Tak Pernah Direhab, Bangunan SD di Subang Nyaris Ambruk
Sabtu, 27 Agustus 2016 - 14:48 WIB
Tak Pernah Direhab, Bangunan SD di Subang Nyaris Ambruk
A
A
A
SUBANG - Sejumlah bangunan ruang kelas di SDN Batusari Desa Pangsor Kecamatan Pagaden Barat, Subang, nyaris ambruk akibat mengalami kerusakan parah di beberapa bagian.
Kondisi kerusakan kian meluas dan parah, karena sejak belasan tahun terakhir, sekolah milik pemerintah yang letaknya tidak jauh dari pusat kota tersebut, tidak pernah mendapat bantuan perbaikan.
Pantauan, sekolah yang mempekerjakan sembilan staf pengajar, dua di antaranya berstatus PNS ini, memiliki bangunan sebanyak tujuh lokal. Seluruh bangunan tersebut, kondisinya sudah lapuk dimakan usia.
Beberapa bagian bangunan, bahkan sudah hancur, lantai terkelupas, langit-langit, atap bangunan dan gentingnya ambruk, serta beberapa konstruksi jendela ruang kelas, hilang.
Akibatnya, jendela dan langit-langit ruangan yang rusak parah ini, terpaksa ditopang tiang bambu agar tidak ambruk.
"Kalau dibiarkan enggak diperbaiki terus, takutnya ambruk dan bahayakan keselamatan para siswa. Kalau lagi KBM (kegiatan belajar mengajar) juga suka khawatir, takut ada genteng atau atap ambruk, soalnya kerusakannya sudah parah," ujar Kepala SDN Batusari Edi Saprudin, Sabtu (27/8/2016).
Sekolah tersebut, papar dia, sudah belasan tahun silam yakni sejak tahun 2000 tidak pernah mendapat bantuan perbaikan dari pemerintah.
Sehingga, kerusakan bangunan kian parah dan meluas. Padahal, pihaknya sudah berkali-kali mengusulkan bantuan rehab, namun tidak pernah digubris oleh dinas pendidikan setempat.
"Sudah beberapa kali dan sudah sejak lama ngusulin bantuan, tapi enggak pernah direspon," keluhnya.
Akibat kondisi bangunannya yang memprihatinkan dan tidak nyaman untuk belajar, jumlah siswa sekolah ini kian berkurang setiap tahunnya. Dari semula mencapai ratusan siswa, kini jumlah siswa yang tersisa hanya 83 orang saja.
"Banyak orangtua siswa lebih memilih masukin anaknya ke sekolah lain yang bangunannya bagus. Makanya, siswa disini terus berkurang. Terlebih, di desa ini ada empat sekolah dasar. Jadi siswanya menyebar. Tapi, sekolah kami enggak pernah dipilih, mungkin karena kondisinya yang memprihatinkan," papar Edi.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, HE Kusdinar, menuding pihak sekolah kurang proaktip dalam mengajukan bantuan kepada pemerintah. Sebab, selama ini, fasilitas bantuan yang disediakan pemerintah, sangat banyak.
"Sebenarnya, bantuan untuk sekolah-sekolah itu kan banyak. Cuma, kepala sekolahnya saja yang kurang proaktip. Itu masalahnya. Dinas sendiri pasti akan bantu sekolah, jika memang sudah memenuhi syarat untuk dapat bantuan," pungkasnya.
Kondisi kerusakan kian meluas dan parah, karena sejak belasan tahun terakhir, sekolah milik pemerintah yang letaknya tidak jauh dari pusat kota tersebut, tidak pernah mendapat bantuan perbaikan.
Pantauan, sekolah yang mempekerjakan sembilan staf pengajar, dua di antaranya berstatus PNS ini, memiliki bangunan sebanyak tujuh lokal. Seluruh bangunan tersebut, kondisinya sudah lapuk dimakan usia.
Beberapa bagian bangunan, bahkan sudah hancur, lantai terkelupas, langit-langit, atap bangunan dan gentingnya ambruk, serta beberapa konstruksi jendela ruang kelas, hilang.
Akibatnya, jendela dan langit-langit ruangan yang rusak parah ini, terpaksa ditopang tiang bambu agar tidak ambruk.
"Kalau dibiarkan enggak diperbaiki terus, takutnya ambruk dan bahayakan keselamatan para siswa. Kalau lagi KBM (kegiatan belajar mengajar) juga suka khawatir, takut ada genteng atau atap ambruk, soalnya kerusakannya sudah parah," ujar Kepala SDN Batusari Edi Saprudin, Sabtu (27/8/2016).
Sekolah tersebut, papar dia, sudah belasan tahun silam yakni sejak tahun 2000 tidak pernah mendapat bantuan perbaikan dari pemerintah.
Sehingga, kerusakan bangunan kian parah dan meluas. Padahal, pihaknya sudah berkali-kali mengusulkan bantuan rehab, namun tidak pernah digubris oleh dinas pendidikan setempat.
"Sudah beberapa kali dan sudah sejak lama ngusulin bantuan, tapi enggak pernah direspon," keluhnya.
Akibat kondisi bangunannya yang memprihatinkan dan tidak nyaman untuk belajar, jumlah siswa sekolah ini kian berkurang setiap tahunnya. Dari semula mencapai ratusan siswa, kini jumlah siswa yang tersisa hanya 83 orang saja.
"Banyak orangtua siswa lebih memilih masukin anaknya ke sekolah lain yang bangunannya bagus. Makanya, siswa disini terus berkurang. Terlebih, di desa ini ada empat sekolah dasar. Jadi siswanya menyebar. Tapi, sekolah kami enggak pernah dipilih, mungkin karena kondisinya yang memprihatinkan," papar Edi.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, HE Kusdinar, menuding pihak sekolah kurang proaktip dalam mengajukan bantuan kepada pemerintah. Sebab, selama ini, fasilitas bantuan yang disediakan pemerintah, sangat banyak.
"Sebenarnya, bantuan untuk sekolah-sekolah itu kan banyak. Cuma, kepala sekolahnya saja yang kurang proaktip. Itu masalahnya. Dinas sendiri pasti akan bantu sekolah, jika memang sudah memenuhi syarat untuk dapat bantuan," pungkasnya.
(nag)