Main Petasan, Tangan Bocah Ini Remuk dan Lima Jarinya Putus
Sabtu, 25 Juli 2015 - 16:44 WIB
Main Petasan, Tangan Bocah Ini Remuk dan Lima Jarinya Putus
A
A
A
BUKITTINGGI - Satria Juniar (7) terus mengerang kesakitan saat dirawat di Rumah Sakit dr Ahmad Mukhtar Bukittinggi, Sumatera Barat.
Pasalnya, bocah yang masih duduk di bangku SDN 06 Kubu Sungai Batang itu, harus kehilangan lima dari sepuluh jari di kedua tangannya akibat petasan yang dipegangnya meledak.
Kedua telapak tangan bocah yang akrab disapa Icat itu pun remuk sehingga dokter memutuskan untuk mengamputasi lima jarinya.
Peristiwa nahas itu bermula, saat Icat meminta uang kepada ibunya untuk membeli sate di Pasar Batang yang tak jauh dari rumah korban pada Rabu 22 Juli 2015 lalu.
Kepada ibunya Icat menyebutkan, sebelum sampai di tempat pedagang sate salah seorang pedagang petasan membujuk dan menawarkan Icat untuk membeli petasan jenis baru seharga Rp8 ribu.
Icat dan temannya pun membeli dan memainkan petasan di belakang rumahnya. Icat memegang petasan dengan kedua tangannya.
Sementara temannya membakar sumbu petasan, nahas hanya sepersekian detik sumbu tersulut api petasan langsung meledak saat dipegang korban.
"Katanya dia lupa beli sate karena melihat petasan, terus diledakkan di belakang rumah. Kakek dan nenek sempat kaget mendengar bunyi petasan. Namun tiba-tiba Icat lari mengejar nenek dengan tangan sudah terluka kemudian dibawa ke Puskemas," kata Neva Angraini yang juga ibu korban, Sabtu (25/7/2015).
Dikatakan, warga yang mendengar suara petasan tersebut awalnya sempat mengira itu suara ledakan tabung gas. Mereka baru tahu itru petasan setelah Icat berlari mendekati neneknya dengan tangah terluka.
"Saya berharap kepada aparat kepolisian supaya memberantas penjualan petasan karena sangat berbahaya terutama bagi anak-anak," pinta Neva.
Sementara aparat kepolisian dibantu warga sempat mencari keberadaan penjual petasan. Namun para penjual petasan yang biasa mangkal di pasar semuanya menghilang. Diduga para pedagang mengetahui musibah yang menimpa Icat.
Pasalnya, bocah yang masih duduk di bangku SDN 06 Kubu Sungai Batang itu, harus kehilangan lima dari sepuluh jari di kedua tangannya akibat petasan yang dipegangnya meledak.
Kedua telapak tangan bocah yang akrab disapa Icat itu pun remuk sehingga dokter memutuskan untuk mengamputasi lima jarinya.
Peristiwa nahas itu bermula, saat Icat meminta uang kepada ibunya untuk membeli sate di Pasar Batang yang tak jauh dari rumah korban pada Rabu 22 Juli 2015 lalu.
Kepada ibunya Icat menyebutkan, sebelum sampai di tempat pedagang sate salah seorang pedagang petasan membujuk dan menawarkan Icat untuk membeli petasan jenis baru seharga Rp8 ribu.
Icat dan temannya pun membeli dan memainkan petasan di belakang rumahnya. Icat memegang petasan dengan kedua tangannya.
Sementara temannya membakar sumbu petasan, nahas hanya sepersekian detik sumbu tersulut api petasan langsung meledak saat dipegang korban.
"Katanya dia lupa beli sate karena melihat petasan, terus diledakkan di belakang rumah. Kakek dan nenek sempat kaget mendengar bunyi petasan. Namun tiba-tiba Icat lari mengejar nenek dengan tangan sudah terluka kemudian dibawa ke Puskemas," kata Neva Angraini yang juga ibu korban, Sabtu (25/7/2015).
Dikatakan, warga yang mendengar suara petasan tersebut awalnya sempat mengira itu suara ledakan tabung gas. Mereka baru tahu itru petasan setelah Icat berlari mendekati neneknya dengan tangah terluka.
"Saya berharap kepada aparat kepolisian supaya memberantas penjualan petasan karena sangat berbahaya terutama bagi anak-anak," pinta Neva.
Sementara aparat kepolisian dibantu warga sempat mencari keberadaan penjual petasan. Namun para penjual petasan yang biasa mangkal di pasar semuanya menghilang. Diduga para pedagang mengetahui musibah yang menimpa Icat.
(nag)