Bebaskan Lahan Candi Kalasan, BPCB Minta Bantuan Pemkab Sleman

Minggu, 23 Agustus 2015 - 06:00 WIB
Bebaskan Lahan Candi...
Bebaskan Lahan Candi Kalasan, BPCB Minta Bantuan Pemkab Sleman
A A A
YOGYAKARTA - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta meminta bantuan Pemerintah Kabupaten Sleman untuk membantunya membebaskan lahan di sekitar Candi Kalasan.

Kepala Kelompok Kerja Perlindungan BPCB Yogyakarta Muhammad Taufik mengatakan, setidaknya saat ini masih ada empat warga yang belum berkenan tanahnya dibeli.

"Empat warga, yang berada di sisi utara candi, atau tepat di tepi jalan raya," kata dia, Sabtu (22/8/2015).

Padahal, rumah warga yang berada di tepi jalan raya tersebut merupakan yang paling menjadi fokusnya. Karena, salah satu tujuan pemugaran candi tersebut agar dapat dilihat oleh masyarakat yang lewat Jalan Yogya-Solo di dekatnya.

Karena masih alotnya negosiasi tersebut, pihaknya pun meminta bantuan Pemkab Sleman. "Kita hanya sesuai prosedur saja. Beberapa bangunan itu ada IMB (Izin Mendirikan Bangunan) tidak. Kemarin kita sudah ngomong ke provinsi dan mau diteruskan ke kabupaten," katanya.

Dengan begitu, pihaknya berharap tanah-tanah di utara candi bisa segera dikerjakan untuk ditata. "Beberapa rumah di utara candi sudah ada yang terbebaskan. Sisa empat rumah itu. Tahun ini semoga bisa," katanya.

Jika memang tetap tak bisa dilakukan di tahun ini, pihaknya pun harus melakukan pengajuan anggaran lagi. "Anggaran kemarin, sebanyak Rp9,5 miliar dari danais (dana keistimewaan). Target kita bisa secepatnya selesai," ucapnya.

Pemugaran Candi Kalasan ini memang perlu dilakukan, karena kondisinya yang sudah mulai lapuk. Namun, BPCB masih belum menentukan apakah akan dilakukan secara parsial atau total.

Menurut Kepala Seksi Perlindungan dan Pemanfaatan BPCB Yogyakarta Wahyu Astuti, pihaknya masih akan bertemu beberapa ahli arkeologi untuk membahas pengerjaan pemugaran ini. Dua konsep pemugaran tersebut masing-masing mempunyai risikonya

Jika dilakukan secara parsial, candi harus diberi atap setinggi lebih dari 30 meter. Sementara, jika total maka lapisan braja lepa di reliefnya dikhawatirkan hilang. Kedua risiko tersebut akan mengurangi keindahan candi itu sendiri.

"Karena di kawasan itu merupakan daerah resapan air, kita juga harus membuat saluran gorong-gorong di sekitarnya. Jadi harus sekalian dikerjakan," ucapnya.
(zik)
Berita Terkait
Pemugaran Candi Perwara...
Pemugaran Candi Perwara Prambanan
DKI Terbitkan Surat...
DKI Terbitkan Surat Pemugaran Gedung IMS GBK
Candi Borobudur, Prambanan,...
Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Dibuka Kembali Juni 2020
Libatkan 20 Desa, TWC...
Libatkan 20 Desa, TWC Siapkan Sandal Khusus Naik Candi Borobudur
Acara Slametan Awali...
Acara Slametan Awali Pemugaran Pesanggrahan Langenharjo Keraton Solo
Penutupan Candi Borobudur,...
Penutupan Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Diperpanjang
Berita Terkini
World Chiz Day 2026,...
World Chiz Day 2026, Prochiz Sasar Lebih dari 1.000 Siswa SD di Tiga Kota
22 menit yang lalu
Keberhasilan Memanfaatkan...
Keberhasilan Memanfaatkan Bonus Demografi Bergantung pada Kualitas Generasi Muda
1 jam yang lalu
Warga Wanam Harap Pembangunan...
Warga Wanam Harap Pembangunan PSN di Papua Selatan Dilanjutkan
1 jam yang lalu
PLN Cikarang Tegaskan...
PLN Cikarang Tegaskan Jarak Aman 3 Meter, Kegiatan Berisiko Tinggi Wajib Koordinasi
1 jam yang lalu
5 Jam Diperiksa Polda...
5 Jam Diperiksa Polda Metro, Saiful Mujani Dicecar 37 Pertanyaan
2 jam yang lalu
Tiket Jakarta Fair 2026...
Tiket Jakarta Fair 2026 Mulai Dibuka Hari ini, Targetkan 6 Juta Pengunjung
2 jam yang lalu
Infografis
Penerima Bansos 2026...
Penerima Bansos 2026 Wajib Tahu! Ini Penjelasan Desil yang Jadi Penentu Kelayakan Bantuan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved