranis di Gurun Buai, RT 003 RW 005, Kelurahan Puhun Tembok, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, dikarunai seorang bayi perempuan, Jumat 13 April 2018, kemarin.

Meski lahir dari seorang ibu yang merupakan tunanetra dan pengemis, bayi perempuan tersebut lahir normal dan sehat di kamar kontrakan orangtuanya di Gurun Buai, RT 003 RW 005 tanpa dibantu bidan maupun tenaga kesehatan.

Namun meski demikian sang bayi rentan kekurangan gizi karena kondisi fisik dan ekonomi kedua orangtuanya tersebut, yang sama-sama tuna netra sehingga harus diberi penangan darurat dan perhatian khusus.

Apalagi pasangan pengemis tuna netra ini mengaku sejak hamil hingga melahirkan si ibu tidak pernah memeriksakan kesehatan dan perkembangan kehamilannya ke puskesmas atau rumah sakit.

Lasmini Ningsih demikian kedua orangtuanya memberi nama bayi berjenis kelamin perempuan dengan berat 2,9 kilogram dan panjang 49 centimeter tersebut.

Ibu sang bayi Jarinis (35) warga Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman mengaku proses kelahiran bayinya tanpa dibantu bidan maupun tenaga kesehatan. Jarinis mengakui walau memiliki kartu BPJS, namun kondisi fisik dan ekonomi membuatnya tidak pernah memeriksakan kandungan ke puskesmas atau rumah sakit.

Sementara Yenni Fitri petugas kesehatan yang memeriksa Jarinis pascamelahirkan mengatakan, si ibu dan bayinya harus dipindahkan dari rumah kontrakannya mengingat situasi kesehatan lingkungan yang tidak memungkinkan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayinya jika tetap tinggal di gubuk tersebut.

“Dengan kekurangan dan ketidakmampuan ibu maka harus diarahkan untuk teknik makanan bergizi, cara memandikan bayi, cara menyusukan bayi, ini harus. Sebab kalau terjadi angka kematian bayi akan menimbulkan sumber masalah lagi di Kota Bukittinggi, juga harus ada peran aktif dari tenaga kesehatan khususnya pembina wilayah dibantu kader kesehatan di wilayah kerja,” kata dia.

Saat ini, kata dia, keluarga Asaik dan Jarinis yang merupakan perantau yang sudah menetap selama 10 tahun di Bukittinggi ini sangat membutuhkan bantuan untuk biaya perawatan dan untuk kelangsungan hidup bayinya.
(sms)
Berita Terkait
Derita Leukemia Akut,...
Derita Leukemia Akut, Bayi Rizqy Butuh Pertolongan
Miris M Rafathar Alami...
Miris M Rafathar Alami Bibir Sumbing hingga Sulit Makan
Tak Ada Biaya Operasi,...
Tak Ada Biaya Operasi, Bayi Meninggal Akibat Kelainan Jantung
Rakor Kemenko PMK Bahas...
Rakor Kemenko PMK Bahas Strategi Terbaru untuk Penghapusan Kemiskinan Ekstrem 2024
Menko PMK Beberkan Langkah...
Menko PMK Beberkan Langkah Strategis Penanganan Kemiskinan
DIY Provinsi Termiskin...
DIY Provinsi Termiskin di Jawa
Berita Terkini
Gempa Magnitudo 5,8...
Gempa Magnitudo 5,8 Guncang Ternate Maluku Utara Pagi Ini
58 menit yang lalu
Dinkes Apresiasi Operasi...
Dinkes Apresiasi Operasi Bibir Sumbing Gratis MNC Peduli dan RS Azra Bogor
7 jam yang lalu
MNC Peduli dan Yayasan...
MNC Peduli dan Yayasan Jalinan Kasih Sudah Operasi Lebih dari 5.000 Pasien Bibir Sumbing Sejak 2004
9 jam yang lalu
Gelar Operasi Sumbing...
Gelar Operasi Sumbing Gratis, MNC Peduli dan Smiletrain Indonesia Gandeng RS Azra Bogor
9 jam yang lalu
Energy Executive Award...
Energy Executive Award 2026 Tegaskan Pentingnya Kepemimpinan Wujudkan Ketahanan Energi
9 jam yang lalu
Pembangunan Jalan Tol...
Pembangunan Jalan Tol Akses Pelabuhan Patimban Capai 68%
11 jam yang lalu
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved