Korban Corona Bertambah, Trump Sebut WHO Gagal

Kamis, 09 April 2020 - 10:38 WIB
Korban Corona Bertambah,...
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Foto/Reuters
A A A
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik WHO (Badan Kesehatan Dunia) terlalu berpusat pada China saat penanganan virus corona. Padahal AS merupakan penyokong dana utama bagi WHO.

“W.H.O benar-benar gagal,” kata Trump dalam ciutannya pada akun Twitter-nya. “Untuk beberapa alasan, dana besar dari AS, tetapi terlalu fokus pada China. Kita akan mendapatkan pandangan baik. Untungnya, saya menolak nasihat mereka untuk membuka perbatasan dengan China. Kenapa mereka memberikan kita rekomendasi yang salah?” kritik Trump.

Trump mengulangi tuduhannya terhadap organisasi kesehatan PBB saat konferensi pers pada Selasa waktu setempat. “Mereka (WHO) menyebutkan itu sebagai hal yang salah. Mereka benar-benar mengabaikan panggilan,” ujar Trump. Padahal, kata Trump, AS menyokong dana yang besar bagi WHO. Seharusnya, menurut Trump, AS yang memiliki kekuasaan penuh terhadap WHO.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric menolak kritik tajam terhadap WHO yang dipimpin Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus. “Bagi Sekjen PBB (Antonio Guterres), sangat jelas bahwa WHO di bawah kepemimpinan Tedros telah melakukan pekerjaan hebat dalam penanganan Covid-19. WHO mengirimkan peralatan ke negara yang membutuhkan dan melakukan pelatihan,” kata Dujarric dilansir Reuters.

Senator asal Republik Lindsey Graham yang merupakan sekutu dekat Trump, berjanji tidak akan memberikan dana bagi WHO pada persetujuan undang-undang dan anggaran mendatang. “Saya tidak akan mendukung pendanaan WHO di bawah kepemimpinan saat ini. Mereka mengecewakan, mereka lamban, dan mereka terlalu berpihak pada China,” kata Graham dalam wawancara dengan Fox News Channel.

Pada 31 Januari lalu, WHO meminta negara-negara tetap membuka perbatasan di tengah wabah. Namun, mereka tetap membiarkan negara yang memilih menutup perbatasan dengan China untuk melindungi penduduknya. Pada saat yang sama, Trump sudah memperketat bepergian ke China.

Partai Konservatif AS mengkritik WHO dalam penanganan pandemi global ini. Mereka menyebut WHO terlalu bergantung pada data yang salah dari China. Pekan lalu, Senator asal Republik Marco Rubio, menyerukan pengunduran diri Tedros. “Dia (Tedros) mengizinkan Beijing menggunakan WHO untuk menjerumuskan komunitas global,” ujar Rubio.

Angka kematian pasien virus korona (Covid-19) di Kota New York, Amerika Serikat (AS) mencatat rekor tertinggi. Sedikitnya 800 orang tewas dalam 24 jam terakhir.

Hal itu diungkapkan Johns Hopkins University (JHU) kemarin. Menurut JHU, jumlah korban tewas akibat Covid-19 di AS mencapai 1.858 orang dalam satu hari. Angka itu menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.

Otoritas terkait AS menyatakan wabah Covid-19 telah memasuki masa puncak bulan ini. Dengan screening yang lebih agresif dan masif, mereka berharap dapat mencegah penyebaran Covid-19 agar tidak meluas ke wilayah yang lain.

Gubernur New York Andrew Cuomo juga mendesak warganya agar mematuhi arahan petugas kesehatan, disiplin, dan tidak melanggar peraturan lockdown, kecuali darurat. Pasalnya, rumah sakit (RS) di New York telah kebanjiran pasien Covid-19.

"Kita harus pintar dan selalu menjaga diri. Salah satunya dengan selalu tinggal di rumah," ujar Cuomo, dikutip CNN. Sampai berita ini diturunkan, secara keseluruhan, total korban tewas akibat Covid-19 di AS mencapai 12.800 orang.

"Jika kita mampu menerapkan sistem jaga jarak dengan sangat baik, tingkat penularan kemungkinan akan melambat," kata Cuomo. "Saya bangga dengan mereka yang sudah membantu petugas kesehatan dengan tinggal di rumah dan melakukan mitigasi bencana," tambahnya.

Ahli bedah Dr Jerome Adams menilai sistem pengendalian dan pencegahan penyakit itu berjalan dengan baik dan memberikan hasil memuaskan. Dia memuji upaya keras pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat yang patuh terhadap peraturan.

"Saya sering mengatakannya berulang kali. Namun, California dan Washington memang patut kita apresiasi dan teladani karena mereka mampu berjalan beriringan dalam menangani wabah Covid-19. Hal itu benar-benar sulit dilaksanakan pada saat-saat genting seperti ini," tandas Adams.
(zys)
Berita Terkait
Hadiri Pesta Covid-19,...
Hadiri 'Pesta Covid-19', Pria AS Meninggal karena Corona
Dokter Gedung Putih:...
Dokter Gedung Putih: Trump Bukan Lagi 'Carrier' Virus Corona
Gedung Putih Cegah Ahli...
Gedung Putih Cegah Ahli COVID-19 AS Bersaksi di Depan Kongres
Rencana Trump Tahan...
Rencana Trump Tahan Dana WHO Hadapi Pandemi Tuai Sorotan
Trump Stop AS Danai...
Trump Stop AS Danai WHO atas Tuduhan Salah Urus COVID-19
Donald Trump Jr. Dinyatakan...
Donald Trump Jr. Dinyatakan Positif Covid-19
Berita Terkini
Makin Dicintai Dunia,...
Makin Dicintai Dunia, Batik Ramah Lingkungan Asal Semarang Sukses Mendunia lewat LinkUMKM BRI
15 menit yang lalu
BMKG Ungkap 5 Daerah...
BMKG Ungkap 5 Daerah Tak Diguyur Hujan Lebih Sebulan, Probolinggo Terlama
1 jam yang lalu
Hujan Diprediksi Guyur...
Hujan Diprediksi Guyur Sebagian Besar Jakarta Siang hingga Sore Hari Ini
1 jam yang lalu
CCTV Bundaran HI Dituding...
CCTV Bundaran HI Dituding Mati saat Demo Mahasiswa, Diskominfotik DKI Jakarta Buka Suara
2 jam yang lalu
Sudirman Said: Kepemimpinan...
Sudirman Said: Kepemimpinan Berkelanjutan Lahir dari Sistem yang Kuat
3 jam yang lalu
Suma UI Dukung LGBT,...
Suma UI Dukung LGBT, Universitas Indonesia Lakukan Evaluasi Internal
4 jam yang lalu
Infografis
Upaya Pembunuhan yang...
Upaya Pembunuhan yang Gagal, Narasi Pahlawan Dimainkan Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved