Kasus Keracunan di AS Melonjak Usai Trump Usul Suntik Disinfektan

Senin, 27 April 2020 - 18:03 WIB
loading...
Kasus Keracunan di AS...
Presiden AS Donald Trump. Foto/REUTERS/Jonathan Ernst
A A A
WASHINGTON - Kasus keracunan di Amerika Serikat (AS) dilaporkan melonjak usai Presiden Donald Trump mengusulkan agar menyuntik produk disinfektan guna membersihkan tubuh dari virus corona baru (COVID-19). Pusat-pusat kendali keracunan di empat negara bagian di AS kini sibuk merepons panggilan tentang lonjakan jumlah warga yang keracunan disinfektan.

Pada jumpa pers hari Kamis lalu, Trump dilaporkan melontarkan ide menyuntikkan disinfektan atau pun menembakkan sinar ultraviolet (UV) pada pasien COVID-19. Ide itu memicu kecaman dari para pakar kesehatan karena bisa berbahaya.

Namun, Presiden Amerika tersebut tertawa saat mengklarifikasi laporan media-media AS. Menurutnya, pernyataan itu dimaksudkan untuk menjadi pertanyaan sarkastik kepada para wartawan yang menghadiri konferensi pers Gedung Putih.

Baca Juga: Ide Gila Trump: Pasien COVID-19 Disuntik Disinfektan dan Ditembak UV

Pernyataan yang memicu kecaman para pakar itu muncul ketika presiden membahas studi terbaru Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) tentang efek sinar UV dan desinfektan pada virus di permukaan. Dia kemudian bertanya-tanya apakah sesuatu yang seperti itu dapat dilakukan di dalam tubuh orang-orang.

"Saya mengajukan pertanyaan dengan sarkastik kepada wartawan seperti Anda hanya untuk melihat apa yang akan terjadi," kata Trump di Oval Office Gedung Putih, seperti dikutip The Hill.

"Saya mengajukan pertanyaan sarkastik—dan pertanyaan yang sangat sarkastik—kepada wartawan di ruangan tentang disinfektan di bagian dalam (tubuh)," lanjut presiden.

"Tapi itu benar-benar membunuhnya, dan itu akan membunuhnya di tangan dan itu akan membuat segalanya menjadi lebih baik. Itu dilakukan dalam bentuk pertanyaan sarkastik kepada para wartawan."

Baca Juga: Heboh Ide Suntik Disinfektan Pasien COVID-19, Ini Klarifikasi Trump

Meski Presiden Trump sudah menyampaikan klarifikasi, banyak warga AS justru mengikuti gagasan berbahaya tersebut. Pihak berwenang di New York, Michigan, Maryland dan Illinois telah melaporkan peningkatan panggilan telepon ke pusat kendali keracunan mereka yang berkaitan dengan paparan produk pembersih rumah tangga pada hari-hari setelah pernyataan Trump.

Departemen Kesehatan dan Kebersihan Mental New York City mengatakan kepada National Public Radio bahwa pusat kendali keracunan mereka menerima 30 panggilan dalam 18 jam setelah komentar Trump. Angka itu dua kali lipat dari 13 kasus yang terjadi selama periode yang sama pada tahun 2019.

Juru bicara departemen Pedro F Frisneda mengatakan 10 kasus terkait dengan paparan pemutih, sembilan terkait Lysol dan 11 kasus terkait berbagai produk pembersih rumah tangga lainnya.

Gubernur Michigan Gretchen Whitmer dan Gubernur Maryland Larry Hogan pada hari Minggu mengindikasikan bahwa negara bagian yang mereka pimpin telah mencatat lonjakan panggilan yang dilakukan ke hotline darurat sejak pernyataan Trump keluar.

"Ratusan telepon masuk ke hotline darurat kami di departemen kesehatan kami menanyakan apakah itu benar untuk menelan produk pembersih Clorox atau alkohol—apakah itu akan membantu mereka melawan virus," kata Hogan kepada ABC News.

"Jadi, kita harus mengeluarkan peringatan itu untuk memastikan bahwa orang tidak melakukan sesuatu seperti itu, yang akan membunuh orang karena melakukannya," ujarnya, yang dilansir Senin (27/4/2020).

Baca Juga: Saran Trump Suntik Disiinfektan Bikin Banyak Warga AS Keracunan

Whitmer menggemakan ucapan Hogan pada program "Sunday's This Week". "Kami telah melihat peningkatan jumlah orang yang menghubungi pusat kendali keracunan dan jadi saya pikir sangat penting bahwa setiap dari kita dengan platform agar menyebarkan informasi yang akurat secara medis," katanya.

"Saya ingin mengatakan, jangan ada yang menggunakan desinfektan—untuk dicerna guna melawan COVID-19," paparnya. "Tolong jangan lakukan itu. Jangan lakukan itu," imbuh Whitmer.

Peringatan mereka datang dua hari setelah Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat Illinois Dr Ngozi Ezike mengatakan bahwa negara bagian itu juga telah melihat lonjakan panggilan telepon ke pusat kendali keracunan Illinois terkait dengan paparan zat pembersih sejak Kamis. Pernyataan Ezike dikeluarkan pada briefing coronavirus Illinois pada hari Jumat.

"Menyuntikkan, menelan, atau menghirup pembersih rumah tangga adalah berbahaya. Tidak disarankan, dan itu bisa mematikan," kata Ezike, yang bergabung dengan ratusan pejabat kesehatan masyarakat domestik yang meminta orang untuk tidak menggunakan metode itu untuk mengobati COVID-19.

Ketika diminta oleh Newsweek untuk menanggapi laporan tentang lonjakan panggilan telepon ke pusat-pusat kendali racun di AS, seorang juru bicara Gedung Putih menyalahkan media karena mengutip pernyataan Trump di luar konteks.

"Media telah kehilangan kendali dengan kesalahan karakterisasi mereka dan tajuk berita aneh tentang apa yang dikatakan Presiden, dan sama sekali mengabaikan bahwa dia secara konsisten menekankan bahwa orang Amerika harus berkonsultasi dengan dokter mereka mengenai pengobatan virus corona," kata juru bicara Gedung Putih, Kayleigh McEnany, dalam sebuah email.
(tri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pilot Amerika Serikat...
Pilot Amerika Serikat Korban Serangan KKB di Yahukimo Diduga Tewas Ditembak Jarak Dekat
Momen Menegangkan Pasukan...
Momen Menegangkan Pasukan TNI Evakuasi Jenazah Pilot AS yang Ditembak OPM di Yahukimo
Imigrasi Tangkap Warga...
Imigrasi Tangkap Warga Negara Amerika Serikat Buronan Kasus Pembunuhan di South Carolina
Warga Negara Amerika...
Warga Negara Amerika Pelaku Pembunuhan dalam Koper Dideportasi
Bawa Permen Ganja dari...
Bawa Permen Ganja dari Thailand, Pebasket AS Ditangkap Polisi
Amerika Soroti Barang...
Amerika Soroti Barang Bajakan di Mangga Dua, Pramono: Itu Urusan Pemerintah Pusat
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
Rekomendasi
Nonton Latihan Pestapora...
Nonton Latihan Pestapora Makassar Lebih Murah Pakai BRImo, Begini Cara Dapat Promonya!
Elon Musk Minta Tak...
Elon Musk Minta Tak Perlu Takut dengan AI, Nikmati Saja
Kisah Paredes Dicuekin...
Kisah Paredes Dicuekin Messi Sampai 3 Bulan Gara-gara Liga Champions
Berita Terkini
Suami Istri Pemilik...
Suami Istri Pemilik Hanania Travel Ditetapkan Jadi Tersangka Penipuan Jemaah Umrah
Wali Kota Semarang:...
Wali Kota Semarang: Butuh Komitmen Bersama dalam Pemberantasan Korupsi
Kasus Debt Collector...
Kasus Debt Collector dan Nasabah Digerebek di Purworejo Berakhir Damai
Tidar Jakarta Barat...
Tidar Jakarta Barat Yakin Sudaryono Mampu Perkuat Tata Kelola Program MBG
Ketua HMI Merauke: PSN...
Ketua HMI Merauke: PSN Harus Tingkatkan Pendidikan dan Kesejahteraan Orang Asli Papua
Polisi Sudah Periksa...
Polisi Sudah Periksa 10 Saksi di Kasus Dugaan Penghinaan Profesi Wartawan oleh Hotman Paris
Infografis
Pau Cubarsi, Pemain...
Pau Cubarsi, Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2026 yang Pernah Main di Solo
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved