KH Yusuf Tauziri, Pendiri Laskar Darussalam Penentang Kartosoewirjo

Jum'at, 20 November 2015 - 05:00 WIB
KH Yusuf Tauziri, Pendiri...
KH Yusuf Tauziri, Pendiri Laskar Darussalam Penentang Kartosoewirjo
A A A
KH Yusuf Tauziri merupakan pendiri Masjid serta Pondok Pesantren Darussalam di Wanaraja, Garut pada tahun 1929.

Selain aktif dalam kegiatan pendidikan Islam, KH Yusuf Tauziri juga memantapkan diri terlibat dalam perlawanan penjajahan yang mengakibatkan dirinya dijebloskan ke dalam penjara oleh Jepang dengan tudingan sabotase.

Kiprahnya yang tidak kalah penting pada masa revolusi adalah terbentuknya Laskar Darussalam.

Menyusul kembalinya Belanda ke tanah air yang lantas menguasai Wanaraja, Yusuf bersama laskarnya hijrah ke utara Wanaraja, tepatnya di Pesantren Cipari, sebuah pesantren di sebelah utara Wanaraja.

Dulu Cipari ini merupakan bagian dari Wanaraja, kemudian ada pemekaran kecamatan, Cipari menjadi wilayah di Kecamatan Pangatikan.

Di sinilah beliau menyusun kembali laskarnya dan menjadikan Pesantren Cipari sebagai markas perlawanan terhadap penjajah.

Kemduian sejak masa prakemerdekaan KH Yusuf telah lama mengenal Kartosuwiryo di Sarikat Islam (SI). Persahabatan itu sudah terjalin sekitar 20 tahun.

Kiai Yusuf mengenal Kartosoewirjo ketika menjadi anggota Dewan Sentral Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada 1931-1938. Yusuf pun menjadi salah seorang penasihat Kartosoewirjo.

Keluarga keduanya juga bahu-membahu dalam perjuangan melawan penjajah di Jawa Barat. Istri Kartosoewirjo, Dewi Siti Kalsum, bergaul akrab dengan adik-adik perempuan Kiai Yusuf yang memimpin seksi wanita Gerakan Pemuda Islam Indonesia Garut.

Perbedaan paham KH Yusuf dan Kartosoewirjo bermula pada awal 1940, Kartosoewirjo mengusulkan lembaga Suffah dalam kongres Komite Pembela Kebenaran. Komite ini merupakan pecahan PSII yang memilih jalan nonkooperatif dengan Belanda.

Dalam kongres itu, Kartosoewirjo memperkenalkan konsep hijrah, sama pengertiannya dengan hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Ia meminta setiap anggota menyumbangkan 2.500 kencring (2.500 sen atau 25 gulden) serta bergabung ke Suffah.

Sementara Kiai Yusuf berpendapat belum saatnya hijrah total. Alasannya, persiapan belum matang. Ia mengusulkan uang ditanamkan di bidang pertanian.

Hasilnya bisa dimanfaatkan untuk membantu pendidikan para calon ulama dan pemimpin. Kartosoewirjo lalu mendirikan lembaga Suffah pada Maret 1940.

Kiai Yusuf sebenarnya secara tak langsung masih mendukung Suffah. Pada awal pendiriannya, ia mengirimkan dua anak laki-laki sebagai pengajar. Ia pun memasukkan keponakannya sebagai pelajar.

Pada Februari 1948, Kartosoewirjo mengadakan konferensi Darul Islam (DI/NII) pertama di Cisayong, Tasikmalaya.

Pertemuan itu membentuk struktur organisasi gerakan perlawanan, yang dipertegas dalam konferensi kedua di Cipeundeuy, Cirebon. Kartosoewirjo makin mematangkan gagasan Negara Islam yang terpisah dari republik ini.

Kiai Yusuf dan pengikutnya menganggap gagasan mendirikan Negara Islam dengan meninggalkan Republik terlalu jauh. Hingga akhirnya Pesantren Darussalam dianggap melawan Imam Kartosoewirjo.

Apalagi Pesantren Darussalam juga dijadikan tempat berlindung penduduk yang tak mau memberikan hartanya kepada tentara Darul Islam (DI/NII).

Pesantren pun menjadi target dan 1949-1958, pasukan Darul Islam (DI/NII), menyerang Desa Cipari lebih dari 46 kali.

Kartosoewirjo berniat menghabisi Kiai Yusuf sekeluarga serta pengikutnya dengan serangan besar-besaran pada 17 April 1952.

Dalam penyerbuan 17 April 1952 itu, empat pengawal pesantren dan tujuh penduduk Cipari tewas. Kiai Bustomi, kakak ipar Kiai Yusuf, juga menjadi korban. Ia ditembak ketika hendak berlindung di Masjid.

Serbuan ini menimbulkan kengerian penduduk Cipari. Mereka menemukan lusinan mayat di sawah dan kolam ikan. Bahkan air kolam di sekitar pesantren pun berwarna kemerahan.

Peristiwa itu menghantui penduduk, terutama perempuan dan anak-anak. Mereka ketakutan setiap kali mendengar langkah kaki orang di luar rumah pada malam hari.

Temuan mayat juga membuat banyak warga Cipari enggan bersawah. Mereka pun tak mau makan ikan. Selama dua tahun ikan hasil ternak warga tidak laku dijual.

Namun, peristiwa pengepungan di Desa Cipari tersebut, tak membuyarkan Pesantren Darussalam.

Kecintaan kepada Republik Indonesia, justru membuat Laskar Darussalam memilih untuk memperkuat Barisan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), sebagai cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Itulah mengapa KH Yusuf Tauziri identik dengan Laskar Darussalam, tak dapat dipisahkan, bagai ikan dengan air. Dan mereka tak terpisahkan dengan keberadaan Tentara Nasional Indonesia.

Pada saat terjadi pemberontakan NII/DI, Darussalam yang memang dijadikan benteng pertahanan oleh TNI, menjadi sasaran penyerangan yang dilakukan oleh Kartosuwiryo dan kawan-kawan.

Jejak berondongan peluru masih terekam jelas dan menjadi tapak sejarah akan lahirnya perjuangan mempertahankan Republik ini.

Nama Yusuf Tauziri pun jelas tertoreh di dalam sejarah TNI, khususnya Kodam Siliwangi, sebagai seorang tokoh pejuang yang berperan serta atas lahirnya Tentara Nasional Indonesia.

Kiai Yusuf Tauziri wafat di Garut pada 1982. Makamnya di lingkungan Pesantren Darussalam, Wanaraja, Garut, kampung halamannya.

Sumber:

Komunita ngejah.wordpress
inilahgarut
diolah dariberbagai sumber
(nag)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Jakarta Fair 2026, Dishub...
Jakarta Fair 2026, Dishub DKI Jakarta Siapkan 6 Kantong Parkir
31 menit yang lalu
Dorong Pengembangan...
Dorong Pengembangan Sport Tourism, PPK Kemayoran Gelar Turnamen Padel
1 jam yang lalu
Bangun MIN 5 Pidie Jaya...
Bangun MIN 5 Pidie Jaya yang Hanyut Akibat Banjir, Kemenag Alokasikan Rp12 Miliar
1 jam yang lalu
Perikhsa Riders Touring...
Perikhsa Riders Touring Perdana Malang-Bali, Bamsoet Tekankan Disiplin dan Persatuan
2 jam yang lalu
Polisi Sebut Demo di...
Polisi Sebut Demo di Bundaran HI Tidak Sesuai Aturan, Begini Respons BEM UI
2 jam yang lalu
Ratusan Kepsek di Sulsel...
Ratusan Kepsek di Sulsel Mundur Buntut Temuan BPK Terkait Dana BOS, DPR Dorong Evaluasi
3 jam yang lalu
Infografis
Aguan Sugianto, Pengusaha...
Aguan Sugianto, Pengusaha Sukses Pendiri Agung Sedayu Group
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved