Revitalisasi TSTJ Diprediksi Telan Biaya Rp100 M
Selasa, 15 Desember 2015 - 00:05 WIB
Revitalisasi TSTJ Diprediksi Telan Biaya Rp100 M
A
A
A
SOLO - Revitalisasi Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) atau Taman Jurug di Kota Solo, Jawa Tengah, dikonsep open zoo. Revitalisasi kebun binatang yang terletak di tepi Sungai Bengawan Solo itu diprediksi menelan dana Rp100 miliar.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) Tony Sumampau mengatakan, ada berbagai konsep untuk revitalisasi TSTJ.
Setelah melihat secara langsung kondisi TSTJ, tim PKBSI dan South East Asia Zoo Association (SEAZA) akan duduk bersama menuangkan gagasan revitalisasi dalam bentuk gambar dan draft.
Pengelola TSTJ juga akan diikutkan guna memberikan saran masukan apakah gambar sudah sesuai atau tidak. "Setelah itu baru kami hitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk revitalisasi," ujar Tony Sumampau di sela-sela survei dan konsultasi revitalisasi TSTJ di Kota Solo, Senin (14/12/2015).
Survei juga melibatkan personel dari SEAZA. Nilai anggaran akan diajukan ke pemerintah pusat karena Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyatakan siap membantu mencarikan pendanaan.
Tony sedikit membocorkan konsep revitalisasi TSTJ, yakni akan dibuat open zoo atau kebun binatang terbuka dengan meminimalisir jeruji sebagaimana yang ada seperti sekarang. Sehingga, suasana TSTJ nampak lebih nyaman dan bagus.
Dalam konsep open zoo, dibutuhkan partisipasi pengunjung dengan tidak membuang sampah seenaknya dan memberi makanan ke satwa. Selain itu juga tidak diperkenankan loncat masuk ke sarana satwa.
Pengunjung dapat melihat dengan jelas ke arah satwa dengan pandangan mata sejajar. Kandang satwa dibuat sedemikian rupa dengan tanaman sebagai kamuflase.
"Jadi pagarnya tidak nampak tapi tetap ada batas pengaman dengan pengunjung," tuturnya.
Vegetasi yang ada di TSTJ dinilai juga mendukung sebagai makanan satwa namun belum dimanfaatkan. Dengan luas lahan TSTJ yang mencapai 13 hektare, anggaran revitalisasi dengan konsep open zoo diperkirakan menelan dana Rp100 miliar.
Revitalisasi dinilai cukup melibatkan tim BKPSI dan SEAZA ditambah arsitek lokal untuk menggambar detail setiap kandang dan pintunya.
Tim juga telah memiliki gambaran untuk menarik sisi kearifan lokal Kota Solo dalam desain TSTJ.
"Seminggu lalu kami telah membahasnya mengenai apa saja yang menjadi khas Solo."
Hasilnya adalah keberadaan Sungai Bengawan Solo yang ada di pinggiran TSTJ serta Keraton Kasunanan Surakarta sebagai sesuatu yang khas. Karena itu harus ada cara memanfaatkannya. Bahkan ada kemungkinan aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa itu akan ditarik ke area TSTJ. "Kalau sekarang hampir tidak ada manfaatnya untuk TSTJ."
Nantinya, pengunjung TSTJ dapat beristirahat sembari menikmati aliran sungai. Dengan ditata baik, sungai bisa menjadi tujuan wisata. Mengingat sungai ditangani instansi lain, revitalisasi tetap akan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) Tony Sumampau mengatakan, ada berbagai konsep untuk revitalisasi TSTJ.
Setelah melihat secara langsung kondisi TSTJ, tim PKBSI dan South East Asia Zoo Association (SEAZA) akan duduk bersama menuangkan gagasan revitalisasi dalam bentuk gambar dan draft.
Pengelola TSTJ juga akan diikutkan guna memberikan saran masukan apakah gambar sudah sesuai atau tidak. "Setelah itu baru kami hitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk revitalisasi," ujar Tony Sumampau di sela-sela survei dan konsultasi revitalisasi TSTJ di Kota Solo, Senin (14/12/2015).
Survei juga melibatkan personel dari SEAZA. Nilai anggaran akan diajukan ke pemerintah pusat karena Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyatakan siap membantu mencarikan pendanaan.
Tony sedikit membocorkan konsep revitalisasi TSTJ, yakni akan dibuat open zoo atau kebun binatang terbuka dengan meminimalisir jeruji sebagaimana yang ada seperti sekarang. Sehingga, suasana TSTJ nampak lebih nyaman dan bagus.
Dalam konsep open zoo, dibutuhkan partisipasi pengunjung dengan tidak membuang sampah seenaknya dan memberi makanan ke satwa. Selain itu juga tidak diperkenankan loncat masuk ke sarana satwa.
Pengunjung dapat melihat dengan jelas ke arah satwa dengan pandangan mata sejajar. Kandang satwa dibuat sedemikian rupa dengan tanaman sebagai kamuflase.
"Jadi pagarnya tidak nampak tapi tetap ada batas pengaman dengan pengunjung," tuturnya.
Vegetasi yang ada di TSTJ dinilai juga mendukung sebagai makanan satwa namun belum dimanfaatkan. Dengan luas lahan TSTJ yang mencapai 13 hektare, anggaran revitalisasi dengan konsep open zoo diperkirakan menelan dana Rp100 miliar.
Revitalisasi dinilai cukup melibatkan tim BKPSI dan SEAZA ditambah arsitek lokal untuk menggambar detail setiap kandang dan pintunya.
Tim juga telah memiliki gambaran untuk menarik sisi kearifan lokal Kota Solo dalam desain TSTJ.
"Seminggu lalu kami telah membahasnya mengenai apa saja yang menjadi khas Solo."
Hasilnya adalah keberadaan Sungai Bengawan Solo yang ada di pinggiran TSTJ serta Keraton Kasunanan Surakarta sebagai sesuatu yang khas. Karena itu harus ada cara memanfaatkannya. Bahkan ada kemungkinan aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa itu akan ditarik ke area TSTJ. "Kalau sekarang hampir tidak ada manfaatnya untuk TSTJ."
Nantinya, pengunjung TSTJ dapat beristirahat sembari menikmati aliran sungai. Dengan ditata baik, sungai bisa menjadi tujuan wisata. Mengingat sungai ditangani instansi lain, revitalisasi tetap akan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).
(zik)