Sumatera

Petani karet keluhkan babi & monyet

Senin,  21 Oktober 2013  −  04:07 WIB
Petani karet keluhkan babi & monyet
Foto: Sierra Syailendra/Koran Sindo

Sindonews.com - Petani karet di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mengeluhkan hama babi dan monyet yang sering menyerang tanaman karet mereka.

Untuk tanaman karet yang masih berusia di bawah satu tahun sering dimakan babi hingga tanaman rusak. Sedangkan hama monyet kerap mengambil daun karet yang muda sehingga menghambat pertumbuhan tanaman menjadi kerdil.

Anggota Kelompok Tani Sepakat Maju di Desa Sukarami, Sekayu, Joni Darwin mengatakan hama babi dan monyet bagi tanaman karet ini sering kali terjadi dan sudah merusak ratusan karet muda dan bibit karetnya. Hal ini membuat banyak petani kewalahan.

“Biasanya hama babi datang kekebun malam hari. Pagi-pagi tanaman karet kita sudah rusak, bibit karet yang masih mudah dicabut dan bijinya dimakan,” ujarnya, Kemarin.

Petani di desa tersebut juga kerap berjaga-jaga dan melakukan perburuan hama babi tersebut.

Untuk mengatasinya, petanipun mencari akal dengan menebarkan minyak tancho di lahan yang dianggap bisa mengusir hama babi. Selain juga menggunakan baju bekas yang ditegakkan dengan kayu seolah-olah mirip manusia.

“Dulu sering ada bantuan untuk berburu babi dari klub menembak namun sekarang sudah jarang sekali. Sehingga petani juga kerap membawa senapan angin sekalian berburu babi maupun monyet,” tandasnya. 

Serangan hama babi yang kian meresahkan itu ujar Joni terkadang dilakukan babi secara bergerombol atau sendiri-sendiri namun kedatangan babi selalu dilakukan malam hari yang kian menyulitkan petani. Ada juga warga mengusir hama babi dengan menggunakan dahan berduri di sekeliling pohon karet dan berbagai cara lainnya.

Petani karet lainnya, Suryanto mengaku akibat kerusakan karet tersebut dia mengaku mengalami kerugian. Sebab, dari ribuan tanaman karet muda yang ditanam kerusakan oleh hama babi terkadang mencapai 10 peren atau ratusan karet.

“Untuk karet unggul saja harga bibit satu batangnya bisa mencapai Rp7000. Dan kalau sudah rusak tidak bisa digunakan lagi,” tandasnya.

Petani bertekat tingkatkan produksi getah

Sementara itu, dengan harga karet yang belum stabil dan masih dirasakan rendah ditambah lagi gangguan hama babi dan monyet, petani karet tetap merasa optimis. Untuk itu mereka bertekad untuk meningkat produksi.

Pembina petani karet PT Kirana Musi Persada di Sekayu, Agus menjelaskan harga karet yang sudah ditentukan pasar tersebut kerap menjadi keluhan petani.

Hanya saja, pihaknya menekankan agar perawatan, pemupukan dan teknik sadap karet kembali dilakukan secara tepat sehingga dapat meningkatkan produksi.

“Sudah banyak kita bantu petani karet yang tadinya produksi hanya 3 kg per hektare setelah kita lakukan pembinaan bisa menjadi 25 kg-50 kg perhektarenya,” paparnya.

Dengan kondisi ini, Agus mengatakan jika banyak petani karet yang belum memahami masalah karet dan banyak kebun karet yang tidak terawat .
Misalkan saja, petani masih ragu menggunakan pupuk yang kita tawarkan padahal pupuk tersebut bisa meningkatkan produksi getah karet.

“Kita gunakan pupuk piogas pukar yang merupakan pupuk racikan dari kota Padang Sidempuan dan hasilnya bagus,” imbuhnya seraya menambahkan harga karet ditingkat petani berkisar Rp7.000-Rp8.000 perkilogram nya.

Untuk meningkatkan produksi getah karet, jelas Agus, sangat tepat jika karet yang ditanam diperhatikan dari awal penanaman yakni dengan menggunakan bibit unggul dan pemupukan.

Setelah umur karet 5-6 tahun harus diperhatikan juga teknik sadap atau pola sadap karetnya. Bahkan bila dilakukan secara profesional perhektarenya bisa menghasilkan getah karet sampai 125 kg.

Dengan hasil maksimal seperti itu, jelas Agus, harga karet yang dirasakan petani rendah tidak akan dirasakan.

“Inilah yang perlu beri penyuluhan kepada petani karet untuk terus meningkatkan produksi getah karetnya,” ucapnya.

Petani karet, jelas Agus, diberikan cara untuk membuat bibit karet yang unggul sehingga tidak lagi tertipu masalah bibit. Dengan begitu dapat  meningkatkan nilai tambah bukan saja menjual karet mentah namun juga bisa menjual bibit seedling yang unggul yang dikelola dalam kelompok tani tersebut. 

Untuk itu, Agus menambahkan peran serta pemerintah juga sangat diharapkan untuk aktif memberikan penyuluhan kepada petani karet.
Petani karet, Arifin mengaku kenaikan harga sembako tidak sebanding dengan produksi getah karet yang mereka hasilkan. Sehingga petani selalu merasa rugi. 

“Saya saja punya 10 hektare karet namun hanya 5 hektare saja yang produktif yang lainnya karet sudah tua,” jelasnya. Dengan tergabung kelompok petani yang mendapatkan penyuluhan tersebut dirinya kini sudah bisa meningkatkan produksi getah karet.


(lns)

views: 3.513x
shadow