4 Napi Anak Kasus Asusila Kabur Bengkokan Jeruji Jendela
Kamis, 14 Mei 2015 - 20:50 WIB
4 Napi Anak Kasus Asusila Kabur Bengkokan Jeruji Jendela
A
A
A
BLITAR - Empat narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II Blitar kabur. Keempatnya berhasil meloloskan diri setelah membengkokkan jeruji jendela ruangan.
"Benar ada penghuni lapas yang melarikan diri, " ujar Wakapolres Kota Blitar Kompol Hendrik Purwoko kepada wartawan Kamis, (14/5/2015).
Peristiwa itu diketahui pertama kali pukul 03.00 Wib. Petugas yang rutin mengontrol ruangan mendapati jumlah penghuni wisma dahlia berkurang.
Dari total 137 napi, ada empat napi yang tidak ada di tempatnya. Ruangan yang seharusnya berjumlah enam anak hanya tersisa dua.
Sementara jeruji jendela ruangan dalam keadaan bengkok melengkung. Dari lubang jeruji yang menganga mereka meloloskan diri.
"Kecurigaan semakin menguat saat salat subuh berjamaah, keempatnya dipastikan tidak ada, " timpal Hendrik.
Empat napi yakni berinisial BAS, NSP, NHD dan RF masih berusia 16 tahun. Mereka baru 5-7 bulan dijebloskan ke lapas karena terjerat kasus asusila.
BAS dan NSP warga Kelurahan Bangle, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Kemudian NHD warga Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar dan RF warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
Belum lama Pengadilan Negeri (PN) Blitar menjatuhkan vonis masing masing dua tahun penjara.
Pihak lapas diduga hendak menyembunyikan peristiwa yang terjadi. Lapas berlindung pada dalih izin Menhumkam atau Kalapas, untuk menolak konfirmasi jurnalis.
Kalapas Imam Setiya Gunawan sendiri dalam keadaan cuti. Hendrik mengaku mendapat informasi awal dari kalangan media massa.
Laporan tentang kaburnya napi baru disampaikan setelah aparat kepolisian berada di lokasi. "Sebelumnya memang tidak ada laporan dari pihak lapas anak. Namun kita langsung melakukan penyelidikan termasuk meminta keterangan saksi, " jelas Hendrik.
Dari empat napi anak yang berhasil kabur, RF akhirnya kembali lagi ke lapas. Tidak selang lama dari peristiwa yang terjadi RF diantarkan kembali oleh keluarganya.
Dihubungi via ponsel Kalapas Anak Blitar Imam Setiya Gunawan membenarkan peristiwa yang terjadi. Menurutnya pihak lapas sudah berkoordinasi dengan kepolisian. "Benar memang demikian. Kita sudah koordinasi dengan kepolisian, " ujarnya singkat.
"Benar ada penghuni lapas yang melarikan diri, " ujar Wakapolres Kota Blitar Kompol Hendrik Purwoko kepada wartawan Kamis, (14/5/2015).
Peristiwa itu diketahui pertama kali pukul 03.00 Wib. Petugas yang rutin mengontrol ruangan mendapati jumlah penghuni wisma dahlia berkurang.
Dari total 137 napi, ada empat napi yang tidak ada di tempatnya. Ruangan yang seharusnya berjumlah enam anak hanya tersisa dua.
Sementara jeruji jendela ruangan dalam keadaan bengkok melengkung. Dari lubang jeruji yang menganga mereka meloloskan diri.
"Kecurigaan semakin menguat saat salat subuh berjamaah, keempatnya dipastikan tidak ada, " timpal Hendrik.
Empat napi yakni berinisial BAS, NSP, NHD dan RF masih berusia 16 tahun. Mereka baru 5-7 bulan dijebloskan ke lapas karena terjerat kasus asusila.
BAS dan NSP warga Kelurahan Bangle, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Kemudian NHD warga Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar dan RF warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
Belum lama Pengadilan Negeri (PN) Blitar menjatuhkan vonis masing masing dua tahun penjara.
Pihak lapas diduga hendak menyembunyikan peristiwa yang terjadi. Lapas berlindung pada dalih izin Menhumkam atau Kalapas, untuk menolak konfirmasi jurnalis.
Kalapas Imam Setiya Gunawan sendiri dalam keadaan cuti. Hendrik mengaku mendapat informasi awal dari kalangan media massa.
Laporan tentang kaburnya napi baru disampaikan setelah aparat kepolisian berada di lokasi. "Sebelumnya memang tidak ada laporan dari pihak lapas anak. Namun kita langsung melakukan penyelidikan termasuk meminta keterangan saksi, " jelas Hendrik.
Dari empat napi anak yang berhasil kabur, RF akhirnya kembali lagi ke lapas. Tidak selang lama dari peristiwa yang terjadi RF diantarkan kembali oleh keluarganya.
Dihubungi via ponsel Kalapas Anak Blitar Imam Setiya Gunawan membenarkan peristiwa yang terjadi. Menurutnya pihak lapas sudah berkoordinasi dengan kepolisian. "Benar memang demikian. Kita sudah koordinasi dengan kepolisian, " ujarnya singkat.
(sms)