Dipati Ukur, Pemberontak Legendaris asal Priangan yang Ditumpas Raja Mataram
Selasa, 31 Mei 2022 - 05:02 WIB
loading...
A
A
A
Hermanus Johannes de Graaf, seorang sejarawan Belanda yang khusus menulis sejarah Jawa mencata, sebagai kawula yang posisinya paling dekat dengan Batavia, Priangan diikutsertakan dalam serangan ke Batavia.
“Setelah musibah di depan Batavia, terdapat cukup banyak alasan bagi raja untuk menjadi cemas. Pertama-tama rakyat Priangan melepaskan diri dari kekuasaan raja, karena sesal akan malapetaka di depan bentang Batavia yang banyak memakan korban," tulis De Graaf dalam buku 'Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspedisi Sultan Agung'.
Untuk menaklukkan Dipati Ukur dan pengikutnya, Sultan Agung membutuhkan waktu empat tahun lamanya, dari 1628-1632. Pasukan Mataram baru berhasil menaklukkan Dipati Ukur setelah mendapat bantuan dari pejabat Priangan.
Sebagai imbalan, para pejabat Priangan yang membantu pasukan Mataram itu kelak diangkat sebagai bupati dengan gelar Tumenggung. Salah satunya adalah Ki Astamanggala, Bupati Bandung pertama dengan gelar Tumenggung Wira Angun-angun.
Menariknya, sosok pemberontak legendaris ini dikisahkan dalam delapan versi, yakni versi Galuh, Sukapura, Sumedang, Bandung, Talaga, Banten, Mataram, dan Batavia. Dalam versi Galuh, Dipati Ukur ditonjolkan sebagai pemberontak Mataram yang layak ditumpas. Baca juga: Mataram 'Hadiahkan Sukapura' Karena Padamkan Pemberontakan Dipati Ukur
Disebutkan bahwa setelah berhasil ditangkap, Dipati Ukur dan 10.000 orang pengikutnya dihukum mati di Mataram. Versi Sukapura menyebut bahwa Dipati Ukur adalah pemberontak yang tidak berani bertanggung jawab.
“Setelah musibah di depan Batavia, terdapat cukup banyak alasan bagi raja untuk menjadi cemas. Pertama-tama rakyat Priangan melepaskan diri dari kekuasaan raja, karena sesal akan malapetaka di depan bentang Batavia yang banyak memakan korban," tulis De Graaf dalam buku 'Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspedisi Sultan Agung'.
Untuk menaklukkan Dipati Ukur dan pengikutnya, Sultan Agung membutuhkan waktu empat tahun lamanya, dari 1628-1632. Pasukan Mataram baru berhasil menaklukkan Dipati Ukur setelah mendapat bantuan dari pejabat Priangan.
Sebagai imbalan, para pejabat Priangan yang membantu pasukan Mataram itu kelak diangkat sebagai bupati dengan gelar Tumenggung. Salah satunya adalah Ki Astamanggala, Bupati Bandung pertama dengan gelar Tumenggung Wira Angun-angun.
Menariknya, sosok pemberontak legendaris ini dikisahkan dalam delapan versi, yakni versi Galuh, Sukapura, Sumedang, Bandung, Talaga, Banten, Mataram, dan Batavia. Dalam versi Galuh, Dipati Ukur ditonjolkan sebagai pemberontak Mataram yang layak ditumpas. Baca juga: Mataram 'Hadiahkan Sukapura' Karena Padamkan Pemberontakan Dipati Ukur
Disebutkan bahwa setelah berhasil ditangkap, Dipati Ukur dan 10.000 orang pengikutnya dihukum mati di Mataram. Versi Sukapura menyebut bahwa Dipati Ukur adalah pemberontak yang tidak berani bertanggung jawab.
Lihat Juga :