Parpol Ditinggal Konstituennya, Pilgub DKI Ajang Introspeksi Partai
Sabtu, 22 April 2017 - 19:21 WIB
Parpol Ditinggal Konstituennya, Pilgub DKI Ajang Introspeksi Partai
A
A
A
JAKARTA - Partai politik diminta untuk segera introspeksi diri setelah penyelenggaraan Pilgub DKI Jakarta 2017. Partai yang tidak mendengarkan keinginan masyarakat terbukti ditinggalkan oleh pendukungnya.
“Sebaiknya partai belajar banyak dari sini. Pemilih partai tidak taat pada plihan partainya dan itu berlaku untuk seluruhnya,” ujar Direktur Polmark Indonesia Eep Saefullah Fatah saat menjadi pembicara diskusi Polemik Sindo Trijaya Radio “Setelah Pilkada Usai” di Warung Daun Cikini Jakarta Sabtu (22/4/2017).
Polmark menurut Eep mencatat dari semua partai pendukung pasangan Ahok-Djarot, hanya PDIP yang kesolidan partainya mencapai 90% mendukung petahana.
Sementara partai pengusung lain ditinggal pendukungnya sendiri untuk menyeberang ke pasangan Anies-Sandi. “Bahkan Nasdem yang jadi tulang punggung mendukung Ahok dari awal ternyata hanya 54% didukung pemilihnya,” tutur Eep.
Hal yang sama juga terjadi di partai pendukung lain yang baru menyeberang diputaran kedua PPP dan PKB, mereka sama-sama ditinggalkan pendukungnya untuk menyeberang ke pasangan calon nomor urut 3.
“Sebanyak 70% pemilih mereka memilih paslon yang tidak didukung partainya. Jadi buat apa mendirikan partai kalau tidak mendengar pemilih mereka,” lanjut Eep.
Eep melihat ada kesamaan antara pilkada DKI 2017, dengan pelaksaan sebelumnya yaitu 2007 serta 2012. Dimana pemilih Jakarta selain rasional juga dinamis dalam memilih calon. Oleh karenanya kerja pemenangan harus sigap dan mikro.
“Rumus ini berlaku karena pemilih Jakarta dinamis. Kalau partai tidak memahami fenomena ini mereka tidak akan menang di Jakarta,” tambahnya.
“Sebaiknya partai belajar banyak dari sini. Pemilih partai tidak taat pada plihan partainya dan itu berlaku untuk seluruhnya,” ujar Direktur Polmark Indonesia Eep Saefullah Fatah saat menjadi pembicara diskusi Polemik Sindo Trijaya Radio “Setelah Pilkada Usai” di Warung Daun Cikini Jakarta Sabtu (22/4/2017).
Polmark menurut Eep mencatat dari semua partai pendukung pasangan Ahok-Djarot, hanya PDIP yang kesolidan partainya mencapai 90% mendukung petahana.
Sementara partai pengusung lain ditinggal pendukungnya sendiri untuk menyeberang ke pasangan Anies-Sandi. “Bahkan Nasdem yang jadi tulang punggung mendukung Ahok dari awal ternyata hanya 54% didukung pemilihnya,” tutur Eep.
Hal yang sama juga terjadi di partai pendukung lain yang baru menyeberang diputaran kedua PPP dan PKB, mereka sama-sama ditinggalkan pendukungnya untuk menyeberang ke pasangan calon nomor urut 3.
“Sebanyak 70% pemilih mereka memilih paslon yang tidak didukung partainya. Jadi buat apa mendirikan partai kalau tidak mendengar pemilih mereka,” lanjut Eep.
Eep melihat ada kesamaan antara pilkada DKI 2017, dengan pelaksaan sebelumnya yaitu 2007 serta 2012. Dimana pemilih Jakarta selain rasional juga dinamis dalam memilih calon. Oleh karenanya kerja pemenangan harus sigap dan mikro.
“Rumus ini berlaku karena pemilih Jakarta dinamis. Kalau partai tidak memahami fenomena ini mereka tidak akan menang di Jakarta,” tambahnya.
(ysw)