Terungkap! Alasan Jawa Barat Minim Peninggalan Candi Zaman Kerajaan
Minggu, 04 Desember 2022 - 07:00 WIB
loading...
A
A
A
Bangunan masyarakat yang berbeda tentu saja akan menghasilkan corak kebudayaan yang berbeda, bahkan perkembangan sejarahnya pun boleh jadi berlainan. Hampir dapat dipastikan bahwa masyarakat Pajajaran pada umumnya adalah masyarakat ladang, masyarakat huma.
Dimana ciri masyarakat ladang sebagaimana di masyarakat Jawa Barat mulai dari kerap tinggal berpencar sesuai dengan ladang yang sedang digarapnya. Akibatnya, sifat masyarakat ladang cen- derung lebih individual dan lebih percaya pada kemampuan diri sendiri.
Berbeda dengan masyarakat sawah yang bekerja hanya sampai waktu pecat sawed (menjelang dhuhur atau tengah hari), masyarakat ladang bekerja hingga sore, bekerja hampir seharian penuh. Akibatnya, hubungan dengan tetangga agak renggang dan jarang, karena letak yang berjauhan.
Dengan demikian, dapat dimaklumi jika di dalam masyarakat ladang perkembangan bahasa kurang pesat dan kurang luas sebagaimana di dalam masyarakat sawah yang kehidupannya terikat oleh sawah dan selamanya tinggal di kampung (berkumpul).
Masyarakat ladang tidak kenal terhadap pemujaan leluhur dalam wujud pemeliharaan makam. Hingga kini di tidak ada kompleks makam, walaupun dalam hubungannya dengan kepercayaannya mereka menguburkan mayat sebagaimana di tempat lain.
Kuburan baru hanya dicirikan oleh pohon hanjuang (sejenis pohon perdu yang biasa ditanam di makam atau di halaman rumah) hingga hari keempat puluh. Lewat waktu itu, tanah kuburan yang bersangkutan dianggap tanah biasa kembali.
Dimana ciri masyarakat ladang sebagaimana di masyarakat Jawa Barat mulai dari kerap tinggal berpencar sesuai dengan ladang yang sedang digarapnya. Akibatnya, sifat masyarakat ladang cen- derung lebih individual dan lebih percaya pada kemampuan diri sendiri.
Berbeda dengan masyarakat sawah yang bekerja hanya sampai waktu pecat sawed (menjelang dhuhur atau tengah hari), masyarakat ladang bekerja hingga sore, bekerja hampir seharian penuh. Akibatnya, hubungan dengan tetangga agak renggang dan jarang, karena letak yang berjauhan.
Dengan demikian, dapat dimaklumi jika di dalam masyarakat ladang perkembangan bahasa kurang pesat dan kurang luas sebagaimana di dalam masyarakat sawah yang kehidupannya terikat oleh sawah dan selamanya tinggal di kampung (berkumpul).
Masyarakat ladang tidak kenal terhadap pemujaan leluhur dalam wujud pemeliharaan makam. Hingga kini di tidak ada kompleks makam, walaupun dalam hubungannya dengan kepercayaannya mereka menguburkan mayat sebagaimana di tempat lain.
Kuburan baru hanya dicirikan oleh pohon hanjuang (sejenis pohon perdu yang biasa ditanam di makam atau di halaman rumah) hingga hari keempat puluh. Lewat waktu itu, tanah kuburan yang bersangkutan dianggap tanah biasa kembali.
Lihat Juga :