Hindari Tindakan Diskriminasi, PRT Harus Paham Peraturan

Selasa, 18 Agustus 2015 - 09:10 WIB
Hindari Tindakan Diskriminasi,...
Hindari Tindakan Diskriminasi, PRT Harus Paham Peraturan
A A A
SEMARANG - Faktor pendidikan dinilai berperan dalam tingginya kasus tindak diskriminatif terhadap pekerja rumah tangga (PRT) di Kota Semarang.

Pekerja tidak memahami aturan perundang-undangan, termasuk hak-haknya sebagai PRT. Ketua Serikat Pekerja Rumah Tangga (PRT) Merdeka Kota Semarang Nur Kasanah menyatakan, sekitar 80% dari seluruh PRT yang ada di Kota Atlas memiliki tingkat pendidikan sangat rendah.

“Tak hanya di Kota Semarang, hampir di seluruh Indonesia banyak PRT yang berpendidikan rendah. Akibatnya, mereka hanya mau bekerja tanpa mengetahui hak-haknya yang melekat pada majikannya. Inilah yang menyebabkan banyak majikan memanfaatkan ketidaktahuan PRT untuk melakukan tindakan diskriminatif,” katanya saat ditemui dalam acara sekolah PRT di Desa Kedung Jangan Kota Semarang kemarin.

Kondisi ini diperparah dengan sikap pemerintah yang terkesan tutup mata terhadap perlakuan diskriminatif PRT. Nur Kasanah mengatakan, tidak ada upaya apa pun yang dilakukan untuk memberikan bantuan kepada mereka khususnya di bidang pendidikan.

“Sampai sekarang tidak ada upaya pemerintah menyelesaikan masalah ini. Selama ini para PRT tidak pernah dibekali pelatihan- pelatihan oleh pemerintah. Padahal, PRT juga sangat perlu untuk mendapatkan pelatihan seperti di Balai Latihan Kerja (BLK) yang diberikan calon pekerja luar negeri,” tandasnya.

Nur Kasanah menyatakan, kondisi tersebutlah yang mendasarinya mendirikan sekolah PRT pada serikat yang didirikannya itu. Dalam sekolah tersebut, semua anggota yang merupakan PRT diajarkan soal hukum, peraturan perundang-undangan, kesehatan perempuan, serta pengetahuan tentang hak-hak mereka.

“Selain memberikan pengetahuan akan hak-hak mereka, seperti hak mendapatkan upah layak, hak cuti, dan sebagainya, sekolah ini juga kami harapkan mampu menjadikan PRT semakin percaya diri melawan tindakan diskriminatif,” paparnya.

Salah satu peserta sekolah PRT, Soimah, 24, menilai pendidikan informal yang diikutinya sangat memberikan manfaat. Selain, dia juga diajarkan bagaimana cara bernegosiasi dengan majikan terkait hakhaknya sebagai PRT.

“Dulu sebelum ikut sekolah ini, mau menolak atau meminta sesuatu dari majikan saja takut dan tidak berani. Setelah ikut sekolah dan mengetahui bahwa saya memiliki hak-hak untuk itu, saya jadi berani berkomunikasi dengan majikan,” ungkap perempuan asal Wonosobo ini.

Andika prabowo
(ftr)
Berita Terkait
Kearifan Lokal, Wakil...
Kearifan Lokal, Wakil Kepala BPIP: Pancasila Falsafah Bangsa
Digitalisasi Konservasi...
Digitalisasi Konservasi Mangrove
Potret Festival Dolanan...
Potret Festival Dolanan Anak 2025 di Lapangan Laboratorium Prof Soegijono FIK Unnes
Ganjar Pranowo, Gubernur...
Ganjar Pranowo, Gubernur yang Merakyat
4 Kota dengan Janda...
4 Kota dengan Janda Terbanyak di Jawa Tengah, Nomor 3 Lebih dari 5.000
6 Penghargaan yang Diterima...
6 Penghargaan yang Diterima Ganjar Pranowo saat Menjadi Gubernur Jawa Tengah
Berita Terkini
Peringati Hari Lingkungan...
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sentul City Tanam 3.850 Pohon
2 jam yang lalu
Gelar Pernas XIII di...
Gelar Pernas XIII di Klaten, FMKI Keluarkan Seruan Moral
2 jam yang lalu
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan SK Hutan Adat Jambi hingga Bali Seluas 1.175 Hektare
3 jam yang lalu
Fasilitas Pengemasan...
Fasilitas Pengemasan Minyak Goreng di Surabaya Percepat Pasokan ke Indonesia Timur
3 jam yang lalu
Taruna Nusantara Cimahi-Redea...
Taruna Nusantara Cimahi-Redea Institute Kerja Sama Peningkatan Kualitas Akademik
5 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
6 jam yang lalu
Infografis
Ukraina Harus Setor...
Ukraina Harus Setor Logam Tanah Jarang jika Ingin Dibantu AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved