Sejarah Jembatan Bekasi, Saksi Bisu Pembantaian Tentara Jepang di Kali Bekasi
Selasa, 29 November 2022 - 07:38 WIB
loading...
A
A
A
Tiba-tiba rakyat dan pejuang menyerbu gerbong kereta tersebut dan disitulah pertumpahan darah dimulai antara tentara jepang dengan para pejuang Indonesia hingga menyebabkan Kali Bekasi menjadi merah. Baca juga: Sosok KH Ma’mun Nawawi, Murid KH Hasyim Asy’ari Penggembleng Laskar Hizbullah di Cibarusah Bekasi
Setelah melalui pertempuran kecil, beberapa menit kemudian, massa berhasil menguasai kereta api. Mereka merampas barang-barang yang ada di dalamnya (termasuk ratusan pucuk senjata) dan memasukan 90 tawanan berkebangsaan Jepang itu ke sebuah sel.
Empat jam kemudian, tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan Komandan Resimen V TKR Mayor Sambas, massa rakyat dan pejuang lantas menggiring para tawanan perang itu ke tepian Kali Bekasi.
Satu persatu, serdadu malang itu disembelih dan mayatnya dihanyutkan ke dalam sungai. Kali Bekasi sampai berwarna merah karena darah yang keluar dari tubuh para serdadu Jepang itu.Sampai saat ini Jembatan Bekasi masih beroperasi dan sudah mengalami pemugaran. Baca juga: Kisah Horor Saung Ranggon Bekasi, Tempat Singgah Pangeran Jayakarta dan Pertapaan Soekarno
Jembatan tersebutterbagi menjadi dua bagian.Pertama dibangun tahun 1890, sedangkan yang kedua adalahjembatankeretabaru dengankonstruksi baja untuk mendukung jalurdouble track(DDT)dari Manggarai menuju Cikarang.
Tak sampai disitu, jembatan Bekasi yang asli juga sudah dijadikan bangunan cagar budaya dan menjadi aset Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta yang disebut dengan BH 134.Hingga saat ini, dekat dengan jembatan tersebut ada sebuah monument bersejarah mengenang tragedi tersebut.
Setelah melalui pertempuran kecil, beberapa menit kemudian, massa berhasil menguasai kereta api. Mereka merampas barang-barang yang ada di dalamnya (termasuk ratusan pucuk senjata) dan memasukan 90 tawanan berkebangsaan Jepang itu ke sebuah sel.
Empat jam kemudian, tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan Komandan Resimen V TKR Mayor Sambas, massa rakyat dan pejuang lantas menggiring para tawanan perang itu ke tepian Kali Bekasi.
Satu persatu, serdadu malang itu disembelih dan mayatnya dihanyutkan ke dalam sungai. Kali Bekasi sampai berwarna merah karena darah yang keluar dari tubuh para serdadu Jepang itu.Sampai saat ini Jembatan Bekasi masih beroperasi dan sudah mengalami pemugaran. Baca juga: Kisah Horor Saung Ranggon Bekasi, Tempat Singgah Pangeran Jayakarta dan Pertapaan Soekarno
Jembatan tersebutterbagi menjadi dua bagian.Pertama dibangun tahun 1890, sedangkan yang kedua adalahjembatankeretabaru dengankonstruksi baja untuk mendukung jalurdouble track(DDT)dari Manggarai menuju Cikarang.
Tak sampai disitu, jembatan Bekasi yang asli juga sudah dijadikan bangunan cagar budaya dan menjadi aset Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta yang disebut dengan BH 134.Hingga saat ini, dekat dengan jembatan tersebut ada sebuah monument bersejarah mengenang tragedi tersebut.
(ams)
Lihat Juga :