Kolam Segaran, Tempat Jamuan Raja Majapahit Kini Kering Kerontang
Rabu, 20 November 2019 - 10:38 WIB
Biota air tawar di Kolam Segaran yang mati akibat kolam yang mengering.Foto/SINDONews/Tritus Julan
A
A
A
Kolam Segaran merupakan salah satu situs purbakala peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih utuh hingga saat ini.
Kendati bangunan mirip waduk, di Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto itu, sudah dua kali mendapat sentuhan pemugaran.
Menurut cerita, kolam ini dulunya menjadi tempat yang cukup penting bagi Kerajaan Majapahit. Raja Wilwatikta kala itu, menggunakan Kolam Segaran sebagai salah satu alat dalam memainkan siasat politiknya. Tempat itu, dijadikan lokasi jamuan raja-raja serta tamu penting dari kerajaan lain yang berkunjung ke Majapahit.
Konon, usai penjamuan dilakukan, berbagai perlengkapan makan yang terbuat dari emas dibuang ke dasar kolam seluas 375 x 175 meter persegi tersebut. Itu tak lain guna menunjukan kejayaan serta kekayaan Kerajaan Majapahit. Kendati, cerita tersebut belum bisa diketahui kebenarannya. Hingga kini, belum ada temuan guna memperkuat cerita yang berkembang di masyarakat itu.
Meski hanya sebatas cerita rakyat, namun legenda tentang Kolam Segaran terbilang tak terlalu berlebihan. Sebagai Kerajaan Hindu-Budha terbesar di Asia Tenggara kala itu, selain harus memiliki armada tempur yang kuat, diperlukan cara yang tepat agar kerajaan-kerajaan di bawah naungan Majapahit tetap tunduk. Salah satunya dengan menunjukan kekayaan dan kebesaran Majapahit.
Terlepas dari cerita rakyat tersebut, arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, di Mojokerto, Wicaksono Dwi Nugroho meyakini, jika Kolam Segaran dulunya merupakan tempat yang begitu penting. Kolam dengan kedalaman 2,88 meter itu diduga dibangun untuk dua fungsi, yakni sebagai tempat pemujaan serta penampungan air.
"Menurut saya, Kolam Segaran ini memiliki dua fungsi, satu fungsi yang sifatnya sakral. Karena dalam agama Hindu-Budha, air menjadi cukup penting dalam ritual mereka. Kedua, fungsi pengairan atau irigasi, sehingga dijadikan waduk penampungan untuk mengatasi banjir dan kekeringan," kata Wicak kepada SINDONews, Rabu (20/11/2019).
Kolam Segaran, diperkirakan dibangun sekitar abad 14 akhir. Pasca, Kakawin Negarakretagama yang menjadi rujukan para sejahrawan dan arkeolog dalam meneliti peninggalan Majapahit, ditulis Empu Prapanca. Sehingga tak begitu banyak penjelasan soal Kolam Segaran ini. Akan tetapi, fakta membuktikan Majapahit merupakan kerajaan yang memiliki sistem pengairan yang sangat baik kala itu.
"Betul, memang secara sistem irigasi Kerajaan Majapahit sangat maju. Indikasinya dengan adanya kanal-kanal yang melintang barat,timur, utara, selatan dari ibu kota Kerajaan Majapahit. Itu berdasarkan peta satelit yang dibuat tahun 1960," imbuh Wicak.
Kondisi itu kini jauh berbeda. Sejak tiga tahun terakhir, situs peninggalan Kerajaan Majapahit berbentuk kolam dengan dinding bata merah berukuran besar yang ditemukan pada 1926 itu kini kering kerontang. Hanya sebagian kecil kolam yang nampak masih nampak tergenang air. Ketinggian airnya pun cukup dangkal, tak sampai 15 cm.
Bagian dasar kolam yang pernah dipugar pada tahun 1966 dan 1974 nampak begitu jelas. Hanya terdapat rumput liar dan tanah lumpur yang sudah mengeras serta pecah-pecah. Tak ada piring emas, hanya berbagai bangkai biota air tawar, seperti kerang dan lain sebagainya yang terlihat membusuk akibat kekeringan.
"Iya, ini yang ketiga kalinya. Jadi sudah tiga tahun berturut-turut ini, Kolam Segaran selalu kering. Tahun ini yang paling parah. Karena hampir tidak ada airnya sama sekali, hanya di sudut utara dan timur kolam saja," jelas dia.
Hingga kini tak diketahui secara pasti penyebab mengeringnya Kolam Segaran. Padahal, meski kemarau panjang, air di situs yang sering menjadi jujukan wisatawan ini tak pernah mengering. Diperkirakan, keringnya air di Kolam Segaran ini dipicu akibat tertutupnya beberapa saluran air menuju kolam, akibat pembangunan area parkir di sisi kolam.
"Saluran masuk yang pertama di Balong Bunder yang ada di selatan itukan sudag ditutup. Selain itu juga mungkin juga ada sungai-sungai kecil di bagian selatan barat juga mengering. Suplainya segaran itu dari dua titik itu. Kemudian, faktor penggalian batu bata di bagian selatan. Namun, kami masih harus kaji kembali untuk penyebabnya," pungkas Wicak.
Kendati bangunan mirip waduk, di Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto itu, sudah dua kali mendapat sentuhan pemugaran.
Menurut cerita, kolam ini dulunya menjadi tempat yang cukup penting bagi Kerajaan Majapahit. Raja Wilwatikta kala itu, menggunakan Kolam Segaran sebagai salah satu alat dalam memainkan siasat politiknya. Tempat itu, dijadikan lokasi jamuan raja-raja serta tamu penting dari kerajaan lain yang berkunjung ke Majapahit.
Konon, usai penjamuan dilakukan, berbagai perlengkapan makan yang terbuat dari emas dibuang ke dasar kolam seluas 375 x 175 meter persegi tersebut. Itu tak lain guna menunjukan kejayaan serta kekayaan Kerajaan Majapahit. Kendati, cerita tersebut belum bisa diketahui kebenarannya. Hingga kini, belum ada temuan guna memperkuat cerita yang berkembang di masyarakat itu.
Meski hanya sebatas cerita rakyat, namun legenda tentang Kolam Segaran terbilang tak terlalu berlebihan. Sebagai Kerajaan Hindu-Budha terbesar di Asia Tenggara kala itu, selain harus memiliki armada tempur yang kuat, diperlukan cara yang tepat agar kerajaan-kerajaan di bawah naungan Majapahit tetap tunduk. Salah satunya dengan menunjukan kekayaan dan kebesaran Majapahit.
Terlepas dari cerita rakyat tersebut, arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, di Mojokerto, Wicaksono Dwi Nugroho meyakini, jika Kolam Segaran dulunya merupakan tempat yang begitu penting. Kolam dengan kedalaman 2,88 meter itu diduga dibangun untuk dua fungsi, yakni sebagai tempat pemujaan serta penampungan air.
"Menurut saya, Kolam Segaran ini memiliki dua fungsi, satu fungsi yang sifatnya sakral. Karena dalam agama Hindu-Budha, air menjadi cukup penting dalam ritual mereka. Kedua, fungsi pengairan atau irigasi, sehingga dijadikan waduk penampungan untuk mengatasi banjir dan kekeringan," kata Wicak kepada SINDONews, Rabu (20/11/2019).
Kolam Segaran, diperkirakan dibangun sekitar abad 14 akhir. Pasca, Kakawin Negarakretagama yang menjadi rujukan para sejahrawan dan arkeolog dalam meneliti peninggalan Majapahit, ditulis Empu Prapanca. Sehingga tak begitu banyak penjelasan soal Kolam Segaran ini. Akan tetapi, fakta membuktikan Majapahit merupakan kerajaan yang memiliki sistem pengairan yang sangat baik kala itu.
"Betul, memang secara sistem irigasi Kerajaan Majapahit sangat maju. Indikasinya dengan adanya kanal-kanal yang melintang barat,timur, utara, selatan dari ibu kota Kerajaan Majapahit. Itu berdasarkan peta satelit yang dibuat tahun 1960," imbuh Wicak.
Kondisi itu kini jauh berbeda. Sejak tiga tahun terakhir, situs peninggalan Kerajaan Majapahit berbentuk kolam dengan dinding bata merah berukuran besar yang ditemukan pada 1926 itu kini kering kerontang. Hanya sebagian kecil kolam yang nampak masih nampak tergenang air. Ketinggian airnya pun cukup dangkal, tak sampai 15 cm.
Bagian dasar kolam yang pernah dipugar pada tahun 1966 dan 1974 nampak begitu jelas. Hanya terdapat rumput liar dan tanah lumpur yang sudah mengeras serta pecah-pecah. Tak ada piring emas, hanya berbagai bangkai biota air tawar, seperti kerang dan lain sebagainya yang terlihat membusuk akibat kekeringan.
"Iya, ini yang ketiga kalinya. Jadi sudah tiga tahun berturut-turut ini, Kolam Segaran selalu kering. Tahun ini yang paling parah. Karena hampir tidak ada airnya sama sekali, hanya di sudut utara dan timur kolam saja," jelas dia.
Hingga kini tak diketahui secara pasti penyebab mengeringnya Kolam Segaran. Padahal, meski kemarau panjang, air di situs yang sering menjadi jujukan wisatawan ini tak pernah mengering. Diperkirakan, keringnya air di Kolam Segaran ini dipicu akibat tertutupnya beberapa saluran air menuju kolam, akibat pembangunan area parkir di sisi kolam.
"Saluran masuk yang pertama di Balong Bunder yang ada di selatan itukan sudag ditutup. Selain itu juga mungkin juga ada sungai-sungai kecil di bagian selatan barat juga mengering. Suplainya segaran itu dari dua titik itu. Kemudian, faktor penggalian batu bata di bagian selatan. Namun, kami masih harus kaji kembali untuk penyebabnya," pungkas Wicak.
(nth)