Ridwan Kamil Tunggu Jawaban Bima Arya untuk Berpasangan di Pilgub Jabar
Kamis, 24 Agustus 2017 - 13:38 WIB
Ridwan Kamil Tunggu Jawaban Bima Arya untuk Berpasangan di Pilgub Jabar
A
A
A
BANDUNG - Bakal calon gubernur (cagub) Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil sedang menunggu jawaban Wali Kota Bogor Bima Arya untuk bersanding dalam pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar 2018 mendatang.
Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil ini mengaku telah berkomunikasi dengan Bima Arya untuk menanti jawaban kader PAN tersebut. Namun, Bima Arya mengaku masih istikharah untuk memutuskan maju sebagai calon wakil gubernur (cawagub) atau tetap menjadi wali kota Bogor. Selain itu, keputusan koalisi partai juga menentukan apakah pasangan tersebut bisa terealisasi.
"Saya sudah komunikasi. Kang Bima sedang istikharah. Kalau Kang Bima mau, belum tentu jadi, kan koalisinya juga harus merestui. Kalau koalisi tidak merestui dia (Bima Arya) ya tidak bisa," kata Emil seusai kegiatan Bandung Menjawab dalam persiapan Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan di Taman Sejarah, Jalan Aceh, Kota Bandung, Kamis (24/8/2017).
Dia menyebutkan, takdir berpasangan dengan Bima Arya adalah kesepakan bersama dengan parpol lain yang akan berkoalisi. Persoalannya, parpol ini mengajukan masing-masing kader untuk menjadi cawagub. "Waktu Rakernas PAN kan sudah dijawab. Saya sudah tanya kalau takdir memang harus dengan PAN berkoalisi dan disetujui oleh partai lain. Tapi, PAN juga punya dua kader yang diusulkan, Bima Arya dan Desy Ratnasari," kata Emil.
Emil menyebutkan, melihat dari dua figur yang diusulkan PAN, Bima Arya adalah pilihannya. Pilihan itu menjadi yang paling realistis untuk menghadapi Pilgub Jabar 2018,mendatang. "Kalau dilihat dari sisi yang dibutuhkan, Bima Arya yang diperlukan. Kang Bima sudah jadi wali kota Bogor dan memiliki elektabilitas serta popularitas tinggi," ujar dia.
Menurut dia, calon kepala daerah harus memiliki kapabilitas dan popularitas. Jika satu di antara itu tidak bisa dipenuhi, maka akan terjadi ketimpangan nantinya. "Ada orang yang punya kapabilitas tapi tidak populer. Ada orang populer tidak punya kapabilitas. Nah menjadi pemimpin daerah harus dua-duanya, ya populer ya punya kapabilitas. Keduanya saya lihat dimiliki oleh Bima Arya," ungkap Emil.
Setelah menjatuhkan pilihannya berpasangan dengan Bima Arya, Emil yang diusung Partai NasDem ini terus melakukan pendekatan dengan sejumlah parpol. Menurut dia, komunikasi politik untuk mencari kesepakatan tidak mudah dilakukan. Diperlukan kesepahaman politik dan menyatukan visi agar terjadi koalisi yang mapan."Saya masih terus berkomunikasi dengan parpol lain," tandas dia.
Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil ini mengaku telah berkomunikasi dengan Bima Arya untuk menanti jawaban kader PAN tersebut. Namun, Bima Arya mengaku masih istikharah untuk memutuskan maju sebagai calon wakil gubernur (cawagub) atau tetap menjadi wali kota Bogor. Selain itu, keputusan koalisi partai juga menentukan apakah pasangan tersebut bisa terealisasi.
"Saya sudah komunikasi. Kang Bima sedang istikharah. Kalau Kang Bima mau, belum tentu jadi, kan koalisinya juga harus merestui. Kalau koalisi tidak merestui dia (Bima Arya) ya tidak bisa," kata Emil seusai kegiatan Bandung Menjawab dalam persiapan Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan di Taman Sejarah, Jalan Aceh, Kota Bandung, Kamis (24/8/2017).
Dia menyebutkan, takdir berpasangan dengan Bima Arya adalah kesepakan bersama dengan parpol lain yang akan berkoalisi. Persoalannya, parpol ini mengajukan masing-masing kader untuk menjadi cawagub. "Waktu Rakernas PAN kan sudah dijawab. Saya sudah tanya kalau takdir memang harus dengan PAN berkoalisi dan disetujui oleh partai lain. Tapi, PAN juga punya dua kader yang diusulkan, Bima Arya dan Desy Ratnasari," kata Emil.
Emil menyebutkan, melihat dari dua figur yang diusulkan PAN, Bima Arya adalah pilihannya. Pilihan itu menjadi yang paling realistis untuk menghadapi Pilgub Jabar 2018,mendatang. "Kalau dilihat dari sisi yang dibutuhkan, Bima Arya yang diperlukan. Kang Bima sudah jadi wali kota Bogor dan memiliki elektabilitas serta popularitas tinggi," ujar dia.
Menurut dia, calon kepala daerah harus memiliki kapabilitas dan popularitas. Jika satu di antara itu tidak bisa dipenuhi, maka akan terjadi ketimpangan nantinya. "Ada orang yang punya kapabilitas tapi tidak populer. Ada orang populer tidak punya kapabilitas. Nah menjadi pemimpin daerah harus dua-duanya, ya populer ya punya kapabilitas. Keduanya saya lihat dimiliki oleh Bima Arya," ungkap Emil.
Setelah menjatuhkan pilihannya berpasangan dengan Bima Arya, Emil yang diusung Partai NasDem ini terus melakukan pendekatan dengan sejumlah parpol. Menurut dia, komunikasi politik untuk mencari kesepakatan tidak mudah dilakukan. Diperlukan kesepahaman politik dan menyatukan visi agar terjadi koalisi yang mapan."Saya masih terus berkomunikasi dengan parpol lain," tandas dia.
(mcm)