Semangat Srikandi Jaga Semanggi Makin Bernilai
Minggu, 18 Desember 2022 - 00:01 WIB
loading...
A
A
A
Daun semanggi direbus lalu ditambah bumbu kacang (seperti bumbu pecel) dan dimakan dengan kerupuk puli. Makanan ini menjadi ciri khas kota Surabaya.
Karena banyak dimanfaatkan masyarakat untuk dijadikan makanan dan laku dijual, akhirnya banyak yang mulai mengembangbiakkan gulma itu. Apalagi, pasokan semanggi mulai sulit didapat karena berebut untuk mengolahnya.
Seperti Tatik Farika yang memanfaatkan lahan 10x10 meter di belakang rumahnya untuk tempat budidaya. Membudidayakan semanggi ini harus di lahan yang ada airnya karena semanggi hanya bisa tumbuh di media yang berair.
Hampir sebagian besar warga RT 3 Sememi itu menekuni bisnis semanggi ini. Mulai hulu hingga hilir mereka lakukan sendiri.
Biasanya para suami membudidayakan tanamannya dan memanen setiap hari, sementara istri mengolah dan menjualnya ke beberapa lokasi di Surabaya dan sekitarnya.
"Iya, panen seminggu sekali. Saya jualannya di Masjid Agung (Surabaya). Terkadang juga menerima orderan atau pesanan di rumah," ujar Tatik Farika di sela kesibukannya menjemur semanggi hasil panen dari lahan di belakang rumah.
![Semangat Srikandi Jaga Semanggi Makin Bernilai]()
Suasana Kampung Semanggi Suroboyo yang mayoritas warganya berjualan makanan semanggi.
Srikandi Semanggi
Menurut Tatik, bisnis semanggi yang dia geluti ini adalah turunan dari mertua, sekarang ke anaknya. Salah satu anak Tatik yang dikader untuk meneruskan bisnis sekaligus melestarikan semanggi ini adalah Farikha Nuridduha.
Di kampung ini, Nuridduha adalah kader penggerak sekaligus penerus. Tak hanya meneruskan warisan bisnis keluarga, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan semanggi yang menjadi ikon Surabaya ini tetap eksis sampai kapan pun.
Karena banyak dimanfaatkan masyarakat untuk dijadikan makanan dan laku dijual, akhirnya banyak yang mulai mengembangbiakkan gulma itu. Apalagi, pasokan semanggi mulai sulit didapat karena berebut untuk mengolahnya.
Seperti Tatik Farika yang memanfaatkan lahan 10x10 meter di belakang rumahnya untuk tempat budidaya. Membudidayakan semanggi ini harus di lahan yang ada airnya karena semanggi hanya bisa tumbuh di media yang berair.
Hampir sebagian besar warga RT 3 Sememi itu menekuni bisnis semanggi ini. Mulai hulu hingga hilir mereka lakukan sendiri.
Biasanya para suami membudidayakan tanamannya dan memanen setiap hari, sementara istri mengolah dan menjualnya ke beberapa lokasi di Surabaya dan sekitarnya.
"Iya, panen seminggu sekali. Saya jualannya di Masjid Agung (Surabaya). Terkadang juga menerima orderan atau pesanan di rumah," ujar Tatik Farika di sela kesibukannya menjemur semanggi hasil panen dari lahan di belakang rumah.

Suasana Kampung Semanggi Suroboyo yang mayoritas warganya berjualan makanan semanggi.
Srikandi Semanggi
Menurut Tatik, bisnis semanggi yang dia geluti ini adalah turunan dari mertua, sekarang ke anaknya. Salah satu anak Tatik yang dikader untuk meneruskan bisnis sekaligus melestarikan semanggi ini adalah Farikha Nuridduha.
Di kampung ini, Nuridduha adalah kader penggerak sekaligus penerus. Tak hanya meneruskan warisan bisnis keluarga, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan semanggi yang menjadi ikon Surabaya ini tetap eksis sampai kapan pun.
Lihat Juga :