Penyakit Mematikan di Era Pangeran Diponegoro, Ratusan Ribu Warga Meninggal
Minggu, 19 Juni 2022 - 07:38 WIB
loading...
Wabah penyakit mematikan terjadi di era Pangeran Dipenogoro dan merenggut nyawa ratusan ribu warga.Foto/ilustrasi
A
A
A
Situasi pandemi layaknya Covid-19 saat ini pernah dihadapi di era Pangeran Diponegoro . Saat itu penyakit kolera menyebabkan ratusan ribu masyarakat yang terkena paparannya meninggal dunia dengan cepat. Wabah kolera dilaporkan pertama kali pada April 1821, dimana saat itu kondisi di pedesaan Jawa selatan - tengah terus memburuk.
Panen padi yang kurang memuaskan dan krisis dalam industri gula pribumi ikut memberi andil. Pada awal 1821, situasi semakin parah karena gagalnya panen di banyak tempat lantaran kemarau panjang yang tidak biasanya terjadi, sebagaimana dikutip dari buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro : 1785 - 1855" dari Peter Carey.
Baca juga: Cerita Pangeran Diponegoro Menolak Bantuan Nyai Roro Kidul di Gua Langse
Di Pacitan dilaporkan wabah kolera menyebabkan bahwa penduduknya terjangkit dan memakan banyak korban. Penduduk yang sudah dalam kondisi lemas karena kurangnya bahan pangan lantas, diperparah terkena kolera yang menyebabkan begitu banyaknya warga yang meninggal dunia.
Setiap hari bahkan ada saja petani yang harus diangkat dari perkebunan lada dan kopi karena meninggal kelelahan dan menderita demam. Memasuki bulan November petugas pengawas menulis tentang demoralisasi total di kalangan pekerja pribuminya banyak di antara mereka terancam hidupnya dan hanya bisa mengandalkan makan akar - akaran dan daun-daunan.
Panen padi yang kurang memuaskan dan krisis dalam industri gula pribumi ikut memberi andil. Pada awal 1821, situasi semakin parah karena gagalnya panen di banyak tempat lantaran kemarau panjang yang tidak biasanya terjadi, sebagaimana dikutip dari buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro : 1785 - 1855" dari Peter Carey.
Baca juga: Cerita Pangeran Diponegoro Menolak Bantuan Nyai Roro Kidul di Gua Langse
Di Pacitan dilaporkan wabah kolera menyebabkan bahwa penduduknya terjangkit dan memakan banyak korban. Penduduk yang sudah dalam kondisi lemas karena kurangnya bahan pangan lantas, diperparah terkena kolera yang menyebabkan begitu banyaknya warga yang meninggal dunia.
Setiap hari bahkan ada saja petani yang harus diangkat dari perkebunan lada dan kopi karena meninggal kelelahan dan menderita demam. Memasuki bulan November petugas pengawas menulis tentang demoralisasi total di kalangan pekerja pribuminya banyak di antara mereka terancam hidupnya dan hanya bisa mengandalkan makan akar - akaran dan daun-daunan.
Lihat Juga :