Pengawasan Tak Maksimal, Remaja Labil Jadi Korban Prostitusi
Selasa, 02 Juni 2015 - 00:33 WIB
Pengawasan Tak Maksimal, Remaja Labil Jadi Korban Prostitusi
A
A
A
DEPOK - Berbagai kasus anak menjadi korban masalah sosial dan prostitusi membuat para orangtua khawatir. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ikut berupaya membendung hal tersebut.
Seorang anak yang terjerumus dalam dunia gelap itu, diyakini dipicu oleh faktor keluarga hingga lingkungan. Pengasuhan dan pengawasan orangtua dinilai gagal.
"Jadi ini masalah-masalah penyakit sosial yang terkait dengan seksualitas melibatkan anak. Kalau masalah anak-anak yang mereka lakukan, pasti ada seseorang yang mendorong melakukan ini. Enggak mungkin sendiri. Ini pengasuhan dan pengawasan orangtua tak optimal," kata Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga BKKBN Sudibyo Alimoeso di Depok, Senin 1 Juni 2015.
Menurutnya, keluarga tak mampu melaksanakan fungsinya secara optimal dan menjalani fungsi cinta kasih serta perlindungan. Apalagi jika seorang anak ditelantarkan hingga mencari pelarian seperti itu.
"Anak-anak labil gampang dibujuk, remaja labil rentan masuk ke prostitusi terselubung. Mereka ingin merasakan kesejahteraan yang instan, ingin glamor instan dalam dunia hedonis," tuturnya.
Sudibyo mendorong agar keluarga memiliki alarm mengenal anak-anaknya, jika ada perubahan pola komunikasi. "Keluarga harus mengerti tanda-tanda itu. Orangtua yang jarang komunikasi ke anak-anaknya pasti enggak ngerti tanda-tanda itu, prilaku beda pasti keluarga punya feeling," jelasnya.
Bagi keluarga yang tak lengkap (divorce), Sudibyo menjelaskan, posisi anak selalu menjadi korban. BKKBN mendorong terbentuknya keluarga harmonis menciptakan pengakuan anak-anak remaja secara optimal.
"Keluarga tak lengkap, faktor keutuhan dalam keluarga jadi faktor penting. Divorce yang berhasil hanya 1-2 orang, tapi rata-rata anak menjadi korban ketidakharmonisan keluarga," tukasnya.
Seorang anak yang terjerumus dalam dunia gelap itu, diyakini dipicu oleh faktor keluarga hingga lingkungan. Pengasuhan dan pengawasan orangtua dinilai gagal.
"Jadi ini masalah-masalah penyakit sosial yang terkait dengan seksualitas melibatkan anak. Kalau masalah anak-anak yang mereka lakukan, pasti ada seseorang yang mendorong melakukan ini. Enggak mungkin sendiri. Ini pengasuhan dan pengawasan orangtua tak optimal," kata Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga BKKBN Sudibyo Alimoeso di Depok, Senin 1 Juni 2015.
Menurutnya, keluarga tak mampu melaksanakan fungsinya secara optimal dan menjalani fungsi cinta kasih serta perlindungan. Apalagi jika seorang anak ditelantarkan hingga mencari pelarian seperti itu.
"Anak-anak labil gampang dibujuk, remaja labil rentan masuk ke prostitusi terselubung. Mereka ingin merasakan kesejahteraan yang instan, ingin glamor instan dalam dunia hedonis," tuturnya.
Sudibyo mendorong agar keluarga memiliki alarm mengenal anak-anaknya, jika ada perubahan pola komunikasi. "Keluarga harus mengerti tanda-tanda itu. Orangtua yang jarang komunikasi ke anak-anaknya pasti enggak ngerti tanda-tanda itu, prilaku beda pasti keluarga punya feeling," jelasnya.
Bagi keluarga yang tak lengkap (divorce), Sudibyo menjelaskan, posisi anak selalu menjadi korban. BKKBN mendorong terbentuknya keluarga harmonis menciptakan pengakuan anak-anak remaja secara optimal.
"Keluarga tak lengkap, faktor keutuhan dalam keluarga jadi faktor penting. Divorce yang berhasil hanya 1-2 orang, tapi rata-rata anak menjadi korban ketidakharmonisan keluarga," tukasnya.
(mhd)