Kisah Tarpan Suparman, Penarik Becak yang Sukses Jadi Dekan UBP Karawang
Kamis, 09 Juni 2022 - 01:28 WIB
loading...
A
A
A
"Saya cari kerja hingga ke Banten. Namun tidak ada satupun lowongan untuk saya," jelasnya.
Baca: Tasikmalaya Geger, Jasad Tukang Becak Dikira Korban Corona
Akhirnya dia kembali ke Karawang, namun tidak pulang ke rumah. Tarpan lebih memilih tinggal di rumah kawannya di Kota Karawang.
Dia berharap, tinggal di kota lebih berpeluang mendapat kerja. Setelah numpang di rumah temannya, namun pekerjaan tak kunjung didapat. "Hampir setiap sudut Kota Karawang saya datangi, tapi tidak juga dapat kerjaan," bebernya.
Setiap malam, dia melamun di depan rumah kawannya. Namun suatu malam, saat dia sedang di depan rumah melihat ke ujung jalan banyak becak parkir. Dia mendatangi pemilik pangkalan becak dan menanyakan apakah ada lowongan untuk menjadi penarik becak.
Baca: Komplotan 'Becak Hantu' Kembali Bobol Rumah di Kota Medan
Tidak disangka, ternyata ada satu becak yang nganggur. "Saya diterima jadi penarik becak, karena pemiliknya kenal dengan teman saya. Itu tahun 1990, saat saya jadi penarik becak," ungkapnya.
Esok harinya, Tarpan resmi menjadi penarik becak dan mangkal di Kelurahan Adiarsa.
"Saya harus bisa hidup sendiri, malu kelamaan numpang di rumah teman. Paling tidak bisa makan minum biaya sendiri," tandasnya.
Menurut Tarpan, jadi penarik becak pendapatanya lumayan untuk bertahan hidup. Setiap hari, dia dapat uang dari genjot becak antara Rp2.000 hingga Rp2.500 per hari. Setoran untuk pemilik becak Rp500, hingga perhari dia bisa mengantongi Rp2.000. "Cukup untuk makan minum saat itu," katanya.
Baca: Korban Dosen Cabul Unsri Bertambah 7 Orang, Termasuk Alumni
Baca: Tasikmalaya Geger, Jasad Tukang Becak Dikira Korban Corona
Akhirnya dia kembali ke Karawang, namun tidak pulang ke rumah. Tarpan lebih memilih tinggal di rumah kawannya di Kota Karawang.
Dia berharap, tinggal di kota lebih berpeluang mendapat kerja. Setelah numpang di rumah temannya, namun pekerjaan tak kunjung didapat. "Hampir setiap sudut Kota Karawang saya datangi, tapi tidak juga dapat kerjaan," bebernya.
Setiap malam, dia melamun di depan rumah kawannya. Namun suatu malam, saat dia sedang di depan rumah melihat ke ujung jalan banyak becak parkir. Dia mendatangi pemilik pangkalan becak dan menanyakan apakah ada lowongan untuk menjadi penarik becak.
Baca: Komplotan 'Becak Hantu' Kembali Bobol Rumah di Kota Medan
Tidak disangka, ternyata ada satu becak yang nganggur. "Saya diterima jadi penarik becak, karena pemiliknya kenal dengan teman saya. Itu tahun 1990, saat saya jadi penarik becak," ungkapnya.
Esok harinya, Tarpan resmi menjadi penarik becak dan mangkal di Kelurahan Adiarsa.
"Saya harus bisa hidup sendiri, malu kelamaan numpang di rumah teman. Paling tidak bisa makan minum biaya sendiri," tandasnya.
Menurut Tarpan, jadi penarik becak pendapatanya lumayan untuk bertahan hidup. Setiap hari, dia dapat uang dari genjot becak antara Rp2.000 hingga Rp2.500 per hari. Setoran untuk pemilik becak Rp500, hingga perhari dia bisa mengantongi Rp2.000. "Cukup untuk makan minum saat itu," katanya.
Baca: Korban Dosen Cabul Unsri Bertambah 7 Orang, Termasuk Alumni
Lihat Juga :