Amien Rais Disebut Pikun, PAN: Seharusnya Ahok Introspeksi
Selasa, 26 April 2016 - 15:50 WIB
Amien Rais Disebut Pikun, PAN: Seharusnya Ahok Introspeksi
A
A
A
JAKARTA - Lantaran menyebut Amien Rais pikun, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terus dikritik oleh internal Partai Amanat Nasional (PAN).
Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno mengatakan partainya selalu menekankan tata krama dan berpolitik secara santun, termasuk menghargai para pejuang dan pencerah bangsa.
"Tanpa reformasi yang digagas dan diperjuangkan Pak Amien Rais dan kawan-kawan, niscaya kita bisa merasakan iklim demokrasi, kebebasan berpolitik dan kesempatan menggapai cita-cita menjadi politikus, kepala daerah dan bahkan kepala negara," kata Eddy dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/4/2016).
Dia menambahkan bahwa kedewasaan, kematangan dan kearifan seseorang terlihat dari caranya ia membawakan dirinya dihadapan publik, apalagi jika ia adalah pejabat publik.
Lebih lanjut dia mengatakan, tidak elok dan pantas jika pejabat publik menumpahkan kemarahannya berulang-ulang di ruang publik dengan cara provokatif dan agitatif.
"Kita bangsa yang berbudaya tinggi, yang risih menyaksikan perilaku pejabat publik yang senantiasa murka untuk segala sesuatu yang menimpanya, seakan-akan kebenaran menjadi miliknya seorang," ucapnya.
Apalagi jika Ahok menyinggung dan mengejek pejuang reformasi bangsa ini dengan kata-kata tidak santun dan menyinggung perasaan jutaan anak bangsa yang mengapresiasi era demokrasi yang dinikmati saat ini.
"Semestinya ia melakukan introspeksi dan perenungan diri bahwa ia tidak akan dihargai orang lain sebelum ia bisa menghargai sesamanya, baik yang memuji ataupun yang mengkritisi dirinya," pungkasnya.
Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno mengatakan partainya selalu menekankan tata krama dan berpolitik secara santun, termasuk menghargai para pejuang dan pencerah bangsa.
"Tanpa reformasi yang digagas dan diperjuangkan Pak Amien Rais dan kawan-kawan, niscaya kita bisa merasakan iklim demokrasi, kebebasan berpolitik dan kesempatan menggapai cita-cita menjadi politikus, kepala daerah dan bahkan kepala negara," kata Eddy dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/4/2016).
Dia menambahkan bahwa kedewasaan, kematangan dan kearifan seseorang terlihat dari caranya ia membawakan dirinya dihadapan publik, apalagi jika ia adalah pejabat publik.
Lebih lanjut dia mengatakan, tidak elok dan pantas jika pejabat publik menumpahkan kemarahannya berulang-ulang di ruang publik dengan cara provokatif dan agitatif.
"Kita bangsa yang berbudaya tinggi, yang risih menyaksikan perilaku pejabat publik yang senantiasa murka untuk segala sesuatu yang menimpanya, seakan-akan kebenaran menjadi miliknya seorang," ucapnya.
Apalagi jika Ahok menyinggung dan mengejek pejuang reformasi bangsa ini dengan kata-kata tidak santun dan menyinggung perasaan jutaan anak bangsa yang mengapresiasi era demokrasi yang dinikmati saat ini.
"Semestinya ia melakukan introspeksi dan perenungan diri bahwa ia tidak akan dihargai orang lain sebelum ia bisa menghargai sesamanya, baik yang memuji ataupun yang mengkritisi dirinya," pungkasnya.
(ysw)