Kisah Sultan Abdul Mufakir, Diangkat Jadi Raja Kesultanan Banten saat Bayi Berusia 5 Bulan
Jum'at, 15 Juli 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Pada 8 Maret 1608 sampai 26 Maret 1609 terjadi perang saudara di antara keluarga kerajaan. Melalui usaha Pangeran Jayakarta akhirnya perang dapat dihentikan dan perjanjian damai dapat disepakati bersama. Banten kembali aman, kemudian diangkatlah Pangeran Arya Ranamanggala sebagai Mangkubumi baru sekaligus menjadi wali Sultan Muda.
Untuk menertibkan keamanan Negara, Ranamanggala menghukum Pangeran atau Penggawa yang melakukan penyelewengan. Januari 1624, Mangkubumi Pangeran Arya Ranamanggala mundur dari jabatannya karena sakit.
Saat itu, Abdul Mufakhir sudah cukup dewasa, sehingga kekuasaan atas Kesultanan Banten sepenuhnya dipegang oleh Sultan Abdulmafakhir. Dua tahun kemudian tepatnya 13 Mei 1626 Pangeran Arya Ranamanggala meninggal dunia.
Baca juga: Pakubuwana II, Pendiri Keraton Surakarta yang Harus Menyerahkan Kedaulatan Mataram pada VOC
Sementara, keinginan VOC untuk melakukan monopoli perdagangan lada di Banten merupakan sumber konflik antara Banten dan VOC, karena Sultan Abdul Mufakhir menolak mentah-mentah kemauan VOC tersebut yang hendak memaksakan monopoli perdagangan.
Dengan semakin kuatnya kedudukan VOC di Batavia sejak 1619, konflik antara kedua belah pihak kian memuncak. VOC menerapkan blokade terhadap pelabuhan niaga Banten dengan melarang dan mencegat jung-jung dari China dan perahu-perahu dari Maluku yang akan berdagang ke pelabuhan Banten.
Untuk menertibkan keamanan Negara, Ranamanggala menghukum Pangeran atau Penggawa yang melakukan penyelewengan. Januari 1624, Mangkubumi Pangeran Arya Ranamanggala mundur dari jabatannya karena sakit.
Saat itu, Abdul Mufakhir sudah cukup dewasa, sehingga kekuasaan atas Kesultanan Banten sepenuhnya dipegang oleh Sultan Abdulmafakhir. Dua tahun kemudian tepatnya 13 Mei 1626 Pangeran Arya Ranamanggala meninggal dunia.
Baca juga: Pakubuwana II, Pendiri Keraton Surakarta yang Harus Menyerahkan Kedaulatan Mataram pada VOC
Sementara, keinginan VOC untuk melakukan monopoli perdagangan lada di Banten merupakan sumber konflik antara Banten dan VOC, karena Sultan Abdul Mufakhir menolak mentah-mentah kemauan VOC tersebut yang hendak memaksakan monopoli perdagangan.
Dengan semakin kuatnya kedudukan VOC di Batavia sejak 1619, konflik antara kedua belah pihak kian memuncak. VOC menerapkan blokade terhadap pelabuhan niaga Banten dengan melarang dan mencegat jung-jung dari China dan perahu-perahu dari Maluku yang akan berdagang ke pelabuhan Banten.
Lihat Juga :