Pelaku IKM Curhat Masih Ada Pungli ke Staf Kepresidenan

Jum'at, 02 Februari 2018 - 16:54 WIB
Pelaku IKM Curhat Masih...
Pelaku IKM Curhat Masih Ada Pungli ke Staf Kepresidenan
A A A
BANDUNG BARAT - Para pelaku industri kecil menengah (IKM) se-Bandung Raya, Jawa Barat, mengeluhkan adanya praktik pungutan liar (pungli) kepada perwakilan Kantor Staf Presiden (KSP) Senior Advisor Andi Widjajanto.

Pasalnya, di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan minimnya permodalan menyebabkan pelaku IKM semakin terjepit karena jika dikalkulasikan nilai pungli itu angkanya bisa sangat fantastis.

Ketua Asosiasi Pengusaha Kecil dan Menengah Indonesia (APKMI) Aming Supriatna membenarkan, banyak anggotanya yang harus membayar tip kepada oknum saat memasarkan atau menjual barangnya ke Jakarta. Bahkan dalam sekali jalan ada anggotanya yang harus mengeluarkan Rp1 juta untuk uang keamanan baik saat di jalan ataupun ketika berjualan di Tanah Abang.

"Yang menjadi persoalan utama para IKM adalah permodalan, bahan baku, dan juga masih adanya pungli," ucapnya saat ditemui di Pusat Logistik Berikat (PLB) PT Agility Internasional, di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Terkait ini, Senior Advisor Kantor Staff Presiden (KSP) Andi Widjajanto mengatakan, informasi itu sangat berharga bagi pihaknya. Apalagi selama ini Presiden Joko Widodo menaruh perhatian terhadap tumbuh kembangnya pelaku usaha kecil serta serius dalam memberantas pungli. "Ini menjadi perhatian kami dan akan ditindaklanjuti," ucapnya.

Lebih lanjut, persoalan IKM juga adalah terkait bahan baku, permodalan, serta rantai distribusi pemasaran yang cukup panjang. Akibatnya harga jual menjadi mahal dan tidak kompetitif.

Padahal saat ini banyak barang-barang impor khususnya dari China yang masuk dengan menawarkan harha murah padahal dari segi kualitas masih di bawah produk-produk dalam negeri.

Ke depan, pemerintah juga akan menghadirkan pusat logistik berikat semacam di Batujajar, KBB. yaitu mulai Kabupaten Bandung hingga di Kabupaten Bogor. Di Indonesia ada sebanyak 70 PLB tapi untuk tekstil hanya di Batujajar dan Bekasi.

"Indonesia harus bersaing dengan Bangladesh, Pakistan, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar dalam produk tekstil. Sehingga kami berharap banyak yang berinvestasi mendirikan pabrik tekstil di Jabar dan Jateng," imbuhnya.
(rhs)
Berita Terkait
Diduga Marak Pungli...
Diduga Marak Pungli di Sekolah, FAGI Minta Gubernur Bentuk Tim Investigasi
Penanganan Kasus Pokir...
Penanganan Kasus Pokir DPRD Karawang Selesai, Kejari: Hasilnya Nanti Disampaikan
Marak Pungutan Liar...
Marak Pungutan Liar THR Lebaran, Ridwan Kamil: Lapor ke Saber Pungli Jabar
Ridwan Kamil Kukuhkan...
Ridwan Kamil Kukuhkan Komite Ekonomi Kreatif dan Inovasi Jabar
Uang Pesangon Diduga...
Uang Pesangon Diduga Dipotong Oknum Perusahaan, Ratusan Mantan Karyawan Pabrik Meradang
Dedi Mulyadi Larang...
Dedi Mulyadi Larang Adanya Sumbangan di Jalan Raya Mulai Hari Ini
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Gubernur DKI Apresiasi Astra Pelopori Naik Transum
23 menit yang lalu
Stafsus Menag Sayangkan...
Stafsus Menag Sayangkan Pembubaran Kemah Pemuda Ahmadiyah di Karanganyar
1 jam yang lalu
Rooting for Future,...
Rooting for Future, PAMA Bersama UGM dan OIKN Penanaman Pohon Bersama
2 jam yang lalu
Kasus Penyelundupan...
Kasus Penyelundupan 796 Kg Sisik Trenggiling, WN Vietnam Diserahkan ke Kejari Cilegon
2 jam yang lalu
Pemprov Jakarta Gelar...
Pemprov Jakarta Gelar Atraksi Budaya Betawi di CFD Rasuna Said
2 jam yang lalu
Puluhan Keluarga di...
Puluhan Keluarga di HSS Miliki Kepastian Hukum atas Tanahnya lewat Reforma Agraria Badan Bank Tanah
2 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved