Kampung Al-Munawar, Pesona Budaya Arab di Tanah Palembang
Minggu, 24 November 2019 - 08:11 WIB
Kampung Al-Munawar, Pesona Budaya Arab di Tanah Palembang.Ilustrasi/dok/photo.SINDOnews
A
A
A
Berbicara tentang Kota Palembang tidak ada habisnya. Selain terkenal jembatan ikonik yakni Jembatan Ampera dan kuliner khas seperti pempek juga ada destinasi wisata yang menarik.
Bumi Sriwijaya memiliki berbagai lokasi wisata yang menyimpan banyak sejarah. Salah satunya perkampungan keturunan Arab yakni Kampung Al-Munawar yang berlokasi di kawasan 13 Ulu Palembang.
Di Kampung Arab Al-Munawar Palembang ini, wisatawan domenstik maupun luar negeri dapat menikmati keindahan bangunan-bangunan rumah tempo dulu yang sudah berusia lebih dari 200 tahun.
Konon katanya, kampung ini pertama kali didatangi oleh seorang tokoh sepuh keturunan Arab bernama Habib Hasan Abdurrahman Al-Munawar.
Dia membawa ajaran agama Islam ke Kampung Al-Munawar yang berlokasi di daerah 13 Ulu Palembang. Kota Palembang memiliki berbagai etnis dan budaya yang ada di masyarakatnya.
Mulai dari etnis Tionghoa, etnis India, etnis Arab, dan lain-lain. Setiap etnis tersebut memiliki komunitasnya masing-masing.
Umumnya tempat tinggal masyarakat etnis tertentu, sebagian besarnya adalah masyarakat dari etnis tersebut.
Misalnya, sekumpulan masyarakat yang berasal dari Arab, bermukim di suatu tempat besar, dinamakan Kampung Arab.
Kampung ini menjadi kawasan warga Palembang keturunan Arab yang melakukan aktifitas di pinggiran Sungai Musi.
Mayoritas pemukiman Arab terletak di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian Ilir, maupun yang di bagian Ulu. Beragam paham juga tengah berkembang dengan berbagai keturunan, di antaranya Assegaf, Al-Habsy, Al-Kaaf, Hasny, Syahab (Shyhab), dan sebagainya.
Meski paham yang mereka anut tersebut berbeda-beda, sebagian besar dari mereka masih bersaudara. Bagi para pengunjung yang ingin menuju lokasi kampung ini tidaklah terlalu sulit karena akses jalan menuju lokasi dapat dilalui dengan jalur darat atau sungai.
Jalur darat bisa melewati pasar 10 Ulu atau Jalan Telaga Swidak melewati Pasar Pocong. Apabila lewat sungai anda bisa menyewa perahu getek dari Dermaga BKB menuju Masjid Al-Munawar.
Berada di kampung arab Al-Munawar akan membawa anda kepada pemandangan kehangatan warga dan suasana timur tengah dengan corak arsitektur Eropa.
Penduduk lokal kampung Al-Munawar ini juga ramah dan terbuka bagi Anda yang ingin ikut berbaur dan mengenal sejarah perkampungan ini.
Terdapat rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu-kayu unglen berusia ratusan tahun, selain itu ada juga sebuah sekolahan bernuansa Islami tempat anak-anak di sekitar kampung.
Tempat ini juga menjadi tempat terbaik untuk menikmati sunset di pinggir sungai Musi.
Apabila anda datang melalui jalur sungai, selain bisa menikmati pemandangan pinggir Sungai Musi, maka Anda akan berjumpa dengan mushola Al-Munawar yang saat ini menjadi mushola favorit bagi tiap orang yang berkunjung untuk melaksanakan salat lima waktu.
Kini Kampung arab Al-Munawar sudah cantik. Wajah-wajah rumahnya bagaikan pria-pria arab berwajah rupawan dengan hidung mancung, perempuan cantik, anak-anak kecil dengan alis mata yang lebat dan panjang. Akulturasi budaya terasa sangat kental.
Menurut kebudayaan di Kampung Arab, seorang perempuan keturunan Arab tidak boleh menikah dengan laki-laki bukan dari keturunan arab atau masyarakat dari daerah sekitar.
Namun, laki-laki keturunan Arab boleh menikah dengan perempuan bukan keturunan arab. Perempuan keturunan Arab yang menikah dengan laki-laki pribumi akan dianggap kurang tepat oleh masyarakat Kampung Arab.
Perlu diketahui, area kampung Arab ini memiliki delapan rumah yang menjadi cagar budaya. Enam rumah berada di area depan mengelilingi lapangan luas. Kemudian dua rumah lagi berada di belakang menghadap Sungai Musi.
Keunikan masing-masing rumah ini dikarenakan usia bangunan rumah tua yang usianya diperkirakan lebih dari 250 tahun. Seolah digiring masuk ke suasana Arabian, kampung ini memang kental sekali dengan nuansa Islami.
Hal ini tak lepas dari peran Kapten Arab yaitu Ahmad Al-Munawar yang singgah lalu berkeluarga sehingga beranak cucu hingga sekarang.
Deretan rumah yang masih dihuni ini terbuat dari kayu-kayu ulin serta ada salah satu rumah yang memiliki marmer dan tehel kunci dari Eropa.
Dari delapan rumah tersebut, ada dua rumah kembar karena bangunannya mirip, rumah batu karena hanya satu-satunya bangunan batu di kampung tersebut serta ada salah satu bangunan yang saat ini menjadi Yayasan Sekolah bagi anak-anak sekitar kampung.
Uniknya sekolahan di kampung ini mengikuti ajaran kurikulum sesuai pendidikan di Arab yaitu pada hari Jumat mereka libur sedangkan hari Minggu mereka masuk belajar seperti biasa.
Penduduk lokal kampung Al-Munawar ini sangat ramah dan terbuka dengan wisatawan yang datang berkunjung. Namun, sebagai pengunjung juga harus mengikuti aturan-aturan yang berlaku sesuai dengan syariat Islam.
Di Kampung Arab ada sebuah Alquran dengan tinta emas yang berusia lebih dari 100 tahun. Pada momen tertentu, terkadang warga kampung Al-Munawar mengadakan acara “munggahan” lengkap dengan tarian Gambus.
Acara munggahan ini seperti tradisi makan bersama secara lesehan dengan hidangan khas arab yaitu nasi minyak yang mirip seperti nasi briyani yang ada campuran kismis, lalu ada lauk pauk seperti gulai kambing dan ayam serta ada sayuran dan sambal buah.
Kemudian, para pria arab ini akan berdendang alunan musik Timur Tengah. Tarian ini merakyat dan merangkul tiap orang untuk bisa ikut menari bersama.
Gerakan awalnya memang memiliki ritme, setelah itu wisatawan diajak untuk menari bersama mengikuti gerakan para penari.
Sembari menonton tarian gambus dan menikmati hidangan munggahan, ternyata di kampung arab Al-Munawar ada pengusaha kopi turun temurun.
Kopi andalan di kampung ini berjenis robusta arabika Sumatera Selatan. Cita rasa aroma kopinya sangat khas sehingga akan sangat menggoda bagi para penikmat kopi.
Jika anda ingin berkunjung ke Kampung Arab ada adab bertamu ke rumah orang, maka begitu pula ada bagian-bagian yang perlu kita hormati.
Warga kampung Al-Munawar lumayan memegang tradisi turun temurun demi menjaga kelestarian keturunan mereka.
Mereka terbuka dengan warga yang ingin berkunjung, tapi sebagai pengunjung pun ada adab yang perlu kita hargai seperti berpakaian sopan saat berkunjung dan bagi pria, tidak boleh menggunakan celana pendek.
Apabila menggunakan celana pendek harap menggunakan sarung. Sarung boleh dipinjam dengan warga kampung.
Bagi perempuan, tidak boleh menggunakan pakaian terbuka dan rok. Dan bagi yang bukan muhrim tidak diperbolehkan berfoto berdekatan atau bergandengan tangan.
Di kampung ini, membuang sampah harus pada tempat yang sudah disediakan. Dan apabila ingin naik perahu dari Dermaga BKB, biaya penumpang perorang Rp10.000.
Kampung Arab Al-Munawar dibuka mulai dari pukul 08.30-17.00 WIB, untuk biaya tiket masuk per-orang Rp3.000.
Berkunjung ke Kampung Arab Palembang tidak afdol jika belum mengabadikan momen-momen menarik di setiap sudut perkampungan.
Jadi bagi pengunjung yang memliki rencana mengunjungi perkampungan ini maka anda juga akan dapat menemukan spot-spot foto instagramable terbaik.
Bumi Sriwijaya memiliki berbagai lokasi wisata yang menyimpan banyak sejarah. Salah satunya perkampungan keturunan Arab yakni Kampung Al-Munawar yang berlokasi di kawasan 13 Ulu Palembang.
Di Kampung Arab Al-Munawar Palembang ini, wisatawan domenstik maupun luar negeri dapat menikmati keindahan bangunan-bangunan rumah tempo dulu yang sudah berusia lebih dari 200 tahun.
Konon katanya, kampung ini pertama kali didatangi oleh seorang tokoh sepuh keturunan Arab bernama Habib Hasan Abdurrahman Al-Munawar.
Dia membawa ajaran agama Islam ke Kampung Al-Munawar yang berlokasi di daerah 13 Ulu Palembang. Kota Palembang memiliki berbagai etnis dan budaya yang ada di masyarakatnya.
Mulai dari etnis Tionghoa, etnis India, etnis Arab, dan lain-lain. Setiap etnis tersebut memiliki komunitasnya masing-masing.
Umumnya tempat tinggal masyarakat etnis tertentu, sebagian besarnya adalah masyarakat dari etnis tersebut.
Misalnya, sekumpulan masyarakat yang berasal dari Arab, bermukim di suatu tempat besar, dinamakan Kampung Arab.
Kampung ini menjadi kawasan warga Palembang keturunan Arab yang melakukan aktifitas di pinggiran Sungai Musi.
Mayoritas pemukiman Arab terletak di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian Ilir, maupun yang di bagian Ulu. Beragam paham juga tengah berkembang dengan berbagai keturunan, di antaranya Assegaf, Al-Habsy, Al-Kaaf, Hasny, Syahab (Shyhab), dan sebagainya.
Meski paham yang mereka anut tersebut berbeda-beda, sebagian besar dari mereka masih bersaudara. Bagi para pengunjung yang ingin menuju lokasi kampung ini tidaklah terlalu sulit karena akses jalan menuju lokasi dapat dilalui dengan jalur darat atau sungai.
Jalur darat bisa melewati pasar 10 Ulu atau Jalan Telaga Swidak melewati Pasar Pocong. Apabila lewat sungai anda bisa menyewa perahu getek dari Dermaga BKB menuju Masjid Al-Munawar.
Berada di kampung arab Al-Munawar akan membawa anda kepada pemandangan kehangatan warga dan suasana timur tengah dengan corak arsitektur Eropa.
Penduduk lokal kampung Al-Munawar ini juga ramah dan terbuka bagi Anda yang ingin ikut berbaur dan mengenal sejarah perkampungan ini.
Terdapat rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu-kayu unglen berusia ratusan tahun, selain itu ada juga sebuah sekolahan bernuansa Islami tempat anak-anak di sekitar kampung.
Tempat ini juga menjadi tempat terbaik untuk menikmati sunset di pinggir sungai Musi.
Apabila anda datang melalui jalur sungai, selain bisa menikmati pemandangan pinggir Sungai Musi, maka Anda akan berjumpa dengan mushola Al-Munawar yang saat ini menjadi mushola favorit bagi tiap orang yang berkunjung untuk melaksanakan salat lima waktu.
Kini Kampung arab Al-Munawar sudah cantik. Wajah-wajah rumahnya bagaikan pria-pria arab berwajah rupawan dengan hidung mancung, perempuan cantik, anak-anak kecil dengan alis mata yang lebat dan panjang. Akulturasi budaya terasa sangat kental.
Menurut kebudayaan di Kampung Arab, seorang perempuan keturunan Arab tidak boleh menikah dengan laki-laki bukan dari keturunan arab atau masyarakat dari daerah sekitar.
Namun, laki-laki keturunan Arab boleh menikah dengan perempuan bukan keturunan arab. Perempuan keturunan Arab yang menikah dengan laki-laki pribumi akan dianggap kurang tepat oleh masyarakat Kampung Arab.
Perlu diketahui, area kampung Arab ini memiliki delapan rumah yang menjadi cagar budaya. Enam rumah berada di area depan mengelilingi lapangan luas. Kemudian dua rumah lagi berada di belakang menghadap Sungai Musi.
Keunikan masing-masing rumah ini dikarenakan usia bangunan rumah tua yang usianya diperkirakan lebih dari 250 tahun. Seolah digiring masuk ke suasana Arabian, kampung ini memang kental sekali dengan nuansa Islami.
Hal ini tak lepas dari peran Kapten Arab yaitu Ahmad Al-Munawar yang singgah lalu berkeluarga sehingga beranak cucu hingga sekarang.
Deretan rumah yang masih dihuni ini terbuat dari kayu-kayu ulin serta ada salah satu rumah yang memiliki marmer dan tehel kunci dari Eropa.
Dari delapan rumah tersebut, ada dua rumah kembar karena bangunannya mirip, rumah batu karena hanya satu-satunya bangunan batu di kampung tersebut serta ada salah satu bangunan yang saat ini menjadi Yayasan Sekolah bagi anak-anak sekitar kampung.
Uniknya sekolahan di kampung ini mengikuti ajaran kurikulum sesuai pendidikan di Arab yaitu pada hari Jumat mereka libur sedangkan hari Minggu mereka masuk belajar seperti biasa.
Penduduk lokal kampung Al-Munawar ini sangat ramah dan terbuka dengan wisatawan yang datang berkunjung. Namun, sebagai pengunjung juga harus mengikuti aturan-aturan yang berlaku sesuai dengan syariat Islam.
Di Kampung Arab ada sebuah Alquran dengan tinta emas yang berusia lebih dari 100 tahun. Pada momen tertentu, terkadang warga kampung Al-Munawar mengadakan acara “munggahan” lengkap dengan tarian Gambus.
Acara munggahan ini seperti tradisi makan bersama secara lesehan dengan hidangan khas arab yaitu nasi minyak yang mirip seperti nasi briyani yang ada campuran kismis, lalu ada lauk pauk seperti gulai kambing dan ayam serta ada sayuran dan sambal buah.
Kemudian, para pria arab ini akan berdendang alunan musik Timur Tengah. Tarian ini merakyat dan merangkul tiap orang untuk bisa ikut menari bersama.
Gerakan awalnya memang memiliki ritme, setelah itu wisatawan diajak untuk menari bersama mengikuti gerakan para penari.
Sembari menonton tarian gambus dan menikmati hidangan munggahan, ternyata di kampung arab Al-Munawar ada pengusaha kopi turun temurun.
Kopi andalan di kampung ini berjenis robusta arabika Sumatera Selatan. Cita rasa aroma kopinya sangat khas sehingga akan sangat menggoda bagi para penikmat kopi.
Jika anda ingin berkunjung ke Kampung Arab ada adab bertamu ke rumah orang, maka begitu pula ada bagian-bagian yang perlu kita hormati.
Warga kampung Al-Munawar lumayan memegang tradisi turun temurun demi menjaga kelestarian keturunan mereka.
Mereka terbuka dengan warga yang ingin berkunjung, tapi sebagai pengunjung pun ada adab yang perlu kita hargai seperti berpakaian sopan saat berkunjung dan bagi pria, tidak boleh menggunakan celana pendek.
Apabila menggunakan celana pendek harap menggunakan sarung. Sarung boleh dipinjam dengan warga kampung.
Bagi perempuan, tidak boleh menggunakan pakaian terbuka dan rok. Dan bagi yang bukan muhrim tidak diperbolehkan berfoto berdekatan atau bergandengan tangan.
Di kampung ini, membuang sampah harus pada tempat yang sudah disediakan. Dan apabila ingin naik perahu dari Dermaga BKB, biaya penumpang perorang Rp10.000.
Kampung Arab Al-Munawar dibuka mulai dari pukul 08.30-17.00 WIB, untuk biaya tiket masuk per-orang Rp3.000.
Berkunjung ke Kampung Arab Palembang tidak afdol jika belum mengabadikan momen-momen menarik di setiap sudut perkampungan.
Jadi bagi pengunjung yang memliki rencana mengunjungi perkampungan ini maka anda juga akan dapat menemukan spot-spot foto instagramable terbaik.
(boy)