Cara Penanganan Epilepsi dan Kejang Demam pada Anak
Jum'at, 05 Agustus 2022 - 22:26 WIB
loading...
A
A
A
"Adapun epilepsi atau 'ayan' merupakan kondisi yang dapat menjadikan seseorang mengalami kejang berulang yang menyerang karena kerusakan atau perubahan dalam otak", tutur dokter Lilian.
Selain itu, lanjut Lilian, perbedaan kejang demam dan epilepsi secara garis besar dibedakan dari durasi, tipe kejang, dan usia. "Kejang demam umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun sedangkan epilepsi cukup bervariasi. Penyebab kejang demam adalah ektrakranial. Adapun epilepsi dipastikan intraktanial," ujarnya
Lanjut Lilian, dalam hal pengobatan, juga ada perbedaan antara kejang demam dan epilepsi. Terkadang kejang demam cukup diberikan obat penurun panas. "Namun konsumsi obat antiepilepsi pada pasien terdiagnosa harus rutin setiap hari yang bertujuan kestabilan kadar obat pada tubuh pasien serta akan menurunkan frekuensi kambuh," jelasnya.
Dokter Lilian mengingatkan, apabila dalam masa penyembuhan seorang pasien yang telah teratur meminum kombinasi beberapa obat antiepilepsi, namun episode kejang masih sering terjadi, maka alternatif pembedahan dapat dilakukan. Baca juga: Tingkatkan Layanan saat Mudik Lebaran, RS Siloam Purwakarta Siapkan Ambulans dan Sentra Vaksinasi
"Patut dipahami para orangtua, bahwa epilepsi adalah kondisi yang lebih berbahaya dan sangat menggangu tumbuh kembang anak. Karenanya, epilepsi perlu diobati agar pasien dapat beraktivitas normal kembali, dan kerusakan otak yang lebih parah dapat dihindari," tutupnya.
Selain itu, lanjut Lilian, perbedaan kejang demam dan epilepsi secara garis besar dibedakan dari durasi, tipe kejang, dan usia. "Kejang demam umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun sedangkan epilepsi cukup bervariasi. Penyebab kejang demam adalah ektrakranial. Adapun epilepsi dipastikan intraktanial," ujarnya
Lanjut Lilian, dalam hal pengobatan, juga ada perbedaan antara kejang demam dan epilepsi. Terkadang kejang demam cukup diberikan obat penurun panas. "Namun konsumsi obat antiepilepsi pada pasien terdiagnosa harus rutin setiap hari yang bertujuan kestabilan kadar obat pada tubuh pasien serta akan menurunkan frekuensi kambuh," jelasnya.
Dokter Lilian mengingatkan, apabila dalam masa penyembuhan seorang pasien yang telah teratur meminum kombinasi beberapa obat antiepilepsi, namun episode kejang masih sering terjadi, maka alternatif pembedahan dapat dilakukan. Baca juga: Tingkatkan Layanan saat Mudik Lebaran, RS Siloam Purwakarta Siapkan Ambulans dan Sentra Vaksinasi
"Patut dipahami para orangtua, bahwa epilepsi adalah kondisi yang lebih berbahaya dan sangat menggangu tumbuh kembang anak. Karenanya, epilepsi perlu diobati agar pasien dapat beraktivitas normal kembali, dan kerusakan otak yang lebih parah dapat dihindari," tutupnya.
(don)
Lihat Juga :