Ditinggal Bekerja, Dua Bocah Main di Sungai hingga Tenggelam dan Tewas
Rabu, 20 Desember 2017 - 21:00 WIB
Ditinggal Bekerja, Dua Bocah Main di Sungai hingga Tenggelam dan Tewas
A
A
A
TULUNGAGUNG - Rafli (8) dan Kiki (7) dua pelajar SD asal Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek tewas tenggelam di sungai Sayap Sengon Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung.
Kedua jasad bocah itu ditemukan berada di dasar sungai. "Setelah dilakukan pencarian kedua korban ditemukan di dasar sungai," ujar Paur Humas Polres Tulungagung Bripka Endro Purnomo kepada wartawan.
Ceritanya, karena libur sekolah Rafli ikut Abidin, ayahnya yang bekerja sebagai pengrajin genting di Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Tulungagung. Saat berangkat, Kiki anak Sukaji, tetangganya tiba tiba ikut.
Ketiganya berangkat ke rumah Bahrur, orang tua Abidin. "Saat orang tua korban mulai bekerja, kedua korban berada di rumah neneknya," terang Endro. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Rafli bersama Kiki pergi ke sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah.
Keduanya berangkat bersama Marvel dan Ibrahim, dua bocah anak warga setempat dengan usia sebaya. Marvel dan Ibrahim bermain di pinggir sungai tapi tidak menyentuh air. Sedangkan Rafli dan Kiki memilih bermain air di pinggir sungai. Tidak tahu siapa yang memulai, keduanya tiba-tiba mandi.
Padahal sungai seluas 3 meter itu memiliki kedalaman 2,5 meter. Tidak berselang lama, kedua korban lenyap terseret arus air. "Melihat kedua temannya terseret arus air, kedua saksi (Marvel dan Ibrahim) langsung berlari pulang meminta tolong," papar Endro.
Warga sekitar sontak berdatangan. Begitu juga dengan Abidin yang langsung meninggalkan pekerjaanya. Beberapa orang langsung menceburkan diri ke dalam air. Setelah sekitar satu jam dilakukan pencarian, jasad kedua bocah itu akhirnya berhasil ditemukan. Keduanya terbenam di lumpur dasar sungai.
Menurut Endro pihak keluarga menolak dilakukan visum terhadap kedua jasad korban. “Sebab peristiwa yang terjadi merupakan murni musibah kecelakaan, “paparnya.
Atas peristiwa ini aparat mengimbau kepada para orang tua untuk lebih intensif mengawasi anak-anaknya, terutama berusia belia. Sebab insiden yang terjadi merupakan bentuk kelalaian orang tua.
Wafa (23), warga setempat tidak menyangka sungai yang berada di dekat permukiman warga itu menelan korban jiwa. Sebab anak anak di desa biasanya juga bermain di sekitar sungai.
"Tapi karena mungkin bukan warga sini, sehingga tidak tahu kalau sungai itu bahaya atau tidak. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi," pungkasnya.
Kedua jasad bocah itu ditemukan berada di dasar sungai. "Setelah dilakukan pencarian kedua korban ditemukan di dasar sungai," ujar Paur Humas Polres Tulungagung Bripka Endro Purnomo kepada wartawan.
Ceritanya, karena libur sekolah Rafli ikut Abidin, ayahnya yang bekerja sebagai pengrajin genting di Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Tulungagung. Saat berangkat, Kiki anak Sukaji, tetangganya tiba tiba ikut.
Ketiganya berangkat ke rumah Bahrur, orang tua Abidin. "Saat orang tua korban mulai bekerja, kedua korban berada di rumah neneknya," terang Endro. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Rafli bersama Kiki pergi ke sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah.
Keduanya berangkat bersama Marvel dan Ibrahim, dua bocah anak warga setempat dengan usia sebaya. Marvel dan Ibrahim bermain di pinggir sungai tapi tidak menyentuh air. Sedangkan Rafli dan Kiki memilih bermain air di pinggir sungai. Tidak tahu siapa yang memulai, keduanya tiba-tiba mandi.
Padahal sungai seluas 3 meter itu memiliki kedalaman 2,5 meter. Tidak berselang lama, kedua korban lenyap terseret arus air. "Melihat kedua temannya terseret arus air, kedua saksi (Marvel dan Ibrahim) langsung berlari pulang meminta tolong," papar Endro.
Warga sekitar sontak berdatangan. Begitu juga dengan Abidin yang langsung meninggalkan pekerjaanya. Beberapa orang langsung menceburkan diri ke dalam air. Setelah sekitar satu jam dilakukan pencarian, jasad kedua bocah itu akhirnya berhasil ditemukan. Keduanya terbenam di lumpur dasar sungai.
Menurut Endro pihak keluarga menolak dilakukan visum terhadap kedua jasad korban. “Sebab peristiwa yang terjadi merupakan murni musibah kecelakaan, “paparnya.
Atas peristiwa ini aparat mengimbau kepada para orang tua untuk lebih intensif mengawasi anak-anaknya, terutama berusia belia. Sebab insiden yang terjadi merupakan bentuk kelalaian orang tua.
Wafa (23), warga setempat tidak menyangka sungai yang berada di dekat permukiman warga itu menelan korban jiwa. Sebab anak anak di desa biasanya juga bermain di sekitar sungai.
"Tapi karena mungkin bukan warga sini, sehingga tidak tahu kalau sungai itu bahaya atau tidak. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi," pungkasnya.
(nag)