Heboh Konten Ramalan Nasib Eril, MUI Jabar: Jangan Diikuti, Haram!
Senin, 30 Mei 2022 - 08:27 WIB
loading...
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, menyoroti konten ramalan terkait nasib Emmeril Kahn Mumtadz atau Eril yang hilang terseret arus Sungai Aare di Bern, Swiss. SINDOnews/Agung
A
A
A
BANDUNG - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, menyoroti konten ramalan terkait nasib Emmeril Kahn Mumtadz atau Eril yang hilang terseret arus Sungai Aare di Bern, Swiss.
Ketua MUI Jabar, Rachmat Syafei berharap, masyarakat bersikap cerdas dan tak mempercayai ramalan para paranormal. Bahkan, Rachmat menyebut bahwa mendengarkan dan percaya ramalan haram.
"Kami juga mendengar banyak komentar yang tidak pada tempatnya. Statement paranormal itu jangan didengar lah. Paranormal itu kan dalam pandangan agama itu perdukunan, mengikuti pandangan, paranormal, dukun mendengarkan peramalan itu sudah dikeluarkan fatwa haram," tegas Rachmat dalam keterangannya, Senin (30/5/2022).
Rachmat pun berharap, masyarakat bisa ikut berempati dan tak memperkeruh situasi saat orang lain sedang mendapat musibah. Dia pun merasa ironis melihat fenomena hadirnya para peramal dan seolah diberi panggung dalam tiap musibah besar.
"Kepada masyarakat jangan memperkeruh suasana dengan mengomentari pendapat paranormal seolah membenarkan. Dalam suasana seperti ini kita prihatin karena perdukunan itu dihidupkan dalam tiap peristiwa. Para dukun diberi ruang untuk berstatement, padahal dalam pandangan agama perdukunan itu tidak boleh," paparnya.
Ketua MUI Jabar, Rachmat Syafei berharap, masyarakat bersikap cerdas dan tak mempercayai ramalan para paranormal. Bahkan, Rachmat menyebut bahwa mendengarkan dan percaya ramalan haram.
"Kami juga mendengar banyak komentar yang tidak pada tempatnya. Statement paranormal itu jangan didengar lah. Paranormal itu kan dalam pandangan agama itu perdukunan, mengikuti pandangan, paranormal, dukun mendengarkan peramalan itu sudah dikeluarkan fatwa haram," tegas Rachmat dalam keterangannya, Senin (30/5/2022).
Rachmat pun berharap, masyarakat bisa ikut berempati dan tak memperkeruh situasi saat orang lain sedang mendapat musibah. Dia pun merasa ironis melihat fenomena hadirnya para peramal dan seolah diberi panggung dalam tiap musibah besar.
"Kepada masyarakat jangan memperkeruh suasana dengan mengomentari pendapat paranormal seolah membenarkan. Dalam suasana seperti ini kita prihatin karena perdukunan itu dihidupkan dalam tiap peristiwa. Para dukun diberi ruang untuk berstatement, padahal dalam pandangan agama perdukunan itu tidak boleh," paparnya.
Lihat Juga :