Penagih Listrik Cabuli Gadis Terbelakang Mental
Kamis, 02 Juli 2015 - 18:00 WIB
Penagih Listrik Cabuli Gadis Terbelakang Mental
A
A
A
PADANG - Entah apa yang ada dipikiran Endam Syofian (40) warga Pantai Air Manis, Kecamatan Sipora Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat tega mencabuli seorang gadis memiliki keterbelakangan mental berinisial TW.
Ironisnya, perbuatan tersebut dilakukan pelaku saat dirinya yang bekerja di PLN tengah melakukan tugas menagih listrik di rumah korban di Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah.
Akibat ulahnya tersebut, kakak korban menghadiahi pelaku dengan bogem mentah di wajah dan tubuhnya.
"Kita naik darah melihat kelakuannya ini, disaat kita tidak di rumah pelaku ini tega memegang tangan dan dada adek kita. Tentu kita tidak terima ini, apalagi adek kita ini ada kekurangan ingatan," ujar Hendra, kakak korban pada Okezone, Kamis (2/7/2015)
Dijelaskan, awal kejadian ketika dia pulang dari kantor menuju rumahnya saat itu kakaknya ini sudah mencurigai bahwa ada seorang yang keluar rumah sambil mendorong kendaraan roda dua mereka Smash dengan Nopol BA 6148 TS.
"Ketika saya tanyakan sama adek saya ternyata dia melakukan pelecehan seksual, akhirnya saya kejar pelaku itu lalu saya bawa di ke rumah," katanya.
Setelah itu, Hendra menanyakan sama adeknya lagi, keterangan korban, awalnya Endam ini datang ke rumah dengan mengaku sebagai penagih listrik dari sebuah perusahan sebagai mitra PLN.
"Anehnya dia membelikan minuman cincau dua gelas, orang sudah tahu sedang puasa kenapa harus minum, alasannya saat itu katanya mau minum obat, tapi setelah di dekat pintu pelaku ini memegang tangannya dan dada (payudara)," katanya.
Setelah mendengar keterangan korban itu, kakak korban ini langsung naik pitam dan menghajar pelaku, tak lama kemudian saudara korban lainnya datang ke rumah tersebut dan langsung menghajar korban.
Setelah tenang korban yang sudah babak belur tersebut membuat pernyataan dan untuk tidak mengulangkan kejadian asusila tersebut.
"Saya katakan kepadamu, jangan sampai engkau kesini lagi atau seputaran daerah ini, untuk menagih listrik, kalau saya lihat kamu disin akan saya hajar," kata Hendra.
Sengaja membuat surat perjanjian, untuk tidak mengulangi dan memberikan denda kepada pelaku lantaran kasihan sama pelaku saja.
"Kalau kita serahkan kepada polisi ini bisa habis karirnya, kemudian kasihan kita karena nanti tidak merayakan lebarannya dengan keluarganya di Kabupaten Pesisir Selatan, tapi kalau dia kesini lagi pasti kita bisa hajar dia, sengaja saya nahan-nahan emosi," pungkasnya.
Setelah membuat surat pernyataan akhirnya pelaku diperbolehkan pulang ke rumahnya dalam keadaan kepala memar beserta badannya. "Saya minta maaf bang atas kelakuan saya ini, saya berjanji tidak mengulangi lagi," kata Endam.
Ironisnya, perbuatan tersebut dilakukan pelaku saat dirinya yang bekerja di PLN tengah melakukan tugas menagih listrik di rumah korban di Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah.
Akibat ulahnya tersebut, kakak korban menghadiahi pelaku dengan bogem mentah di wajah dan tubuhnya.
"Kita naik darah melihat kelakuannya ini, disaat kita tidak di rumah pelaku ini tega memegang tangan dan dada adek kita. Tentu kita tidak terima ini, apalagi adek kita ini ada kekurangan ingatan," ujar Hendra, kakak korban pada Okezone, Kamis (2/7/2015)
Dijelaskan, awal kejadian ketika dia pulang dari kantor menuju rumahnya saat itu kakaknya ini sudah mencurigai bahwa ada seorang yang keluar rumah sambil mendorong kendaraan roda dua mereka Smash dengan Nopol BA 6148 TS.
"Ketika saya tanyakan sama adek saya ternyata dia melakukan pelecehan seksual, akhirnya saya kejar pelaku itu lalu saya bawa di ke rumah," katanya.
Setelah itu, Hendra menanyakan sama adeknya lagi, keterangan korban, awalnya Endam ini datang ke rumah dengan mengaku sebagai penagih listrik dari sebuah perusahan sebagai mitra PLN.
"Anehnya dia membelikan minuman cincau dua gelas, orang sudah tahu sedang puasa kenapa harus minum, alasannya saat itu katanya mau minum obat, tapi setelah di dekat pintu pelaku ini memegang tangannya dan dada (payudara)," katanya.
Setelah mendengar keterangan korban itu, kakak korban ini langsung naik pitam dan menghajar pelaku, tak lama kemudian saudara korban lainnya datang ke rumah tersebut dan langsung menghajar korban.
Setelah tenang korban yang sudah babak belur tersebut membuat pernyataan dan untuk tidak mengulangkan kejadian asusila tersebut.
"Saya katakan kepadamu, jangan sampai engkau kesini lagi atau seputaran daerah ini, untuk menagih listrik, kalau saya lihat kamu disin akan saya hajar," kata Hendra.
Sengaja membuat surat perjanjian, untuk tidak mengulangi dan memberikan denda kepada pelaku lantaran kasihan sama pelaku saja.
"Kalau kita serahkan kepada polisi ini bisa habis karirnya, kemudian kasihan kita karena nanti tidak merayakan lebarannya dengan keluarganya di Kabupaten Pesisir Selatan, tapi kalau dia kesini lagi pasti kita bisa hajar dia, sengaja saya nahan-nahan emosi," pungkasnya.
Setelah membuat surat pernyataan akhirnya pelaku diperbolehkan pulang ke rumahnya dalam keadaan kepala memar beserta badannya. "Saya minta maaf bang atas kelakuan saya ini, saya berjanji tidak mengulangi lagi," kata Endam.
(nag)