Waspadai Kebakaran Hutan dan Lahan yang Mulai Marak

Selasa, 01 Agustus 2017 - 20:51 WIB
Waspadai Kebakaran Hutan...
Waspadai Kebakaran Hutan dan Lahan yang Mulai Marak
A A A
JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai marak banyak terjadi di kawasan hutan open access yang tidak dibebani izin pengelola. Situasi ini tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai penanggung jawab kawasan tersebut, pemerintah selayaknya meningkatkan koordinasi untuk mencegah karhutla terus meluas.

Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Profesor Yanto Santosa mengingatkan, sesuai peraturan perundang-undangan, pemerintah menjadi penanggung jawab kawasan hutan open access.

“Sesuai undang-undang, seperti itu. Kawasan hutan menjadi tanggung jawab pemerintah. Kecuali jika dibebani izin, maka tanggung jawab ada pada pemegang izin,” kata Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Profesor Yanto Santosa, di Jakarta, Selasa (1/8/2017).

Meski menjadi penanggung jawab terhadap kawasan hutan open access, sayangnya, kata Yanto, pemerintah tak memiliki infrastruktur, sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang memadai. Ini membuat pada beberapa kasus kebakaran, pemerintah butuh dukungan pasukan pemadam kebakaran dan helikopter milik perusahaan swasta untuk memadamkan api.

Yanto mengingatkan kawasan hutan seharusnya ‘dikeloni’. “Jadi tidak boleh dibiarkan tanpa ada pengelola yang menjaganya,” timpalnya.

Data dari sistem monitoring karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (sipongi.menlhk.go.id) mengungkapkan berdasarkan pantauan satelit Terra/Aqua lonjakan kenaikan titik api sepanjang Juli ini, mencapai 293 titik.

Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam dan Nusa Tenggara Timur menjadi lokasi titik api terbanyak masing-masing dengan 37 dan 47 titik, selain Kalimantan dengan 89 titik.

Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Gusti Hardiansyah mengungkapkan, sekitar 70% titik api berada di kawasan open access. Sayangnya, kata dia, koordinasi pemerintah belum optimal untuk mengendalikan Karhutla di kawasan tersebut.

Dia mencontohkan, program pembuatan sekat kanal dan sumur bor yang dilakukan Badan Restorasi Gambut yang belum bisa optimal karena lambannya dana turun ke lapangan.

Situasi ini cukup ironis mengingat serapan BRG yang baru sekitar Rp11 miliar dari anggaran sekitar Rp860 miliar. “Ini seharusnya di kawal. Koordinasi ditingkatkan sehingga program restorasi gambut bisa berjalan,” katanya.

Contoh lain adalah program pembagian traktor bagi petani untuk mengolah lahan yang seharusnya bisa dilakukan jelang musim kemarau. Menurut Gusti, hal itu bisa dilakukan jika Kementerian LHK dan Kementerian Pertanian saling berkoordinasi.

“Masyarakat kita adalah masyarakat agraris yang masih ada budaya membakar untuk membuka lahan. Kalau pembagian traktor bisa dilakukan akan sangat membantu mengurangi kegiatan pembukaan lahan dengan membakar,” tukasnya.

Gusti mengingatkan potensi karhutla yang akan meningkat dalam dua bulan ke depan saat musim kemarau mulai memasuki puncaknya. Menurut dia, kondisi alam membuat karhutla saat ini juga terjadi di negara-negara lain seperti Portugal, Spanyol, dan Kanada.

“Sebagian karhutla memang dipicu oleh manusia. Tapi, faktor alam yang membuatnya membesar dan bisa menyebar dari satu titik ke titik lain termasuk ke lahan yang ada izin pengelolanya. Jadi semua pihak harus waspada,” tandasnya.
(sms)
Berita Terkait
Cegah Kebakaran Hutan...
Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan, Pemkab Muba Anggarkan Rp10 Miliar
Penyebab Pendakian Belum...
Penyebab Pendakian Belum Dibuka Meski Titik Api Gunung Arjuno-Welirang Sudah Padam
Provinsi Kanada Umumkan...
Provinsi Kanada Umumkan Keadaan Darurat Akibat Kebakaran Hutan, 24.000 Orang Dievakuasi
Kebakaran Hutan di Chile...
Kebakaran Hutan di Chile Tewaskan 40 Orang
Kebakaran California...
Kebakaran California Meluas, Muncul Titik Api Baru di West Hills
Antisipasi Karhutla,...
Antisipasi Karhutla, Polisi Intensifkan Patroli Hutan di Blora
Berita Terkini
Menekraf Dukung Festival...
Menekraf Dukung Festival Burger Dunia, Perkuat Ekosistem Kuliner Nasional
6 menit yang lalu
Gunung Lewotobi Laki-laki...
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Pagi Ini, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1.500 Meter
1 jam yang lalu
El Nino Bawa Kemarau...
El Nino Bawa Kemarau Lebih Kering, Puncaknya Agustus-September 2026
1 jam yang lalu
Kaesang Ungkap Dewan...
Kaesang Ungkap Dewan Pembina PSI Mulai Turun ke Daerah Akhir Juni
2 jam yang lalu
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
10 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
10 jam yang lalu
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved