Kisah Ratu Dewata, Raja Alim yang Taat dan Mengabaikan Urusan Militer
Jum'at, 08 Juli 2022 - 08:15 WIB
loading...
A
A
A
Penyerang tidak sukses menembus pertahanan kota, tetapi dua orang senapati Pajajaran gugur, yaitu Tohaan Ratu Sangiang dan Tohaan Sarendet. [Kokohnya benteng Pakuan adalah pertama merupakan jasa Banga yang pada tahun 739 diproduksi menjadi raja di Pakuan yang merupakan bawahan Raja Galuh.
Beliau ketika itu berupaya membebaskan diri dari kekuasaaan Manarah di Galuh. Beliau sukses setelah berjuang selama 20 tahun dan keberhasilannya itu di awali dengan pembuatan parit pertahanan kota. Kemudian keadaan Pakuan ini diperluas pada zaman Sri Baduga seperti yang bisa ditemukan pada Pustaka Nagara Kretabhuni I/2 yang pokoknya selang lain (artinya saja).
Pada masa itu, Sang Maharaja membuat karya luhur, yaitu membangun telaga luhur yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan jalan ke Wanagiri, memperteguh kedatuan, memberikan desa (perdikan) kepada semua pendeta dan pengiringnya bagi menggairahkan perkara agama yang diproduksi menjadi penuntun kehidupan rakyat.
Kemudian membuat kaputren (tempat isteri-isteri-nya), kesatrian (asrama prajurit), satuan-satuan tempat (pageralaran), tempat-tempat hiburan, memperkuat tingkatan perang, memungut upeti dari raja-raja bawahan dan kepala-kepala desa dan menyusun Undang-undang Kerajaan Pajajaran"
Baca juga: Kisah Akhir Hidup Jaka Tingkir Perang dengan Anak Angkatnya Sutawijaya
Amateguh kedatuan (memperteguh kedatuan) sejalan dengan maksud "membuat parit" (memperteguh pertahanan) Pakuan, bukan saja karena kata Pakuan mempunyai faedah pokok keraton atau kedatuan, melainkan kata amateguh menunjukkan bahwa kata kedatuan dalam hal ini kota raja. Sah sama dengan Pakuan dalam faedah ibukota.
Beliau ketika itu berupaya membebaskan diri dari kekuasaaan Manarah di Galuh. Beliau sukses setelah berjuang selama 20 tahun dan keberhasilannya itu di awali dengan pembuatan parit pertahanan kota. Kemudian keadaan Pakuan ini diperluas pada zaman Sri Baduga seperti yang bisa ditemukan pada Pustaka Nagara Kretabhuni I/2 yang pokoknya selang lain (artinya saja).
Pada masa itu, Sang Maharaja membuat karya luhur, yaitu membangun telaga luhur yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan jalan ke Wanagiri, memperteguh kedatuan, memberikan desa (perdikan) kepada semua pendeta dan pengiringnya bagi menggairahkan perkara agama yang diproduksi menjadi penuntun kehidupan rakyat.
Kemudian membuat kaputren (tempat isteri-isteri-nya), kesatrian (asrama prajurit), satuan-satuan tempat (pageralaran), tempat-tempat hiburan, memperkuat tingkatan perang, memungut upeti dari raja-raja bawahan dan kepala-kepala desa dan menyusun Undang-undang Kerajaan Pajajaran"
Baca juga: Kisah Akhir Hidup Jaka Tingkir Perang dengan Anak Angkatnya Sutawijaya
Amateguh kedatuan (memperteguh kedatuan) sejalan dengan maksud "membuat parit" (memperteguh pertahanan) Pakuan, bukan saja karena kata Pakuan mempunyai faedah pokok keraton atau kedatuan, melainkan kata amateguh menunjukkan bahwa kata kedatuan dalam hal ini kota raja. Sah sama dengan Pakuan dalam faedah ibukota.
Lihat Juga :