Usul Subsidi Rp3,2 Triliun, Direksi Transjakarta Akan Dievaluasi
Senin, 10 Juli 2017 - 06:21 WIB
Usul Subsidi Rp3,2 Triliun, Direksi Transjakarta Akan Dievaluasi
A
A
A
JAKARTA - Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) usulkan subsidi (public service obligation/PSO) sebesar Rp3,32 triliun pada anggaran DKI 2018. Direksi PT Transportasi Jakarta akan dievaluasi terkait usulan PSO yang lebih besar dari tahun sebelumnya sekitar Rp2,8 Triliun.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike mengatakan, PT Transportasi Jakarta setiap tahun selalu mendapatkan tambahan subsidi. Padahal, dalam penggunaanya, anggaran subsidi yang harusnya digunakan untuk pengguna bus dan kelompok masyarakat tertentu, kerap digunakan untuk hal di luar aturan.
Misalnya, kata Yuke, dalam penggunaan subsidi 2017 pada angkutan kota Koperasi Wahana Kalpika (KWK) yang sedikitnya menghabiskan dana sebesar Rp10 miliar dalam tiga bulan.
"Kalau memang anggaranya dari profit ya tetap harus dievaluasi usulan PSO 2018 nanti. Buat apa ditambahin kalau sudah punya keuntungan. Lebih baik dialihkan pada yang penting," kata Yuke saat dihubungi kemarin.
Yuke menjelaskan, usulan anggaran yang diajukan BUMD boleh saja berapapun nilainya. Namun tentunya harus dilampirkan pengunaannya. Sehingga, penggunaan anggaran tepat sasaran dan tidak merugikan negara.
Tidak hanya itu, politikus PDIP ini juga meminta BUMD, khususnya PT Transportasi Jakarta dapat memberika data pegawai dan aset-asetnya. Termasuk halte dan jembatan penyeberangan yang akan dikomersilkan oleh PT Transportasi Jakarta.
"Harusnya kalau sudah BUMD, PT Transjakarta memiliki keuntungan, apalagi mereka jadi operator juga kan," ungkapya.
Usulan subsidi PT Transportasi Jakarta pada 2018 sebesar Rp3,23 triliun itu tercantum dalam dokumen KUA-PPAS (Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara) yang akan menjadi dasar Rancangan APBD 2018 mendatang.
Direktur Utama TransJakarta Budi Kaliwono menjelaskan, setelah disuntik dana subsidi sebesar Rp2,8 triliun tahun ini, Transjakarta akan disubsidi lebih besar. Dana itu diberikan seiring dengan lebih banyaknya kebutuhan TransJakarta, seperti penambahan rute bus tahun depan.
Anehnya, Budi menyebut bahwa subsidi sebesar Rp3,2 Triliun itu akan digunakan untuk penambahan armada. Padahal, subsidi berupa PSO itu diketahui untuk mensubsidi tarif pengguna jasa yang seharusnya Rp13.000-15.000 menjadi Rp3.500.
"Tentu akan digunakan untuk biaya operasional, penambahan armada, dan penambahan rute di 2018," ungkapnya.
Tahun ini Transjakarta dikucurkan dana PSO sebesar Rp2,8 triliun. Anggaran tersebut digunakan untuk penumpang dari 3.040 bus yang akan datang hingga akhir tahun ini. Sampai akhir semester I tahun ini jumlah armada Transjakarta masih berjumlah 1.700.
Budi menjelaskan, pengadaan bus terkendala di karoseri. Banyak bus yang belum selesai atau selesai tapi tidak sesuai permintaan kemudian mengikuti proses review. Sehingga, dia memprediksi di akhir 2017 diperkirakan hanya akan ada 2.500 unit yang beroperasi.
"Saya inginnya ada 3.000 unit di tahun ini. Tapi, kayaknya enggak bisa. Masih ada sekitar 1.500 unit lagi yang belum selesai di karoseri," katanya.
Direktur Operasional TransJakarta Joseph Daud mengatakan, PSO 2018 juga akan digunakan untuk membeli armada bus jika target 3.000 unit tidak tercapai di akhir tahun. Termasul penambahan rute juga menjadi salah satu target TransJakarta di 2018.
Joseph Daud menjelaskan, jumlah rute bus yang saat ini sebanyak 88 rute nantinya akan ditambah dulu menggunakan dana APBDP 2017. Sehingga, jumlah rute menjadi sebanyak 140 rute. Dengan demikian, jumlah rute TransJakarta di tahun 2018 akan lebih dari 140 rute.
"Tapi rute fixed nya sedang kami formulasikan karena untuk 2017 sendiri kita masih ada APBDP. Jadi setelah meeting direksi akan ditetapkan. Aka nada lebih dari 140 rute di tahun depan," kata Joseph.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike mengatakan, PT Transportasi Jakarta setiap tahun selalu mendapatkan tambahan subsidi. Padahal, dalam penggunaanya, anggaran subsidi yang harusnya digunakan untuk pengguna bus dan kelompok masyarakat tertentu, kerap digunakan untuk hal di luar aturan.
Misalnya, kata Yuke, dalam penggunaan subsidi 2017 pada angkutan kota Koperasi Wahana Kalpika (KWK) yang sedikitnya menghabiskan dana sebesar Rp10 miliar dalam tiga bulan.
"Kalau memang anggaranya dari profit ya tetap harus dievaluasi usulan PSO 2018 nanti. Buat apa ditambahin kalau sudah punya keuntungan. Lebih baik dialihkan pada yang penting," kata Yuke saat dihubungi kemarin.
Yuke menjelaskan, usulan anggaran yang diajukan BUMD boleh saja berapapun nilainya. Namun tentunya harus dilampirkan pengunaannya. Sehingga, penggunaan anggaran tepat sasaran dan tidak merugikan negara.
Tidak hanya itu, politikus PDIP ini juga meminta BUMD, khususnya PT Transportasi Jakarta dapat memberika data pegawai dan aset-asetnya. Termasuk halte dan jembatan penyeberangan yang akan dikomersilkan oleh PT Transportasi Jakarta.
"Harusnya kalau sudah BUMD, PT Transjakarta memiliki keuntungan, apalagi mereka jadi operator juga kan," ungkapya.
Usulan subsidi PT Transportasi Jakarta pada 2018 sebesar Rp3,23 triliun itu tercantum dalam dokumen KUA-PPAS (Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara) yang akan menjadi dasar Rancangan APBD 2018 mendatang.
Direktur Utama TransJakarta Budi Kaliwono menjelaskan, setelah disuntik dana subsidi sebesar Rp2,8 triliun tahun ini, Transjakarta akan disubsidi lebih besar. Dana itu diberikan seiring dengan lebih banyaknya kebutuhan TransJakarta, seperti penambahan rute bus tahun depan.
Anehnya, Budi menyebut bahwa subsidi sebesar Rp3,2 Triliun itu akan digunakan untuk penambahan armada. Padahal, subsidi berupa PSO itu diketahui untuk mensubsidi tarif pengguna jasa yang seharusnya Rp13.000-15.000 menjadi Rp3.500.
"Tentu akan digunakan untuk biaya operasional, penambahan armada, dan penambahan rute di 2018," ungkapnya.
Tahun ini Transjakarta dikucurkan dana PSO sebesar Rp2,8 triliun. Anggaran tersebut digunakan untuk penumpang dari 3.040 bus yang akan datang hingga akhir tahun ini. Sampai akhir semester I tahun ini jumlah armada Transjakarta masih berjumlah 1.700.
Budi menjelaskan, pengadaan bus terkendala di karoseri. Banyak bus yang belum selesai atau selesai tapi tidak sesuai permintaan kemudian mengikuti proses review. Sehingga, dia memprediksi di akhir 2017 diperkirakan hanya akan ada 2.500 unit yang beroperasi.
"Saya inginnya ada 3.000 unit di tahun ini. Tapi, kayaknya enggak bisa. Masih ada sekitar 1.500 unit lagi yang belum selesai di karoseri," katanya.
Direktur Operasional TransJakarta Joseph Daud mengatakan, PSO 2018 juga akan digunakan untuk membeli armada bus jika target 3.000 unit tidak tercapai di akhir tahun. Termasul penambahan rute juga menjadi salah satu target TransJakarta di 2018.
Joseph Daud menjelaskan, jumlah rute bus yang saat ini sebanyak 88 rute nantinya akan ditambah dulu menggunakan dana APBDP 2017. Sehingga, jumlah rute menjadi sebanyak 140 rute. Dengan demikian, jumlah rute TransJakarta di tahun 2018 akan lebih dari 140 rute.
"Tapi rute fixed nya sedang kami formulasikan karena untuk 2017 sendiri kita masih ada APBDP. Jadi setelah meeting direksi akan ditetapkan. Aka nada lebih dari 140 rute di tahun depan," kata Joseph.
(mhd)