Pertanian Hortikultura di Sulut Gagal Panen, BI Sebut Faktor La Nina

Kamis, 23 Juni 2022 - 13:31 WIB
loading...
Pertanian Hortikultura...
Fenomena La Nina terpantau menguat di semester kedua tahun 2022, sehingga masih menjadi salah satu penyebab produk hortikultura. Foto/Ilustrasi/Dok.SINDOphoto
A A A
MANADO - Sejumlah sentra pertanian hortikultura di Sulawesi Utara (Sulut), mengalami gagal panen. Kondisi ini, menurut Kepala Bank Indonesia (BI) Sulut, Arbonas Hutabarat, salah satunya dipicu fenomena La Nina.

Baca juga: Surabaya Banjir Rob Efek La Nina, Masyarakat Diminta Waspada

Dia mengatakan, fenomena La Nina terpantau menguat di semester kedua tahun 2022. "Fenomena alam ini yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi, sehingga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia selain angin muson," tegas Arbonas.



Tingginya curah hujan, menurut Arbonas menjadi faktor yang menyebabkan gagal panen di sejumlah sentra produksi hortikultura. Dia menjelaskan, pada Januari-Februari hasil pantauan indeks BMKG menunjukkan, La Nina sudah berkurang menuju intensitas lemah (indeks sekitar -0,9 hingga -0,8). Namun pada bulan Maret-April, indeks La Nina menguat kembali dan indeks berkisar 1.1 (intensitas sedang).

Baca juga: Hanya Pakai Daster, Istri Perwira Polisi Panik Digerebek Ngamar Bersama AKP

Di samping itu, fenomena La Nina yang menguat menjelang periode pergantian musim hujan ke musim kemarau tahun ini, berdampak pada mundurnya musim kemarau di Indonesia yang berpotensi menyebabkan bergeser siklus tanam dan panen komoditas hortikultura.

Namun demikian, berdasarkan Data Statistik Pertanian Hortikultura (SPH), pada bulan April dan Mei 2022 terjadi peningkatan luas tanam pada berbagai sentra produksi bawang di Jawa maupun luar Pulau Jawa, sehingga diharapkan harga bawang akan kembali normal pada Juni dan Juli.

Sementara pada tanaman cabai rawit, selain masalah kenaikan harga pupuk, kenaikan harga cabai juga disebabkan turunnya produksi akibat musim hujan berlangsung lebih lama akibat fenomena La Nina yang masih terjadi hingga Mei yang menyebabkan banyaknya tanaman rusak. Selain itu, faktor hama juga ikut memperburuk masalah di berbagai sentra cabai rawit seperti Tuban dan Gorontalo.

Baca juga: Pesawat Susi Air Kecelakaan di Mimika, Ini Daftar Nama Pilot dan 6 Penumpang

Sebagai komoditas yang masuk dalam kategori volatile food (pangan bergejolak), pergerakan harga bawang merah, cabai dan tomat memang terjadi secara natural, baik karena faktor musiman, meningkatnya permintaan menjelang HBKN, permasalahan yang tidak terduga (bencana) dan permasalahan lain yang terjadi pada masing-masing daerah.

Demikian pula perkembangan tiga komoditas Bawang, Rica, Tomat (Barito) yang pada akhir-akhir ini secara nasional mengalami peningkatan. Pada Mei-Juni 2022, Rica atau cabai mencapai harga tertinggi sejak 2020-2022 dengan rata-rata nasional Rp80.250, bawang merah secara nasional mencapai harga Rp54.500.

Namun, apabila ditinjau sejak tahun 2020, kenaikan harga-harga tersebut khususnya cabai dan bawang merah pada dasarnya masih normal, meskipun pergerakan harga komoditas tersebut memang lebih tinggi sejak awal tahun 2022.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pramono Tunda Perbaikan...
Pramono Tunda Perbaikan Jalan Berlubang di Jakarta karena Curah Hujan Masih Tinggi
Jakarta Diguyur Hujan,...
Jakarta Diguyur Hujan, Lalu Lintas Masih Ramai Lancar
Curah Hujan Diprediksi...
Curah Hujan Diprediksi Tinggi Saat Nataru, Kapolri Siapkan Pelayanan Tanggap Bencana
Siklon Tropis 91S Picu...
Siklon Tropis 91S Picu Peningkatan Hujan di Sumatera, BMKG Imbau Masyarakat Waspada
Koperasi Bangun Tani...
Koperasi Bangun Tani Makmur: Harapan Baru dari Kampung Cirumput untuk Petani Hortikultura
Operasi Modifikasi Cuaca...
Operasi Modifikasi Cuaca Tekan Curah Hujan Capai 30-60% di Jabodetabek
Harga Cabai Meroket...
Harga Cabai Meroket Jelang Idul Adha
Harga Cabai Rawit Merah...
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp100 Ribu usai Lebaran 2026, Mendag Ungkap Biang Keroknya
Musim Kemarau 2026 Datang...
Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, BMKG: Puncaknya di Agustus
Rekomendasi
Aroma Match Fixing Rugikan...
Aroma Match Fixing Rugikan Timnas Iran di Piala Dunia 2026, Kenapa FIFA Tolak Investigasi?
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
Tim Hukum Jokowi Endus...
Tim Hukum Jokowi Endus Strategi Pecah Sidang Roy Suryo dan Dokter Tifa
Berita Terkini
Tak Hanya Andalkan Teknologi,...
Tak Hanya Andalkan Teknologi, KAI Bangun Loyalitas via Pelayanan Berkualitas
Program ParenTRING,...
Program ParenTRING, Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2 Gelar Khitanan Massal
Komut Pertamina Kunjungan...
Komut Pertamina Kunjungan Kerja ke Jatim hingga Nusa Tenggara, Ini Hasilnya
Besok Upacara Peringatan...
Besok Upacara Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Cikeas, Cari Jalur Alternatif Hindari Kemacetan
Gunung Dukono Maluku...
Gunung Dukono Maluku Utara Erupsi, PVMBG Imbau Masyarakat Waspada
Gapasdap: Penggunaan...
Gapasdap: Penggunaan B50 untuk Kapal Bebani Biaya Operasional Angkutan Penyeberangan
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved