Hari-hari Terakhir Pangeran Diponegoro di Pengasingan

Senin, 18 April 2016 - 05:00 WIB
Hari-hari Terakhir Pangeran Diponegoro di Pengasingan
Hari-hari Terakhir Pangeran Diponegoro di Pengasingan
A A A
Pangeran Diponegoro adalah putra sulung dari Sultan Hamengkubuwana III, raja ketiga Kesultanan Yogyakarta. Lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta dengan nama Mustahar dari seorang selir bernama RA Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri selir) yang berasal dari Pacitan. Semasa kecilnya, Pangeran Diponegoro bernama Bendara Raden Mas Ontowiryo.

Perang antara Pangeran Diponegoro dan Belanda berawal ketika pihak pemerintah kolonial memasang patok di tanah milik Diponegoro di Desa Tegalrejo. Saat itu, dia memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran GPH Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah gua yang bernama Gua Selarong.

Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu.

Akibat perang ini Belanda harus membayar sangat mahal karena sebanyak 7.000 serdadu pribuminya serta 8.000 tentaranya sendiri tewas. Sementara biaya perang yang harus dikeluarkan mencapai 25 juta gulden (setara dengan USD 2,2 miliar saat ini). Karenanya Belanda dengan memanfaatkan segala cara untuk menangkap Pangeran Diponegoro untuk menghentikan perang Jawa ini.

Sehingga setelah diperdaya dalam perundingan dengan Letnan Jenderal Hendrik Merkus De Kock di Magelang pada 28 Maret 1830 akhirnya pihak Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro.

Sebelumnya De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan ke Batavia menggunakan Kapal Pollux pada 5 April di tahun yang sama.

Lalu pada 11 April 1830 sang pangeran sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Johannes Van den Bosch.

Lalu 30 April 1830 keputusan pun keluar, Pangeran Diponegoro serta para pengikut lainnya dibuang ke Manado.

Pada 3 Mei 1830 Pangeran Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan Kapal Pollux yang dilengkapi 16 meriam laut ke Manado.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1697 seconds (11.97#12.26)