Ahli ITB Angkat Bicara Penanganan Polusi Udara Indonesia Terus Memburuk
Selasa, 02 Agustus 2022 - 16:15 WIB
loading...
A
A
A
Setiap musim kemarau, penduduk Sumatera dan Kalimantan sering merasakan penurunan kualitas udara akibat asap dari kebakaran lahan gambut. Kebakaran September 2019 merupakan salah satu yang terparah; nilai maksimum rata-rata harian konsentrasi PM 2,5 adalah 1100 ?/m3m3.
Formasi lahan gambut dimulai dari gugur dan tumbangnya daun, ranting atau batang di hutan hujan tropis. Proses ini yang sudah terjadi selama jutaan tahun menyebabkan bagian-bagian tumbuhan ini menumpuk di lantai hutan dan menggenang dari air hujan. Kondisi ini membuat oksigen tidak dapat masuk ke jasad tanaman, dan mikroorganisme membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengurainya dalam kondisi anaerobik.
Oleh karena itu, bagian-bagian tumbuhan ini tidak dapat terurai secara sempurna dan mengakumulasi menjadi lahan gambut, tanah organik yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ia melanjutkan, kandungan karbon sebanyak ini berasal dari hasil fotosintesis tanaman yang mengikat karbon dioksida di udara, dan sebagian karbon tersebut tersimpan di jasad tanaman. “Tumpukan jasad tanaman tadi sebenarnya sama dengan tumpukan karbon atau biasa disebut dengan carbon pool,” Dr. Windy menambahkan.
Indonesia sendiri mempunyai lapisan gambut yang cukup dalam sampai belasan meter, dan lahannya penting peranannya sebagai salah satu carbon pool terbesar di dunia sebesar 57 Gigaton. Namun, lahan gambut di Indonesia saat ini sedang mengalami degradasi, di mana lahan tersebut yang seharusnya mengikat karbon justru melepaskannya ke atmosfer.
Gangguan terhadap lahan gambut Indonesia ini dimulai sekitar tahun 1970 yang penuh dengan aktivitas penggundulan hutan dan peralihan fungsi kawasan. Selain itu, pembangunan drainase sekitar kawasan menyebabkan muka air lahan gambut turun dan bagian atasnya terekspos kepada oksigen. Ini mengakibatkan degradasi mikroorganisme secara aerobik dan mengemisikan karbon dioksida lebih besar ke atmosfer.
Formasi lahan gambut dimulai dari gugur dan tumbangnya daun, ranting atau batang di hutan hujan tropis. Proses ini yang sudah terjadi selama jutaan tahun menyebabkan bagian-bagian tumbuhan ini menumpuk di lantai hutan dan menggenang dari air hujan. Kondisi ini membuat oksigen tidak dapat masuk ke jasad tanaman, dan mikroorganisme membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengurainya dalam kondisi anaerobik.
Oleh karena itu, bagian-bagian tumbuhan ini tidak dapat terurai secara sempurna dan mengakumulasi menjadi lahan gambut, tanah organik yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ia melanjutkan, kandungan karbon sebanyak ini berasal dari hasil fotosintesis tanaman yang mengikat karbon dioksida di udara, dan sebagian karbon tersebut tersimpan di jasad tanaman. “Tumpukan jasad tanaman tadi sebenarnya sama dengan tumpukan karbon atau biasa disebut dengan carbon pool,” Dr. Windy menambahkan.
Indonesia sendiri mempunyai lapisan gambut yang cukup dalam sampai belasan meter, dan lahannya penting peranannya sebagai salah satu carbon pool terbesar di dunia sebesar 57 Gigaton. Namun, lahan gambut di Indonesia saat ini sedang mengalami degradasi, di mana lahan tersebut yang seharusnya mengikat karbon justru melepaskannya ke atmosfer.
Gangguan terhadap lahan gambut Indonesia ini dimulai sekitar tahun 1970 yang penuh dengan aktivitas penggundulan hutan dan peralihan fungsi kawasan. Selain itu, pembangunan drainase sekitar kawasan menyebabkan muka air lahan gambut turun dan bagian atasnya terekspos kepada oksigen. Ini mengakibatkan degradasi mikroorganisme secara aerobik dan mengemisikan karbon dioksida lebih besar ke atmosfer.
Lihat Juga :