Dokter Spesialis Paru: Dampak Perokok Aktif dan Pasif Sama Bahayanya
Selasa, 14 Juni 2022 - 00:07 WIB
loading...
A
A
A
Dokter Rudy Irawan mengatakan, dalam asap rokok, zat yang paling membahayakan bagi perokok adalah tar yang dihasilkan dari proses pembakaran zat kimia dan partikel padat (solid carbon) yang hanya dihasilkan saat rokok dibakar. Baca juga: Ini yang Bisa Dilakukan agar Lingkungan Rumah Bebas Asap Rokok
Rudy menjelaskan, ada lebih dari 7.000 macam senyawa kimia dalam tar. Sebagian di antaranya berbahaya terhadap kesehatan. "Dan setidaknya ada 250 zat di dalam batang rokok yang berbahaya, dan 69 jenis di antaranya diketahui bersifat karsinogenik, yaitu dapat menyebabkan kanker," ujarnya.
Lanjut Rudi, perokok aktif pada hakekatnya menghisap dua jenis zat utama. Yaitu asap pembakaran dari tar dan nikotin. Keduanya berbahaya, dan 'asap sampingan' yang paling berbahaya karena selain bisa terhirup manusia juga dapat hinggap di mana saja seperti baju, lengan, dll.
Untuk mengurangi dampak negatif dari rokok dan mengutamakan kemaslahatan masyarakat, lanjut dia, tradisi dan budaya merokok harus diubah.
Menurutnya, jika dilihat dari karakteristik dan perilakunya, upaya untuk mengatasi masalah rokok di Indonesia harus dilakukan berbagai pendekatan (pendekatan holistik) secara budaya, kesehatan, ekonomi, regulasi dan komunikasi.
Rudy menjelaskan, ada lebih dari 7.000 macam senyawa kimia dalam tar. Sebagian di antaranya berbahaya terhadap kesehatan. "Dan setidaknya ada 250 zat di dalam batang rokok yang berbahaya, dan 69 jenis di antaranya diketahui bersifat karsinogenik, yaitu dapat menyebabkan kanker," ujarnya.
Lanjut Rudi, perokok aktif pada hakekatnya menghisap dua jenis zat utama. Yaitu asap pembakaran dari tar dan nikotin. Keduanya berbahaya, dan 'asap sampingan' yang paling berbahaya karena selain bisa terhirup manusia juga dapat hinggap di mana saja seperti baju, lengan, dll.
Untuk mengurangi dampak negatif dari rokok dan mengutamakan kemaslahatan masyarakat, lanjut dia, tradisi dan budaya merokok harus diubah.
Menurutnya, jika dilihat dari karakteristik dan perilakunya, upaya untuk mengatasi masalah rokok di Indonesia harus dilakukan berbagai pendekatan (pendekatan holistik) secara budaya, kesehatan, ekonomi, regulasi dan komunikasi.
Lihat Juga :