Pemkab Katingan Programkan Pencegahan Stunting Bersama Tim PKGBM

Jum'at, 23 Maret 2018 - 23:13 WIB
Pemkab Katingan Programkan...
Pemkab Katingan Programkan Pencegahan Stunting Bersama Tim PKGBM
A A A
KATINGAN - Penderita stunting atau anak kurang gizi kronis di Tanah Air saat ini masih cukup tinggi. Di masa dewasa, anak stunting berpotensi memperoleh pendapatan 20 persen lebih rendah dan mudah terserang penyakit sehingga produktivitasnya menurun. Stunting juga mengakibatkan kerugian negara hingga Rp300 triliun per tahun.

Karena itu, stunting perlu mendapat perhatian serius. Di Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah, program pencegahan stunting saat ini telah resmi menjadi bagian dari program pemerintah daerah setempat.

Untuk mencegah stunting dengan pendekatan terintegrasi, Pemkab Katingan merangkul tim Proyek Kesehatan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM). Hal ini mencakup sisi supply atau penyedia layanan kesehatan, demand atau orang tua, serta kampanye publik untuk menjangkau masyarakat luas.

PKGBM merupakan kontribusi Millennium Challenge Account-Indonesia (MCA-Indonesia) untuk mendukung Pemerintah Indonesia menurunkan angka stunting nasional dari 37 persen menjadi 29 persen pada 2019.

Untuk memastikan keberlanjutan program, tim PKGBM telah bekerja sama dengan Pemkab Katingan dalam menyusun Rencana Aksi Daerah tentang Pangan dan Gizi (RADPG). Tim memberikan pelatihan teknis seputar stunting, menganalisa data, dan memfinalisasi rencana aksi.

"Faktor untuk bisa menjadi sukses, tentu kita bicara dulu sistem,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Katingan, Wim Ngantung, dalam keterangan tertulisnya yang diterima, Jumat (23/3/2018)

Setelah sistem diciptakan, lanjut dia, maka di dalam sistem itu disusun dasar-dasar regulasi. Selanjutnya menyiapkan sumber daya manusianya. Bidan dan tenaga kesehatan merupakan ujung tombak dalam upaya pencegahan stunting.

Untuk memperkuat sisi supply atau penyedia layanan, PKGBM melatih tenaga kesehatan agar mampu memberikan konseling berkualitas seputar Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Topik pelatihan, antara lain pilihan makanan bergizi semasa hamil hingga anak berusia balita. Selain itu, keterampilan interpersonal para tenaga kesehatan juga ditingkatkan agar pendekatan mereka kepada ibu dan ayahlebih efektif.

"Orang tua yang sudah ikut konseling lebih mudah memahami pesan-pesan pencegahan stunting," ujar Bidan Neni Tri Wahyuni, salah satu tenaga konseling ke rumah penduduk.

Menurut dia, kelas-kelas untuk para ibu dan para bapak juga dijadikan ajang menambah pengetahuanpara orang tua atau sisi demand dalam upaya mencegah stunting. Para ibu dan ayah dapat bertanya,berbagi masalah dan meningkatkan keterampilan mereka dalam mengasuh anak. Para bidan juga didorong untuk mempromosikan gizi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih menarik, seperti lomba memasak dan kuis-kuis.

Perubahan positif sudah mulai tampak di masyarakat, misalnya sebagian besar orang tua yang sebelumnya masih asing dengan istilah stunting. Mereka juga menganggap tinggi badan rendah, yang merupakan salah satu ciri stunting, semata-mata disebabkan keturunan.

Setelah mengikuti kegiatan konseling, kelas ibu-ayah, dan terpapar kampanye publik, orang tua semakin memahami kaitan antara gizi, kebersihan lingkungan, dan pencegahan stunting.

Kampanye komunikasi gizi nasional yang merupakan salah satu komponen PKGBM, sengaja digalakkan untuk membangun kesadaran masyarakat di provinsi target. Hal ini sebagai langkah awal untuk mengubah perilaku terkait gizi dan pencegahan stunting.

Selain komunikasi tatap muka, kampanye juga dilakukan melalui siaran televisi, radio, media sosial, dan materi-materi sosialisasi dengan pesan yang mudah dicerna masyarakat luas.

Sinergi yang melibatkan banyak pihak terbukti efektif dalam melaksanakan kampanye publik dan advokasi. Pendekatan yang melibatkan level akar rumput hingga pengambil keputusan di pemerintahan telah berhasil menyatukan inisiatif berbagai pihak hingga berdampak positif pada hasil-hasil program.

"Yang terpenting adalah komitmen bersama dan menyadarkan bahwa semua pihak memahami ini adalah masalah tentang generasi masa depan. Kita harus berjuang, kita harus bersaingdengan negara lain," kata Kepala Pengembangan Masyarakat Kabupaten Katingan, Hotden Manalu.

Stunting merupakan hambatan pertumbuhan pada anak yang disebabkan kurang gizi sejak bayi di dalam kandungan hingga berusia dua tahun. Kemampuan kognitif para penderita stunting juga berkurang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi jangka panjang bagi perorangan dan masyarakat Indonesia.
(thm)
Berita Terkait
Derita Gizi Buruk Sejak...
Derita Gizi Buruk Sejak Umur 5 Bulan, BB Iqbal Kini Hanya 12 Kg di Umur 19 Tahun
Sempat Menolak Anaknya...
Sempat Menolak Anaknya Dirawat di RS, Kini Balita Penderita Gizi Buruk Asal Pidie Jaya Mulai Ditangani di RSUDZA
Wabah Gizi Buruk Ancam...
Wabah Gizi Buruk Ancam Anak-anak Yaman
Intervensi Remaja Menuju...
Intervensi Remaja Menuju 'Zero New Stunting'
Balita di Sidimpuan...
Balita di Sidimpuan Ini Alami Kekurangan Gizi, Ke mana Wali Kota?
Setiap Hari Makan Ubi...
Setiap Hari Makan Ubi dan Pisang, Balita Idap Gizi Buruk di Sikka
Berita Terkini
7 Pengeroyok Prajurit...
7 Pengeroyok Prajurit TNI Kodam Cenderawasih hingga Tewas Ditetapkan sebagai Tersangka
17 menit yang lalu
Peradi Profesional-Unisba...
Peradi Profesional-Unisba Perkuat Pendidikan Hukum dan Pengembangan Profesi Advokat
34 menit yang lalu
Perkuat Ekonomi Maluku...
Perkuat Ekonomi Maluku Utara, APHI Dorong Penerapan Multiusaha Kehutanan
42 menit yang lalu
Apresiasi Polda Sumut...
Apresiasi Polda Sumut Ungkap Ribuan Kasus Narkoba, Sahroni: Kejar Bandarnya, Selamatkan Masyarakat!
1 jam yang lalu
Prajurit TNI Kodam XVII...
Prajurit TNI Kodam XVII Cenderawasih Tewas Dikeroyok Sembilan Orang di Kabupaten Tangerang
1 jam yang lalu
Dukung Penguatan Ekonomi...
Dukung Penguatan Ekonomi Kerakyatan, Danantara Tinjau Pemberdayaan Nasabah PNM di Mojokerto
1 jam yang lalu
Infografis
Jadwal Cuti Bersama...
Jadwal Cuti Bersama ASN Tahun 2026, Catat Tanggalnya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved