alexametrics

Cerita Pagi

Peristiwa Cimareme, Mengenang Perjuangan H Hasan

loading...
Peristiwa Cimareme, Mengenang Perjuangan H Hasan
Ilustrasi (dok:Istimewa)
A+ A-
PERISTIWA Cimareme yang terjadi 95 tahun lalu, sudah banyak dilupakan. Bahkan banyak mengalami distorsi sejarah. Penulisan peristiwa ini dalam cerita pagi merupakan satu upaya untuk mengenang kembali peristiwa itu.

Adapun hal penting yang ingin dikemukakan dalam penulisan ini adalah dampak kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, dan protes H Hasan dari Kampung Cimareme, Desa Cikendal, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut yang mempertahankan tanahnya, dari tangan kolonial Belanda. Peristiwa ini menjadi penting, karena membawa pengaruh besar dalam permulaan abad ke-20.

Haji Hasan merupakan tokoh utama dalam Peristiwa Cimareme tahun 1919. Dia merupakan keturunan Kesultanan Banten dari ayahnya Kiyai Tubagus Alpani. Ibunya Djamilah merupakan putri R Kartaningrat, pendiri Pondok Pesantren Cimareme.

Sejak muda, H Hasan sudah sangat disegani oleh warga sekitar. Dia mengajar ilmu agama, membekali para santrinya dengan ilmu silat, dan sangat peduli dengan olahraga. Dia mendirikan perkumpulan pencak silat dan sepakbola. Dia juga melek dengan politik dan bergabung dengan perkumpulan Goena Perlaja yang dipimpin oleh Kiayi Abdullah dari Tegalgubuk Cirebon.

Goena Perlaja adalah pusat gerakan revolusioner yang memiliki tujuan yang sama dengan Serikat Islam (SI) Afdeling B. Perkumpulan ini diperkirakan mempunyai hubungan dengan beberapa tokoh seperti Surjopranoto, Ketua Adhi Dharma (Serikat Buruh Gula), Semaun dari ISDV, Alimin dan Abdul Muis dari SI Batavia, serta Sanusi dari Bandung.

Saat Peraturan Pembelian Padi diberlakukan pada 17 Maret 1919, H Hasan sudah melakukan penolakan. Dasar penolakannya bukan semata-mata faktor ekonomi, tetapi karena kebenciannya terhadap orang Belanda. Sikap bermusuhan itu sudah tertanam sejak dia masih kecil. Bapaknya selalu mengajarinya untuk menjaga jarak dengan orang Belanda dan kaki tangannya.

Bahkan pernah suatu kali, H Hasan ditawari jabatan resmi oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai tokoh agama, tetapi ditolaknya. Penolakan ini membekas dalam hati para pejabat pemerintah kolonial setempat.

Protes pertama H Hasan dilakukan saat Wedana Leles datang ke rumah H Hasan bersama Lurah Cikendal. Saat itu, kedua pejabat pemerintah kolonial ini ingin membayar uang muka pembelian padi milik H Hasan sebanyak 40 pikul. Tetapi uang itu ditolak, karena H Hasan hanya bersedia menjual padinya kepada pemerintah sebanyak 10 pikul.

Keberanian H Hasan menolak uang dari pejabat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dibalas dengan sikap arogan. Wedana Leles yang emosi mengancam akan mendatangkan pejabat pemerintah dan pasukan bersenjata lengkap untuk menyita sawah H Hasan.

Setelah kedua orang itu pulang, keesokan harinya H Hasan mengirimkan surat kepada Wedana Leles dan menanyakan kebijakan pemerintah membeli 40 pikul padi miliknya, dan rencana mendatangkan pejabat pemerintah dan serdadu bersenjata untuk menyita seluruh tanah miliknya. Namun surat itu tidak pernah dibalas. Bahkan setelah dia mengirim utusan ke Wedana Leles.

Klimak kedua perlawanan H Hasan adalah saat juru tulis pemerintah kolonial mengabarkan bahkan H Hasan tidak menjual padinya di tempat-tempat yang telah ditentukan, serta adanya orang-orang berpakaian putih bersenjata tajam.

Sebagai balasan atas sikap H Hasan, pada 4 Juli 1919, asisten wedana memerintahkan pejabat sekitar dengan membawa tentara Belanda bersenjata lengkap untuk menangkap H Hasan. Di waktu yang sama, H Hasan kembali mengirimkan surat dengan pertanyaan yang sama kepada asisten residen. Isi surat sama dengan yang pertama, terkait rencana penyitaan tanah miliknya.

Kabar akan ditangkapnya H Hasan membuat gempar Garut. Banyak pendukung SI Afdeling B yang merencanakan pemberontakan dan warga yang bersimpati dengan protes H Hasan, ikut datang ke rumah H Hasan. Jumlah mereka mencapai ribuan.

Banyaknya para pendukung H Hasan ini membuat penangkapan tanggal 4 Juli 1949 itu ditunda. Akhirnya, untuk pertama kalinya, H Hasan mengetahui setelah berunding dengan asisten wedana bahwa semua permintaannya dalam surat pertama dan kedua tidak dikabulkan. Dari situ, H Hasan terus menggalang dukungan di lingkungan keluarganya untuk perang sabil.

Pada hari Sabtu 6 Juli 1919, sekitar jam 12.30 WIB, sebanyak 40 orang infantri di bawah pimpinan Mayor Van Der Bie dan Letnan Hillen berangkat ke Garut. Mereka hendak melakukan penangkapan terhadap H Hasan. Pasukan bersenjata dari Tasikmalaya yang berjumlah 30 orang di bawah pimpinan Komandan Raes juga ikut diterjunkan.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak