Pemprov Jabar Pertimbangkan Stop Impor Alat Tes COVID-19
Rabu, 24 Juni 2020 - 10:23 WIB
loading...
A
A
A
"Untuk pelaksanan rapid test, kami menggunakan logistik dari berbagai sumber, salah satunya dari APBD melalui BTT (belanja tak terduga). Total anggaran yang dikeluarkan dari ABPD untuk pengendalian COVID-19 di Jabar sampai dengan BTT (tahap) 3 hampir Rp400 miliar," paparnya.
Lebih lanjut Berli mengatakan, tes COVID-19 penting dilakukan untuk memetakan persebaran COVID-19. Menurutnya, semakin banyak pelacakan dilakukan, maka bakal diperoleh data warga yang terpapar COVID-19.
"Dengan kecepatan kita melakukan pengetesan, ada penambahan kasus terkonfirmasi positif. Namun, banyak ditemukan kasus dengan gejala ringan, bahkan tanpa gejala. Ini akan lebih mudah ditangani ketimbang sudah bergejala berat," katanya.
Diketahui, dua alat pendeteksi COVID-19 yang dikembangkan peneliti Unpad dan ITB, yakni CePad (rapid test 2.0) dan SPR (surface plasmon resonance) sudah memasuki tahap validasi sampel SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Koordinator peneliti Fakultas MIPA Unpad, Muhammad Yusuf mengatakan, pihaknya bersama mitra industri sedang melengkapi fasilitas assembly rapid test dan produksi 5.000 unit pada Mei-Juni ini untuk keperluan validasi. Setelah validasi menunjukkan hasil yang baik, pihaknya menargetkan produksi 10.000 unit.
Kemudian, dilanjutkan 50.000 unit per bulan sesuai dengan kapasitas produksi mitra saat ini. Jika diperlukan lebih banyak, kata Yusuf, pihanya mengajak partisipasi berbagai pihak untuk meningkatkan kapasitas produksi tersebut.
Lebih lanjut Berli mengatakan, tes COVID-19 penting dilakukan untuk memetakan persebaran COVID-19. Menurutnya, semakin banyak pelacakan dilakukan, maka bakal diperoleh data warga yang terpapar COVID-19.
"Dengan kecepatan kita melakukan pengetesan, ada penambahan kasus terkonfirmasi positif. Namun, banyak ditemukan kasus dengan gejala ringan, bahkan tanpa gejala. Ini akan lebih mudah ditangani ketimbang sudah bergejala berat," katanya.
Diketahui, dua alat pendeteksi COVID-19 yang dikembangkan peneliti Unpad dan ITB, yakni CePad (rapid test 2.0) dan SPR (surface plasmon resonance) sudah memasuki tahap validasi sampel SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Koordinator peneliti Fakultas MIPA Unpad, Muhammad Yusuf mengatakan, pihaknya bersama mitra industri sedang melengkapi fasilitas assembly rapid test dan produksi 5.000 unit pada Mei-Juni ini untuk keperluan validasi. Setelah validasi menunjukkan hasil yang baik, pihaknya menargetkan produksi 10.000 unit.
Kemudian, dilanjutkan 50.000 unit per bulan sesuai dengan kapasitas produksi mitra saat ini. Jika diperlukan lebih banyak, kata Yusuf, pihanya mengajak partisipasi berbagai pihak untuk meningkatkan kapasitas produksi tersebut.
Lihat Juga :