Ridwan Kamil: Jakarta Ribut karena Ahoknya, Bukan karena Partainya
Sabtu, 22 April 2017 - 14:39 WIB
Ridwan Kamil: Jakarta Ribut karena Ahoknya, Bukan karena Partainya
A
A
A
TASIKMALAYA - Bakal calon gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengakui Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta memang berdampak kepada Jabar. Namun dia mengatakan situasi politik dalam pilkada tidak bisa disamaratakan.
"Jakarta kan ribut karena Ahoknya, bukan karena masalah partainya. Kalau Jabar masak dipaksa-paksa seperti Jakarta, ya beda. Mau dicari-cari isu apa? Saya memadai, saya muslim, saya punya karya prestasi, punya jejak, punya akar di sini, mau di-Jakarta-kan saya kira enggak relevan," kata Ridwan Kamil seusai jalan santai yang digelar DPD Partai NasDem Kota Tasikmalaya di Kota Tasikmalaya, Sabtu (22/4/2017).
Ketua DPW Partai NasDem Saan Mustopa menyatakan, niat NasDem mendukung Ridwan Kamil maju di Pilgub Jabar 2018 didasari itikad yang baik untuk menjadikan Jabar lebih baik.
Saan juga menilai, antusiasme masyarakat menerima Emil sangat besar. Bahkan, Saan yakin masyarakat tidak mempersoalkan partai pendukung Emil. Saan juga menegaskan, dukungan partainya terhadap Emil tidak dalam konteks kepentingan Partai NasDem.
Diberitakan sebelumnya, Direktur Eksekutif Indonesia Strategic Institute (Instrat) Jalu Pradhono Priambodo mengatakan, dukungan Partai NasDem tidak membawa dampak positif bagi Ridwan Kamil. Lewat survei Instrat baru-baru ini, diperoleh kesimpulan bahwa masyarakat enggan menerima NasDem sebagai kendaraan politik Emil. Selain NasDem, lebih dari 50% responden juga tak menghendaki Emil diusung PDIP dan Hanura.
Di lain sisi, secara psikologis, Gerindra-PKS pun kini sangat berat kalau harus menerima pria yang akrab disapa Emil itu. Apalagi, kemenangan Anies-Sandi di Pilkada DKI Jakarta telah memberikan kekuatan besar bagi duet parpol itu untuk menatap kemenangan di Pilgub Jabar 2018. "Dukungan dari NasDem malah jadi momentum yang merugikan Emil," kata Jalu di Bandung, Kamis (20/4/2017).
Partai NasDem yang diprediksi berkoalisi dengan PDIP dalam pengusungan Emil pun dinilai takkan mampu mendongkrak elektabilitas Emil. Terlebih, dalam beberapa pilkada, sosok-sosok yang dijagokan PDIP satu per satu tumbang.
Menurut Jalu, di level akar rumput, kini sudah terbentuk sentimen negatif terhadap partai penguasa itu. Bila benar Emil jadi diusung PDIP, kata Jalu, akan berat pula bagi Emil untuk meraih kemenangan karena besarnya penolakan di level grassroot atau akar rumput. "Jika berkaca pada pilkada di DKI, beban itu kini ada di PDIP, termasuk NasDem." (Baca juga: Gerindra-PKS Mesra, Langkah Ridwan Kamil Makin Berat ).
"Jakarta kan ribut karena Ahoknya, bukan karena masalah partainya. Kalau Jabar masak dipaksa-paksa seperti Jakarta, ya beda. Mau dicari-cari isu apa? Saya memadai, saya muslim, saya punya karya prestasi, punya jejak, punya akar di sini, mau di-Jakarta-kan saya kira enggak relevan," kata Ridwan Kamil seusai jalan santai yang digelar DPD Partai NasDem Kota Tasikmalaya di Kota Tasikmalaya, Sabtu (22/4/2017).
Ketua DPW Partai NasDem Saan Mustopa menyatakan, niat NasDem mendukung Ridwan Kamil maju di Pilgub Jabar 2018 didasari itikad yang baik untuk menjadikan Jabar lebih baik.
Saan juga menilai, antusiasme masyarakat menerima Emil sangat besar. Bahkan, Saan yakin masyarakat tidak mempersoalkan partai pendukung Emil. Saan juga menegaskan, dukungan partainya terhadap Emil tidak dalam konteks kepentingan Partai NasDem.
Diberitakan sebelumnya, Direktur Eksekutif Indonesia Strategic Institute (Instrat) Jalu Pradhono Priambodo mengatakan, dukungan Partai NasDem tidak membawa dampak positif bagi Ridwan Kamil. Lewat survei Instrat baru-baru ini, diperoleh kesimpulan bahwa masyarakat enggan menerima NasDem sebagai kendaraan politik Emil. Selain NasDem, lebih dari 50% responden juga tak menghendaki Emil diusung PDIP dan Hanura.
Di lain sisi, secara psikologis, Gerindra-PKS pun kini sangat berat kalau harus menerima pria yang akrab disapa Emil itu. Apalagi, kemenangan Anies-Sandi di Pilkada DKI Jakarta telah memberikan kekuatan besar bagi duet parpol itu untuk menatap kemenangan di Pilgub Jabar 2018. "Dukungan dari NasDem malah jadi momentum yang merugikan Emil," kata Jalu di Bandung, Kamis (20/4/2017).
Partai NasDem yang diprediksi berkoalisi dengan PDIP dalam pengusungan Emil pun dinilai takkan mampu mendongkrak elektabilitas Emil. Terlebih, dalam beberapa pilkada, sosok-sosok yang dijagokan PDIP satu per satu tumbang.
Menurut Jalu, di level akar rumput, kini sudah terbentuk sentimen negatif terhadap partai penguasa itu. Bila benar Emil jadi diusung PDIP, kata Jalu, akan berat pula bagi Emil untuk meraih kemenangan karena besarnya penolakan di level grassroot atau akar rumput. "Jika berkaca pada pilkada di DKI, beban itu kini ada di PDIP, termasuk NasDem." (Baca juga: Gerindra-PKS Mesra, Langkah Ridwan Kamil Makin Berat ).
(zik)