Santri Tewas Dianiaya, Pesantren Akui Kecolongan dan Minta Maaf

loading...
Santri Tewas Dianiaya, Pesantren Akui Kecolongan dan Minta Maaf
Kuasa Hukum Agus Sholahuddin (kiri), Pengasuh Pesantren Mambaul Ulum Makhfuddin Akbar (tengah) saat konferensi pers.Foto/SINDONews/Tritus Julan
MOJOKERTO - Pengasuh Pesantren Mamba'ul Ulum, Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, mengaku kecolongan. Terkait insiden penganiayaan santri oleh pengurus keamanan hingga tewas.

Pengasuh pesantren Mamba'ul Ulum juga meminta maaf kepada pihak keluarga dan warga masyarakat atas insiden tersebut. Menurut pihak pesantren, aksi penganiayaan baru terjadi kali ini, sejak pesantren tersebut didirikan pada 68 tahun silam.

"Pondok memang kecolongan dalam hal ini. Pondok meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada wali santri, pesantren-pesantren lain, yang mana mungkin ada kelalaian atau kelengahan kami dalam mengawasi santri," kata penasihat hukum Pesantren Mamba'ul Ulum, Agus Sholahuddin, Sabtu (24/8/2019).

Selain itu, pesantren Mamba'ul Ulum juga siap untuk mengikuti proses hukum yang saat ini sudah berjalan. Mereka juga menyerahkan sepenuhnya kasus penganiayaan yang dilakukan pengurus keamanan pondok WN, 17, asal Desa Pandanarum, Kecamatan Pacet, Mojokerto itu ke pihak kepolisian.



Menurut Sholahuddin, selama ini di pesantren Mamba'ul Ulum tidak pernah sekalipun melakukan pembiaran terhadap tindakan penganiayaan. Meski diakui ada sanksi yang diberikan kepada santri yang melanggar tata tertib pesantren. Namun, sanksi itu bukan berupa hukuman fisik.

"Apabila ada yang melanggar, santri di sini disuruh menghafalkan surat-surat pendek, praktik ibadah dan sebagainya. Ada denda uang yang itu dikumpulkan di akhir tahun untuk digunakan kegiatan santri. Tidak ada yang mengajarkan tentang kekerasan," kata dia.

Selama ini, kata Sholahuddin, pihak pesantren sudah melakukan pengawasan terhadap para santri. Namun tak bisa dipungkiri, insiden penganiayaan hingga membuat AR, 16, santri asal Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, meninggal dunia itu merupakan sebuah kelalaian.



"Terkait masalah pengawasan, saya kira seluruh asatid (orang yang dituakan di pesantren) sudah mengawasi. Namun, namanya manusia itu kadang-kadang lelah. Tapi waktu itu saya tanya, ustad mengetahui ada santri yang keluar, tapi tidak tahu apa yang terjadi," jelas dia.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top