Sejarah dan Perkiraan Harga Emas Monas
Rabu, 10 Agustus 2022 - 08:50 WIB
loading...
A
A
A
Dimensi arsitektur Monas dilandasi oleh angka 17, 8, dan 45, yang menandakan hari proklamasi Indonesia. Dilansir dari jakarta-tourism.go.id, Rabu (10/8/2020), lidah api Monas memiliki ketinggian 17 meter, dan pelataran bawah seluas 45x45 meter, serta jarak dari pelataran bawah ke dasar setinggi 17 meter.
Baca juga: Profil Arsitek Tugu Monas Prof RM Soedarsono, Seniman Koreografi yang Tidak Pernah Sekolah Arsitektur
Ukuran ini selaras dengan Hari Proklamasi Indonesia yaitu 17 Agustus 1945. Proses pembangunan Monas dilakukan dalam tiga tahapan. Tahap pertama dilakukan pada tahun 1961-1965 di mana pelaksanaannya diawasi oleh Panitia Monumen Nasional dan dibangun dengan biaya sumbangan masyarakat.
Pada tahap ini, proses pembangunan meliputi fondasi, dinding museum lantai dasar, dan obelisk atau tugu. Pembangunan tahap dua dilakukan pada tahun 1966 sampai 1988, dengan biaya pembangunan bersumber dari Anggaran Pemerintah Pusat yang berasal dari Sekretariat Negara RI. Pada tahap ini, pembangunan Monas sempat terkendala karena masalah biaya.
Tahap terakhir dilakukan pada tahun 1969-1976 dan dibiayai oleh Direktorat Jenderal Anggaran melalui Repelita dengan menggunakan Daftar Isian Proyek (DIP). Akhirnya setelah 14 tahun masa pembangunan, Monas setinggi 132 meter ini diresmikan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, tepatnya tanggal 12 Juli 1975. Saat itulah masyarakat bisa mengunjungi dan menikmati keindahan Monas.
Tidak hanya membutuhkan waktu yang cukup panjang, pembangunan Monas juga memakan biaya yang sangat besar, apalagi mengingat lidah api pada Monas terbuat dari perunggu dan emas asli. Lidah api pada Monas terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan dilapisi lempengan emas seberat 35 Kg. Kemudian, pada HUT RI ke-50 lalu, emas pada lidah api ditambah menjadi 50 Kg.
Baca juga: Profil Arsitek Tugu Monas Prof RM Soedarsono, Seniman Koreografi yang Tidak Pernah Sekolah Arsitektur
Ukuran ini selaras dengan Hari Proklamasi Indonesia yaitu 17 Agustus 1945. Proses pembangunan Monas dilakukan dalam tiga tahapan. Tahap pertama dilakukan pada tahun 1961-1965 di mana pelaksanaannya diawasi oleh Panitia Monumen Nasional dan dibangun dengan biaya sumbangan masyarakat.
Pada tahap ini, proses pembangunan meliputi fondasi, dinding museum lantai dasar, dan obelisk atau tugu. Pembangunan tahap dua dilakukan pada tahun 1966 sampai 1988, dengan biaya pembangunan bersumber dari Anggaran Pemerintah Pusat yang berasal dari Sekretariat Negara RI. Pada tahap ini, pembangunan Monas sempat terkendala karena masalah biaya.
Tahap terakhir dilakukan pada tahun 1969-1976 dan dibiayai oleh Direktorat Jenderal Anggaran melalui Repelita dengan menggunakan Daftar Isian Proyek (DIP). Akhirnya setelah 14 tahun masa pembangunan, Monas setinggi 132 meter ini diresmikan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, tepatnya tanggal 12 Juli 1975. Saat itulah masyarakat bisa mengunjungi dan menikmati keindahan Monas.
Tidak hanya membutuhkan waktu yang cukup panjang, pembangunan Monas juga memakan biaya yang sangat besar, apalagi mengingat lidah api pada Monas terbuat dari perunggu dan emas asli. Lidah api pada Monas terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan dilapisi lempengan emas seberat 35 Kg. Kemudian, pada HUT RI ke-50 lalu, emas pada lidah api ditambah menjadi 50 Kg.

Lihat Juga :