Mantan Preman Kejam yang Mendadak Relijius Itu ...
Senin, 22 Juni 2020 - 06:20 WIB
loading...
John Kei saat ditangkap polisi dalam kasus pembunuhan Tan Harry Tantono pada 2012 silam. Foto/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Keluar masuk penjara seperti sudah menjadi asam garam bagi John Kei. Pembunuhan Tan Harry Tantono bukanlah kasus pertama yang membuatnya dipenjara. Dua tahun setelah hijrah dari Maluku Tenggara, tanah kelahirannya, ke ibu kota Jakarta, John Kei sudah berkenalan dengan penjara.
John Kei yang masih berusia 23 tahun pernah membunuh orang di tempatnya bekerja sebagai sekuriti, sebuah hostel dan kafe di Jalan Jaksa, Jakarta. Meskipun mengaku tak pernah berniat membunuh, John Kei menebas leher korbannya dengan parang. Itu dilakukan tak lama setelah pertengkarannya dengan korban didamaikan polisi.
(Baca: Kelompok Massa Bersenjata Tabrak Sekuriti dan Lakukan Perusakan di Tangerang)
John Kei yang ternyata tidak bisa menerima perdamaian itu pulang ke tempat tinggalnya untuk mengambil parang lalu kembali ke kafe dan berduel. "Di luar dugaan, parang pas kena leher, mati. Saya kejar mereka yang lain lari, saya hantam lagi kakinya," tutur John Kei dalam sebuah talk show di televisi swasta April tahun lalu soal peristiwa pada 12 Mei 1992 itu.
Sempat buron, John Kei akhirnya menyerahkan diri ke polisi dua pekan kemudian. Itulah untuk pertama kalinya pria yang tubuhnya penuh tato itu merasakan dinginnya penjara. Namun, di penjara John Kei yang kala itu mengaku tak menyesal selalu menjadi biang keributan kendati dipindahkan ke penjara lain.
John Kei yang masih berusia 23 tahun pernah membunuh orang di tempatnya bekerja sebagai sekuriti, sebuah hostel dan kafe di Jalan Jaksa, Jakarta. Meskipun mengaku tak pernah berniat membunuh, John Kei menebas leher korbannya dengan parang. Itu dilakukan tak lama setelah pertengkarannya dengan korban didamaikan polisi.
(Baca: Kelompok Massa Bersenjata Tabrak Sekuriti dan Lakukan Perusakan di Tangerang)
John Kei yang ternyata tidak bisa menerima perdamaian itu pulang ke tempat tinggalnya untuk mengambil parang lalu kembali ke kafe dan berduel. "Di luar dugaan, parang pas kena leher, mati. Saya kejar mereka yang lain lari, saya hantam lagi kakinya," tutur John Kei dalam sebuah talk show di televisi swasta April tahun lalu soal peristiwa pada 12 Mei 1992 itu.
Sempat buron, John Kei akhirnya menyerahkan diri ke polisi dua pekan kemudian. Itulah untuk pertama kalinya pria yang tubuhnya penuh tato itu merasakan dinginnya penjara. Namun, di penjara John Kei yang kala itu mengaku tak menyesal selalu menjadi biang keributan kendati dipindahkan ke penjara lain.
Lihat Juga :