Takut Bangkrut, Pengusaha Metro Mini Berniat Gabung ke Transjakarta
Rabu, 06 Januari 2016 - 20:57 WIB
Takut Bangkrut, Pengusaha Metro Mini Berniat Gabung ke Transjakarta
A
A
A
JAKARTA - Pengusaha Metro Mini mulai kalang-kabut dengan rencana Pemprov DKI untuk mengambil alih seluruh rute. Sejumlah pengusaha Metro Mini pun berniat gabung ke PT Transjakarta.
Salah satu pengusaha Metromini P-17 jurusan Senen Manggarai, Azas Tigor Nainggolan mengapresiasi adanya ajakan Ahok untuk bergabung.
"Sepakat kok. Saya sendiri ingin gabung ke PT Transjakarta. Segera dibangun sistemnya supaya lebih cepat terintegrasi," kata Tigor kepada Sindonews di kantornya di Cipinang Bali, Jakarta Timur, Rabu (6/1/2016).
Para pemilik Metro Mini mengaku tidak ada pilihan lain untuk tetap bisa melayani penumpang. Jika dipaksakan jalan sendiri secara perlahan akan mati atau ditinggalkan penumpang.
"Ya mau gimana lagi. Saya dan teman-teman sepakat satu tarif itu. Kalau bertahan akan mati sendiri. Asal manajemennya harus profesional," tambahnya.
Selama ini, Metro Mini terkendala bergabung ke Transjakarta karena terjadi dualisme kepemimpinan.
"Ya makanya pas Dishub bilang kita boleh gabung ke Kopaja ya itu bisa menjadi jalan keluar. Ketimbang begini-begini terus," terangnya.
Sementara itu, Ucok (40) sopir Metromini 47 jurusan Senen- Pondok Kopi juga tidak banyak berharap. Dia akan mengikuti apa keputusan pemiliknya. (Baca: Soal Metro Mini, Ahok Angkat Tangan)
"Kita mah tergantung yang punya saja. Kalau pindah ya ayo. Kalau gak ya sepi begini. Apapun itu yang jelas ada duit bisa buat ngasih makan anak bini bang," tegasnya.
Sebelumnya dikabarkan Ahok telah menetapkan tarif Rp3.500 bagi seluruh armada Transjakarta maupun bus pengumpan. Langkah ini dinilai jitu untuk menarik minat penumpang Metromini agar mau pindah ke dalam bus yang lebih baik.
Salah satu pengusaha Metromini P-17 jurusan Senen Manggarai, Azas Tigor Nainggolan mengapresiasi adanya ajakan Ahok untuk bergabung.
"Sepakat kok. Saya sendiri ingin gabung ke PT Transjakarta. Segera dibangun sistemnya supaya lebih cepat terintegrasi," kata Tigor kepada Sindonews di kantornya di Cipinang Bali, Jakarta Timur, Rabu (6/1/2016).
Para pemilik Metro Mini mengaku tidak ada pilihan lain untuk tetap bisa melayani penumpang. Jika dipaksakan jalan sendiri secara perlahan akan mati atau ditinggalkan penumpang.
"Ya mau gimana lagi. Saya dan teman-teman sepakat satu tarif itu. Kalau bertahan akan mati sendiri. Asal manajemennya harus profesional," tambahnya.
Selama ini, Metro Mini terkendala bergabung ke Transjakarta karena terjadi dualisme kepemimpinan.
"Ya makanya pas Dishub bilang kita boleh gabung ke Kopaja ya itu bisa menjadi jalan keluar. Ketimbang begini-begini terus," terangnya.
Sementara itu, Ucok (40) sopir Metromini 47 jurusan Senen- Pondok Kopi juga tidak banyak berharap. Dia akan mengikuti apa keputusan pemiliknya. (Baca: Soal Metro Mini, Ahok Angkat Tangan)
"Kita mah tergantung yang punya saja. Kalau pindah ya ayo. Kalau gak ya sepi begini. Apapun itu yang jelas ada duit bisa buat ngasih makan anak bini bang," tegasnya.
Sebelumnya dikabarkan Ahok telah menetapkan tarif Rp3.500 bagi seluruh armada Transjakarta maupun bus pengumpan. Langkah ini dinilai jitu untuk menarik minat penumpang Metromini agar mau pindah ke dalam bus yang lebih baik.
(ysw)